MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 112 KAU TIDAK MEREBUTNYA DARI BIMA


__ADS_3

Sementara, tidak jauh dari mereka, Aldrian dan Devan sama-sama menarik napas panjang.


"Kenapa dia begitu keras kepala?" Aldrian menatap kesal pada sepupunya.


"Bukan Bima namanya kalau dia tidak keras kepala."


"Kau benar, Dev. Dia memang kepala batu dan menyebalkan. Tapi melihat dia seperti itu, aku merasa kasihan, Dev."


"Sama."


"Tapi, saat aku mengingat perlakuan jahatnya dulu sama Renata, aku rasa apa yang Bima dapatkan saat ini sangat setimpal dengan apa yang dia lakukan di masa lalu."


"Seharusnya, dulu dia tetap bersikap baik pada Renata meskipun dia tidak menyukainya. Toh! Dulu Renata sama-sama korban. Korban keegoisan Tante Erika yang memaksa mereka menikah padahal mereka bukanlah dua orang yang saling mencintai."


"Kamu benar, Dev, seandainya dia bisa bersikap lembut dan mengatakan dengan baik-baik kalau dia mencintai perempuan lain, Renata juga pasti akan mengerti. Renata bukanlah tipe orang yang ambisius akan harta. Dia juga pasti akan mengerti meskipun saat itu sebenarnya dia sudah mempunyai rasa cinta pada Bima."


Ucapan Aldrian membuat Devan menengok ke arah Aldrian.


"Renata mencintai Bima saat menikah dengannya?"


"Renata telah jatuh cinta pada Bima sebelum pernikahan itu terjadi. Dia jatuh cinta pada Bima yang saat itu masih menjadi majikannya." Aldrian menepuk bahu Devan yang tampak terkejut.


"Renata sangat mencintai Bima saat itu, karena itu dia mencoba bertahan, siapa tahu suatu saat Bima bisa berubah. Namun, perlakuan dan sikap Bima yang selalu kasar padanya membuat dia tidak tahan."


"Apalagi, saat Bima menikah lagi. Pria brengsek itu mengancam akan menghancurkan keluarga Renata seandainya Renata membocorkan tentang pernikahan mereka pada Shinta dan keluarganya," lanjut Bima yang sontak membuat Devan merasa terkejut.


"Bima sampai mengancam Renata seperti itu?"


Aldrian mengangguk sebagai jawaban.


"Pantas saja Renata begitu membenci Bima. Laki-laki kepala batu itu sudah menggoreskan luka yang teramat dalam. Apalagi, saat Renata harus kehilangan calon bayi juga ibunya meninggal akibat kecelakaan. Di tambah lagi, saat ini dirinya bahkan belum sembuh total akibat kecelakaan itu."


"Kecelakaan itu memang sudah takdir Tuhan, Renata hanya belum bisa menerima kenyataan itu sepenuhnya karena rasa sakit yang dia rasakan," ucap Aldrian.

__ADS_1


"Kamu benar, Al. Dadaku rasanya sangat sesak membayangkan bagaimana seandainya aku berada dalam posisi Renata. Aku yakin, aku tidak akan sanggup untuk memaafkan Bima dengan mudah." Devan menarik napas dalam-dalam ketika rasa sakit berdenyut di relung hatinya yang paling dalam.


"Apa kamu benar-benar mencintainya?" Devan menoleh ke arah Aldrian.


"Aku sangat mencintainya. Tapi aku tidak mungkin merebut dia dari Bima. Bima sangat mencintai Renata, aku tidak mau gara-gara ini, persahabatan kita menjadi rusak."


"Kau tidak merebutnya dari Bima karena hubungan mereka sudah lama berakhir, Dev."


"Tapi, Al, Bima sangat mencintai Renata, aku-"


"Masalahnya Renata sudah tidak mencintai Bima lagi. Perempuan itu membencinya. Renata hanya akan semakin terluka seandainya terus bersama Bima."


"Dari mana kamu tahu kalau Renata sudah tidak mencintai Bima?" Devan menatap Aldrian dengan penasaran. Sementara Aldrian memukul kepala Devan membuat pria itu terkejut.


"Dasar bodoh!" umpat Aldrian.


"Apa maksudmu? Kalau aku bodoh, aku tidak mungkin menjadi dokter."


"Heh! Jaga bicaramu." Devan melotot kesal pada Aldrian.


Sementara Aldrian tersenyum tipis.


'Dasar dokter bodoh! Kau bahkan tidak menyadari kalau Renata diam-diam memperhatikanmu.'


Aldrian menghembuskan napas panjang. Ia menatap Devan yang kembali memperhatikan Renata dan Bima yang masih mengobrol di sana.


Devan memang terlalu polos dalam percintaan. Pria itu tidak pernah pacaran meskipun banyak gadis-gadis yang mengejarnya.


Dia bahkan tidak pernah jatuh cinta kecuali pada gadis penolong yang sudah dicarinya selama bertahun-tahun. Namun, sepertinya takdir memang sedang berpihak pada Devan.


Setelah bertahun-tahun dia mencari gadis yang pernah menolongnya waktu itu, takdir akhirnya mempertemukannya dengan Renata.


Renata, yang ternyata adalah gadis penolong yang selama ini dicarinya dan membuatnya jatuh cinta untuk pertama kali.

__ADS_1


Meskipun takdir ternyata tidak seindah yang Devan bayangkan saat bertemu dengan Renata. Namun, Devan selalu mengatakan pada Aldrian. Dia akan bahagia seandainya Renata bahagia.


"Cinta itu tidak harus memiliki. Bisa melihat dia tersenyum bahagia saja, aku sudah bahagia."


Ucapan Devan yang sering pria itu ucapkan setiap kali dia membahas tentang Renata.


"Kau memang benar-benar bodoh, Dev. Sampai kapan kau hanya akan melihatnya dari jauh. Tidakkah kau ingin berjuang untuk mendapatkannya?"


"Jika dia memang takdirku, suatu saat, dia pasti akan menjadi milikku."


Aldrian berdecak kesal.


"Terserah dirimu saja." Aldrian bangkit dari duduknya.


"Kamu mau ke mana?"


"Aku mau ke villa sebelah. Vanya sudah menungguku."


"Villa sebelah? Vanya?"


"Aku sudah beberapa hari ini menyewa villa itu. Kami sedang berbulan madu."


"Apa?"


"Heh, sejak kapan kau menikah dengan Vanya?" Devan melotot mendengar ucapan Aldrian.


"Kenapa kau tidak mengatakan padaku kalau kalian sudah menikah?"


"Siapa bilang aku sudah menikah? Memangnya bulan madu itu hanya untuk orang yang sudah menikah saja?"


"Hah?"


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2