MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 87 AKU MOHON ....


__ADS_3

"Jadi, Renata adalah gadis yang dulu pernah menolongmu saat kecelakaan yang sampai saat ini kamu cari?" Devan menganggukkan kepalanya.


"Dia juga perempuan yang membuatmu menutup hatimu untuk wanita lain?" Devan kembali mengangguk, membuat Aldrian semakin tidak percaya.


Bagaimana bisa? Setelah bertahun-tahun Devan mencari Dewi penolong yang membuatnya jatuh cinta ternyata Dewi penolongnya itu adalah Renata?


"Huh! Ternyata dunia ini begitu sempit." Aldrian menatap Devan yang kini mengembuskan napas panjang. Wajah tampannya berubah sendu.


"Aku tidak tahu mau ngomong apa setelah tahu kenyataan ini. Aku yakin, jika dia memang jodohmu, dia pasti akan bersamamu meskipun saat ini dia sedang bersama Bima."


"Aku tidak mau merusak hubungan mereka."


"Hubungan mereka sudah rusak sebelum kau datang," tukas Aldrian.


"Mereka belum bercerai, Aldrian. Aku tidak mau jadi pebinor. Apalagi pebinor sahabat sendiri." Devan menepuk bahu Aldrian.


"Jangan mengatakan apa pun pada Bima. Apalagi tentang masalah ini. Aku tidak mau Bima salah paham."


"Tentu saja bodoh! Tapi kalau aku bisa memilih di antara kalian berdua. Aku jelas memilihmu." Aldrian menatap Devan yang terlihat tertawa.


"Dasar saudara nggak ada akhlak. Kau ingin aku merebut istri saudara sepupumu?"


"Daripada aku yang merebut Renata dari Bima, mendingan kamu saja yang merebutnya. Aku yakin, kamu bisa membahagiakan Renata karena kamu sudah lama mencintainya." Aldrian menatap Devan dengan serius.


"Aku bisa saja merebut Renata dari Bima, karena terus terang, aku sangat menyayangi perempuan itu. Aku menyukai Renata, jauh sebelum Tante Erika memutuskan menikahkan Renata dengan Bima. Namun, aku tidak mungkin merebut perempuan itu dari Bima. Selain karena Bima adalah saudaraku, aku juga tidak bisa meninggalkan Vanya. Aku sudah nyaman bersamanya."


Devan tertawa mendengar ucapan Aldrian yang sok bijak.


"Jadi sekarang kau sudah insyaf menjadi pemain wanita?"


"Aku sudah berhenti semenjak tinggal bersama Vanya. Entah apa yang dia pakai sampai-sampai aku tidak bisa bermain dengan perempuan lain selain dia."


Suara tawa Devan semakin keras mendengar ucapan Aldrian.


"Mungkin Vanya pake pelet. Atau, mungkin saja kamu kena kutukan, jadi kakak tuamu itu tidak bangun jika berhadapan dengan wanita lain selain Vanya."

__ADS_1


"Brengsek!"


Mereka berdua tertawa bersama. Sejenak melupakan tentang Renata yang semenjak berada di rumah sakit membuat jantung mereka naik turun.


Kedua laki-laki itu memang sama-sama mencintai Renata. Akan tetapi, mereka sangat sadar dan tahu diri kalau Renata saat ini adalah milik Bima.


Meskipun Bima bukanlah orang yang bisa membahagiakan Renata saat ini, tapi mereka berdua tidak ingin melakukan sesuatu yang nantinya akan merusak persahabatan mereka.


Dua pria yang sama-sama tampan dan menarik perhatian itu sama-sama mencintai Renata, hanya saja, mereka mencintai Renata dengan cara yang berbeda.


***


Renata sampai di rumahnya. Perempuan itu menolak mentah-mentah keinginan Bima untuk tinggal di rumah besar keluarga Abimanyu.


Tidak ingin membuat Renata dan kedua adik iparnya kesal, Bima pun akhirnya menuruti keinginan Renata.


Pria itu tetap mengikuti Renata sampai ke rumahnya. Bima bahkan tetap ngotot untuk tinggal di sana meskipun Renata dan kedua adiknya mengusirnya.


"Renata. Kamu makan dulu. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu." Bima membawa nampan berisi makanan yang ia masak, khusus untuk Renata.


"Kau belum makan semenjak pulang dari rumah sakit," lanjut Bima. Namun, tak sedikit pun mendapat jawaban dari perempuan yang saat ini sedang duduk di atas kursi roda menghadap jendela kamar.


"Ren-"


"Jangan mendekat!" teriak Renata tanpa melihat ke arah laki-laki itu.


Renata sungguh lelah. Ia tidak tahu bagaimana caranya agar laki-laki itu mengerti kalau saat ini dirinya benar-benar tidak ingin bertemu dengan Bima. Apalagi melihat wajahnya.


Tidak bisakah pria itu memahaminya sedikit saja?


"Aku tidak ingin makan. Aku belum lapar."


"Kamu belum makan, Ren. Dari semenjak pulang dari rumah sakit kamu belum makan apapun."


"Aku tidak lapar."

__ADS_1


"Kamu jangan keras kepala, Ren. Kamu harus makan."


Mendengar ucapan Bima, emosi Renata mulai tersulut.


"Keras kepala kau bilang?"


"Aku sudah bilang, aku tidak ingin bertemu denganmu, aku tidak ingin melihat wajahmu, tapi kenapa kau tidak mengerti juga?"


"Ren, aku hanya ingin merawatmu sampai kau sembuh. Aku-"


"Aku tidak akan sembuh jika aku masih bersamamu."


"Renata-"


"Pergi!"


Bima menatap Renata dengan kedua mata berkaca-kaca, apalagi saat melihat kebencian di mata perempuan itu.


"Aku tidak akan pergi sebelum kamu makan."


"Kalau begitu, biar aku yang pergi."


"Renata ...."


"Tuan, tidak bisakah Tuan mengerti perasaanku sedikit saja?"


"Aku benar-benar tidak ingin melihatmu. Aku tidak ingin bertemu denganmu, aku tidak ingin berbicara denganmu, karena aku membencimu!"


"Renata ...."


"Aku mohon ... pergi dari sini dan tinggalkan aku sendiri. Aku mohon ...." Melihat air mata Renata. Jantung Bima seolah ditarik dari tempatnya.


Pria itu kemudian berlutut di depan Renata. Bima menangis di hadapan perempuan itu.


"Renata, aku tahu, kau sangat membenciku dan tidak bisa memaafkan semua kesalahanku, tapi aku mohon, izinkan aku berada di sampingmu untuk merawatmu dan menebus semua kesalahanku padamu. Aku mohon ...."

__ADS_1


.


Bersambung ....


__ADS_2