
"De-Devan ...."
Renata menatap tak percaya pada pria di depannya itu. Ia sungguh sangat terkejut mendengar pengakuan Devan. Apa benar yang dikatakan oleh laki-laki itu?
Devan menghela napas panjang. Akan tetapi, pandangannya tak lepas dari wajah cantik di depannya. Perasaannya bergemuruh. Dadanya berdegup kencang. Sudah lama ia menahan perasaannya.
Devan tahu, mungkin waktunya tidak tepat, tetapi, melihat wajah Renata, ia sungguh tidak tahan untuk mengatakannya.
"Devan, kamu-"
Devan menganggukkan kepalanya.
"Aku mencintaimu. Aku jatuh cinta padamu, jauh sebelum kamu menikah dengan Bima," ulang Devan.
"Ta-tapi-"
Renata menatap bola mata cokelat milik Devan yang saat ini sedang menatapnya.
"Bagaimana mungkin?"
Kedua mata Renata masih tak lepas dari wajah tampan Devan. Pria itu tampak tersenyum melihat keterkejutannya.
"Bagaimana kamu bisa jatuh cinta padaku sebelum aku menikah dengan dia sementara kita saja tidak pernah bertemu?"
Devan mempererat genggaman tangannya. Laki-laki itu kemudian mendekatkan bibirnya mengecup pelan punggung tangan Renata.
Renata sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Devan. Wajah cantiknya merona.
"Aku sudah lama mencarimu, Ren. Selama bertahun-tahun aku mencarimu. Namun, aku harus menelan kecewa karena saat bertemu denganmu lagi, ternyata kamu sudah ada yang punya. Bukan hanya itu saja, aku sangat terkejut saat aku tahu kalau ternyata kamu sudah menikah." Devan menatap Renata yang tampak terkejut.
"Parahnya lagi, aku baru tahu kalau ternyata suamimu adalah sahabatku semasa SMA, Abimanyu." Devan menghela napas panjang. Sementara Renata tampak terkejut mendengar penuturan Devan.
"Tapi bagaimana bisa? Bukankah kita baru bertemu setelah aku masuk rumah sakit?" ucap Renata.
"Kita bertemu saat aku ke rumah kamu. Apa kau lupa?" Devan mengusap rambut Renata.
__ADS_1
"Oh iya, aku lupa. Waktu itu kau buru-buru pulang karena harus segera ke rumah sakit. Benar bukan?"
Devan mengangguk sambil tersenyum. Namun, detik berikutnya wajahnya berubah sendu.
"Saat itu aku sangat kaget karena ternyata kamu adalah istrinya Bima. Apa kamu tahu, aku bahkan baru saja merasakan bahagia karena saat itu setelah bertahun-tahun aku mencari keberadaanmu, Tuhan kembali mempertemukan aku denganmu. Akan tetapi, aku harus menelan kecewa karena ternyata orang yang aku cari itu sudah ada yang memiliki."
"Maksud kamu?"
"Aku adalah pelanggan kamu di kafe milik Kenzo dan Alea."
"Benarkah?" Wajah cantik Renata kembali terkejut, membuat Devan kembali mengulas senyum. Tangannya bergerak membelai wajah perempuan itu.
"Aku sering memperhatikan kamu di pojok ruangan. Aku selalu duduk di sana sampai kafe tutup hanya demi bisa melihatmu."
"Hah?"
Devan tertawa melihat Renata.
"Kamu benar-benar menggemaskan." Devan tertawa saat melihat Renata membuka mulutnya karena terkejut mendengar ucapannya.
"Aku mana sempat mengikutimu. Kerjaan aku di rumah sakit sangat padat."
"Tapi kamu bilang kamu sering ke kafe."
"Aku datang ke kafe saat aku pulang dari rumah sakit."
Renata mengangguk mengerti. Perempuan itu mencoba mengingat-ingat para pelanggan yang sering nongkrong di dalam kafe sampai jam buka kafe itu berakhir.
"Kamu tidak akan mengingat aku, karena aku sengaja tidak ingin dilayani sama kamu saat aku datang ke sana." Devan tersenyum kecil.
"Kenapa begitu?" Renata merasa heran sekaligus penasaran.
"Aku takut pingsan." Devan tertawa, sementara Renata kembali membuka mulutnya.
"Hah?"
__ADS_1
"Apa kamu tahu? Jantungku berdetak kencang saat aku melihatmu walaupun dari jarak yang lumayan jauh."
Renata menatap tak percaya.
"Dari jauh saja jantungku serasa mau loncat, apalagi kalau aku berdekatan denganmu," lanjut Devan.
"Tapi nggak mungkin pingsan juga kali." Renata mengerucutkan bibirnya. Sementara Devan tertawa kecil.
"Iya juga sih-"
"Hiperbola." Renata menatap wajah Devan yang terlihat sangat tampan saat tertawa. Dokter muda itu biasanya sangat pendiam dan terkesan dingin. Namun, saat ini Renata bahkan berkali-kali melihat pria itu tertawa.
Devan menempelkan tangan Renata yang ia genggam ke dadanya.
"Rasakan dan coba dengarkan sendiri." Devan menatap Renata yang wajahnya kini terlihat merona.
"Apa sekarang kau merasakannya?"
Renata merasakan detak jantung Devan yang berdetak dengan cepat, padahal pria itu tidak sedang tidak melakukan apa pun kecuali menggenggam tangannya.
Renata memajukan wajahnya, kemudian menempelkan daun telinganya ke dada bidang laki-laki di depannya itu.
Renata benar-benar melakukan apa yang diperintahkan Devan, membuat laki-laki itu tersenyum.
"Apa kamu mendengarnya?" Devan meraih tubuh Renata kemudian memeluknya. Membiarkan Renata mendengar irama detak jantungnya yang menggila saat berdekatan dengan perempuan yang sudah lama dicintainya itu.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku." Renata memejamkan matanya mendengar detak jantung Devan yang tak beraturan.
Ada perasaan aneh yang mengalir ke ruang hatinya. Rasa nyaman yang belum pernah ia dapatkan dari siapa pun. Termasuk dari orang yang dulu pernah dicintainya.
Renata mendongakkan wajahnya. Menatap dalam-dalam ke arah Devan yang kini juga sedang menatapnya.
"Sejak kapan kamu mulai jatuh cinta padaku?"
Bersambung ....
__ADS_1