MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 115 PERASAAN RENATA


__ADS_3

Cinta itu tidak harus memiliki. Seperti Renata yang sangat mencintai Bima, tetapi dia tidak bisa memilikinya karena Bima mencintai perempuan lain.


Demi memenuhi wasiat majikannya, Renata mencoba bertahan, meskipun hatinya sakit karena dia harus menerima kenyataan saat Bima, yang saat itu sudah sah menjadi suaminya harus menikah lagi dengan perempuan yang sangat dicintainya.


Renata menerima pernikahan itu dengan lapang dada karena dia tahu, Bima memang mencintai dan sudah lama menjalin hubungan dengan perempuan itu.


Namun, sikap Bima yang seolah menyalahkannya juga sang ibu membuat Renata yang pada dasarnya bukanlah perempuan yang suka ditindas, akhirnya menyerah, kemudian mencoba melepaskan diri dari Bima.


Bukan hanya itu, sikap Bima yang seringkali bersikap kasar dan pemarah membuatnya jengah dan akhirnya memilih meninggalkan pria itu.


Akan tetapi, ternyata takdir berkata lain. Gara-gara ulah Panji, Renata yang berniat menjadi janda tetapi masih perawan, akhirnya gagal karena ulah Panji yang ingin mencelakainya dengan memberikan obat perangsang. Obat yang membuat Renata dan Bima harus berakhir di atas ranjang


Semenjak saat itu, Bima yang tadinya bersikap kasar dan tidak mau menerimanya sebagai istri justru mulai mendekatinya. Namun, rasa sakit hati karena sikap kasar dan keegoisan Bima, membuat Renata tetap mantap ingin bercerai dari Bima.


Bima yang tanpa dia sadari sudah mulai mencintai Renata, merasa tidak terima dengan keputusan perempuan itu. Apalagi, saat dia melihat Renata begitu dekat dengan Aldrian, sang sepupu yang pernah menggoreskan luka di hatinya.


Namun, ternyata takdir berkata lain. Saat proses perceraian sedang berlangsung, Renata justru mendapati kenyataan kalau dirinya sedang hamil anaknya Bima.


Belum berhenti keterkejutannya karena malam panasnya bersama Bima ternyata menghasilkan janin yang saat itu tumbuh di dalam perutnya, Renata harus dikagetkan dengan kejadian tragis yang akhirnya menyebabkan sang calon bayi yang baru diketahui bersemayam di dalam rahimnya itu meninggal dunia.

__ADS_1


Bukan hanya itu, kesakitannya semakin bertambah saat dia harus menghadapi kenyataan kalau ternyata sang ibu meninggal dunia akibat kecelakaan itu.


Gara-gara Bima membela perempuan yang dicintainya itu tanpa mendengar penjelasan ibunya, perempuan yang sudah melahirkannya itu meninggal dunia, begitupun dengan janin yang saat itu sedang dikandungnya.


Tak hanya itu, dirinya pun kini harus menanggung beban dan penderitaan karena sudah lebih dari setahun ini dirinya terpaksa menggunakan kursi roda karena kedua kakinya tidak bisa digerakkan alias lumpuh akibat kecelakaan saat itu.


Takdir?


Memang benar, itu adalah takdir yang sudah digariskan Tuhan untuknya. Akan tetapi, Renata adalah wanita biasa, yang punya perasaan sakit dan kecewa.


Jadi, salahkah Renata jika dia membenci pria itu? Setelah semua yang Bima lakukan padanya, salahkah jika saat ini dia merasa sakit hati dan terluka karena perbuatan pria itu?


Semenjak di rumah sakit, Renata terus menolak bertemu dengan Bima meskipun pria itu berkali-kali meminta maaf dan menyesali perbuatannya.


Rasa sakit yang dia rasakan membuat hati Renata mati rasa. Hatinya bahkan tidak tersentuh sama sekali meskipun dia melihat laki-laki itu menangis di hadapannya.


"Aku ingin menjauh darimu. Aku ingin menyembuhkan luka yang masih tersisa dalam hatiku. Aku ingin ...." Air mata Renata akhirnya terjatuh membasahi pipinya.


"Aku ingin bahagia, Tuan."

__ADS_1


"Renata ...."


"Dulu ... Tuan adalah pusat duniaku. Dengan melihatmu setiap hari di rumah besar itu, hatiku sangat bahagia. Aku jatuh cinta padamu bahkan saat aku baru beberapa bulan tinggal di rumah besar itu." Renata menangis, mengakui semua perasaannya terhadap Bima. Perasaan yang sedari dulu dia simpan rapat-rapat.


Memang benar, semua bukanlah kesalahan Bima karena pria itu tidak pernah mencintainya. Bukan kesalahan Bima seandainya dia merasa sakit hati karena Bima hanya mencintai Shinta dan tidak pernah tahu tentang perasaannya.


Semuanya memang bukan kesalahan Bima. Mereka adalah korban keegoisan Nyonya Erika yang menginginkan putranya menikah dengan perempuan yang tulus, bukan seperti Shinta yang hanya menginginkan hartanya.


Demi menyelamatkan harta yang dia punya, Nyonya Erika dengan begitu egois mengorbankan dirinya. Namun, seandainya saja Bima bisa bersikap baik sedikit saja kepadanya, mungkin dia juga akan mengerti, karena pada awalnya, Renata memang berniat menyimpan cinta itu untuk dirinya sendiri.


Akan tetapi, sikap egois, keras kepala dan kata-kata Bima yang seringkali berkata kasar penuh kebencian padanya, menyisakan luka yang merobek hatinya.


Tuan Bima, dulu aku memang sangat mencintaimu, tapi saat ini, rasa sakit hatiku melebihi rasa cinta yang aku punya untukmu. Meskipun sudah bertahun-tahun, tetapi rasa sakit ini masih terasa.


"Renata ...." Suara Bima bergetar merasakan sesak di dadanya. Rasa sakit mengalir ke jantungnya saat mendengar pengakuan Renata.


Bima tersenyum getir saat dia mengingat betapa jahatnya dia pada Renata dari awal pernikahan sampai akhirnya perempuan itu memutuskan untuk bercerai dengannya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2