MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 61 LEPASKAN DIA


__ADS_3

"Apa maksud ucapanmu, Renata? Shinta datang ke rumahmu dan mengancammu?" Bima menatap tajam perempuan di depannya itu dengan tak percaya.


"Kenapa? Tuan tidak percaya?"


"Sudah aku duga, Tuan pasti tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan."


Renata memang benar. Shinta memang kemarin datang ke rumah dan mengancamnya. Perempuan hamil itu memintanya agar segera bercerai dan menjauh dari kehidupan Bima.


Renata yang tidak suka ditindas, melawan perempuan itu saat Shinta mencoba memukulnya.


"Shinta perempuan baik, tidak mungkin dia datang padamu apalagi mengancam kalian berdua!" Mendengar Renata menjelekkan Shinta, emosi Bima langsung naik.


"Kalau begitu, hiduplah bahagia bersama dia dan setujui gugatan ceraiku dan kita berpisah. Gampang bukan?"


"Renata-"


Suara ketukan pintu menghentikan perdebatan mereka berdua. Devan tersenyum saat membuka pintu dan mendapati Bima berada di sana. Laki-laki itu mencoba menahan ketika rasa cemburu menyelinap di relung hatinya.


Kenapa juga aku memiliki perasaan pada perempuan yang sudah jadi milik orang.


Devan menghela napas. Menetralkan perasaannya. Wajahnya memang tersenyum, tetapi hatinya terasa panas saat melihat Bima yang berada begitu dekat dengan Renata.


"Bisakah kau menyingkir sebentar, Bim? Aku akan memeriksa istrimu."


Meskipun tidak senang, Bima mengangguk kemudian beranjak dari hadapan Renata. Pria itu berdiri tidak jauh dari Devan.


"Apa yang kau rasakan sekarang?"


"Hanya sedikit pusing, Dok."


"Kamu tidak boleh stres, banyak istirahat agar cepat pulih." Devan tersenyum saat Renata mencoba mengingatkan dengan isyarat matanya.

__ADS_1


"Kamu bisa istirahat di sini sebentar lagi. Setelah itu kamu boleh pulang."


"Terima kasih, Dokter."


Devan mengangguk. "Ingat, tidak boleh stres dan beristirahatlah yang cukup."


"Baik, Dokter."


Devan mengulas senyum. Pandangannya beralih ke arah Bima yang terlihat kesal.


"Jaga istrimu baik-baik dan suruh dia istirahat yang cukup agar tidak kelelahan." Bima mengangguk.


"Terima kasih, Dev." Devan tersenyum sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamar itu. Setelah Devan keluar, Bi Yati dan Aldrian masuk.


Kedua orang itu mendekati Renata yang masih terlihat pucat.


Bi Yati membelai rambut Renata. Wajah tuanya terlihat sangat khawatir.


"Ibu senang karena kau baik-baik saja." Bi Yati menatap Renata. Mata tuanya terlihat sendu. Perempuan paruh baya itu tahu, kalau ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh sang putri.


Namun, ia tidak memaksa Renata untuk menceritakannya sekarang. Apalagi, saat ini ada dua pria di samping mereka.


"Kata dokter, Renata sudah boleh pulang hari ini, Bu. Ibu tenang saja." Suara Bima membuat Bu Yati menengok ke arahnya.


"Renata boleh pulang dan beristirahat di rumah," lanjut Bima.


"Syukurlah kalau begitu. Ibu senang mendengarnya."


"Dia hanya kelelahan, ibu jangan khawatir." Bima menepuk pundak mertuanya.


Aldrian menatap iba pada Renata. Kekhawatirannya menghilang saat mendengar penjelasan Bima.

__ADS_1


Laki-laki itu mendekati Renata kemudian menggenggam tangan Renata, membuat Bima mengeraskan rahangnya.


"Kau harus istirahat dan jaga dirimu baik-baik. Jangan terlalu memikirkan urusan perceraianmu, biar saja pengacaramu yang mengurus. Kau tidak perlu khawatir." Renata mengangguk sambil memaksakan senyum.


Sementara Bima sudah terbakar emosi mendengar ucapan Aldrian.


"Aku pergi dulu karena ada pekerjaan yang harus aku urus. Kau bisa menyuruh calon mantan suamimu itu untuk mengantarkan kamu pulang." Renata tersenyum mendengar ucapan Aldrian. Sementara wajah Bima merah padam.


"Aldrian! Bisakah kau tidak membahas masalah ini di sini? Kau sangat tahu kalau Renata tidak boleh stres-"


"Dia stres karena dirimu." Aldrian menatap Bima dengan kesal.


"Apa maksudmu?" Bima merasa tidak terima.


"Bim, kalau aku jadi kamu, daripada kamu terus membuat Renata stres dan sakit hati, mending kamu cepat melepaskan dia. Jangan persulit dia. Renata pantas bahagia."


"Dia berhak bahagia bersama dengan orang yang dia inginkan seperti kau yang saat ini sudah bahagia bersama Shinta."


Bima mengepalkan tangannya, sementara Aldrian menepuk pundak sepupunya itu.


"Jaga dia dan antarkan dia pulang ke rumahnya. Aku pergi dulu."


"Ingat semua kata-kataku, Bima, sebelum kau menyesal karena terus memberikan luka pada Renata."


Aldrian keluar dari kamar setelah berpamitan pada Renata dan Bi Yati. Saat Aldrian baru saja sampai di luar, pandangannya tak sengaja melihat objek yang sangat ia kenal.


Di depan sana, terlihat Shinta dan Panji sedang berjalan bergandengan. Kedua orang itu tersenyum penuh kebahagiaan. Panji bahkan sesekali mengusap perut Shinta yang membuncit.


Bersambung ....


Kepoin juga karya temen Author yang satu ini yuk!

__ADS_1



__ADS_2