
Bima melepaskan tangannya yang mencengkram kerah baju Panji. Jantungnya serasa diremas-remas saat menghadapi kenyataan kalau perempuan yang dicintainya selama ini ternyata tidak sebaik yang dia bayangkan.
Shinta, perempuan yang selama ini membuatnya tergila-gila hingga ia rela melakukan apa pun untuknya ternyata tidak lebih hanya seorang perempuan murahan yang bahkan dengan tidak tahu malu menyewa jasa laki-laki berondong seumuran Panji.
Sialan! Berarti selama ini aku sudah ditipu mentah-mentah oleh Shinta. Kenapa selama ini aku begitu bodoh?
"Apa sekarang kau merasa kecewa karena ternyata Shinta tidaklah sebaik yang kau bayangkan?"
"Aku yakin saat ini kau pasti sangat menyesal karena kau sudah menyia-nyiakan perempuan sebaik Renata hanya demi perempuan seperti Shinta. Kau benar-benar bodoh, Bima!" Panji masih tertawa mengejek.
"Sayangnya, dulu aku belum sempat mencicipi Renata. Kalau saja saat itu Aldrian dan Kenzo tidak datang, gadis cantik itu pasti sudah jatuh ke pelukanku. Padahal, aku sudah memberikan takaran obat yang pas agar Renata bertekuk lutut padaku." Bima kembali mengeraskan rahangnya mendengar ucapan Panji.
"Tapi sayang, semua usahaku sia-sia karena aku gagal menikmati tubuhnya. Aku yang usaha, orang lain yang menikmatinya. Kau harusnya berterima kasih padaku, Bima. Aku yakin, malam itu kau pasti menikmati tubuh Renata dengan puas."
Sebuah pukulan kembali mendarat di wajah Panji. Semua kata-kata yang keluar dari mulut pria itu menyulut emosi Bima.
"Laki-laki brengsek! Sekali lagi kau berani menyentuhnya, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu!"
Mendengar nama Renata, Bima baru ingat kalau saat ini ia menitipkan Renata pada Aldrian. Bima mendorong tubuh Panji, kemudian bergegas meninggalkan pria itu.
"Dengar, Brengsek! Aku pastikan kalian berdua akan menyesal karena telah berani menipuku!" teriak Bima sebelum meninggalkan Panji yang meringis kesakitan akibat pukulannya.
__ADS_1
***
Renata kembali tenang karena pengaruh obat yang diberikan oleh Devan. Perempuan itu kembali tertidur setelah sedari tadi menangis sedih.
Aldrian duduk di sofa sambil meremas rambutnya. Pria itu terlihat sangat kacau. Devan mendekati pria itu setelah dua perawat yang membantunya keluar dari ruangan.
"Sepertinya kau sangat khawatir dengan Renata. Apa kau menyukainya?" ucap Devan sambil menatap Aldrian yang terlihat begitu kacau. Pria itu bahkan sudah menyiapkan hatinya seandainya Aldrian mengatakan sesuatu yang akan membuatnya patah hati.
"Aku tidak tahu perasaan apa yang kumiliki untuk dia." Netranya menatap Renata yang terbaring di atas ranjang.
"Aku sangat peduli padanya. Aku bahagia saat melihat dia tersenyum bahagia, aku sedih saat melihat dia menangis. Aku menyayanginya, hatiku sangat sakit saat melihatnya hancur seperti itu."
"Apa kau mencintainya?" Devan menatap pria yang sampai kini masih menjadi sahabatnya meskipun mereka jarang bertemu karena sama-sama sibuk dengan pekerjaan mereka.
"Lalu?"
"Entahlah!" Aldrian menggeleng pelan.
"Kenapa sampai saat ini kau masih bersama Vanya? Bukankah kau bilang kau tidak pernah mencintainya?"
"Aku sangat nyaman tinggal bersamanya. Aku sudah mencoba berkali-kali meninggalkan dia, tapi ujung-ujungnya aku selalu tidak tahan jika tidak bersamanya."
__ADS_1
"Itu tandanya kau mulai mencintainya, hanya saja kau tidak menyadarinya. Apalagi, kalian sudah bertahun-tahun tinggal bersama dia."
"Kau benar. Apa kau tahu? dia satu-satunya perempuan yang aku sentuh semenjak aku memutuskan untuk tinggal bersamanya." Aldrian menatap Devan sambil tersenyum.
"Jadi, perasaan apa yang sebenarnya kau punya untuk Renata?"
"Aku hanya ingin melihat dia bahagia bersama orang yang tepat. Renata pantas mendapatkan laki-laki yang baik untuk menjaganya. Menurutmu, kalau perasaan seperti bisa juga disebut cinta?"
"Bisa saja. Hanya saja, cinta dalam arti berbeda. Kau menyayangi dia, tapi rasa sayangmu tidak sebesar perasaan sayangmu terhadap Vanya. Kecuali, jika kau juga mempunyai hasrat untuk membawa Renata ke atas ranjangmu seperti kau yang kau lakukan pada Vanya selama ini." Devan tersenyum, sementara Aldrian menatapnya tidak suka.
"Sudah aku bilang, selama beberapa tahun terakhir, aku hanya bisa melampiaskan hasratku pada Vanya. Selain dia, tidak ada perempuan manapun yang bisa memancing hasratku untuk bercinta, termasuk Renata."
"Aku tidak pernah punya keinginan itu terhadap Renata. Aku hanya ingin melihat dia bahagia. Semoga suatu saat ada lelaki baik yang bisa melindunginya dan membahagiakan Renata."
"Kau benar, Al, kasihan Renata. Dia masih sangat muda," ucap Devan. Dalam hati, ia berdoa semoga Tuhan bisa memberinya kesempatan untuk bersama perempuan itu.
"Kalian berdua tidak usah khawatir, Renata adalah istriku. Jadi, biar aku saja yang menjaganya."
.
Bersambung ....
__ADS_1
Baca juga karya temen Author yang satu ini. Keren lhoo