MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 78 DIA ADALAH ISTRIKU


__ADS_3

Setelah kedatangan dua adik Renata, proses pemakaman pun akhirnya dilaksanakan. Kedua adik Renata mengantarkan jenazah ibunya ke peristirahatan terakhir.


Meskipun berat menerima, tapi semuanya sudah takdir. Siapapun tidak bisa menolak takdir yang sudah digariskan Tuhan.


Bima menatap kedua adik ipar yang baru kali ini dilihatnya itu. Rasa bersalah dan penyesalan menyelinap dalam hatinya.


Maafkan aku ....


***


Setelah proses pemakaman selesai, mereka semua kembali ke rumah dan setelah beristirahat sebentar juga mengisi perut mereka.


Meskipun Rangga dan Damar tidak mau, tetapi Bima memaksa mereka untuk makan.


Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai rumah sakit. mereka berjalan beriringan menuju kamar rawat inap Renata. Perempuan yang bahkan sudah setahun ini tidak pernah mereka lihat.


"Mbak Renata." Mereka berdua berucap bersamaan saat melihat keadaan kakaknya yang terbaring di atas ranjang dengan kedua mata terpejam.


Renata baru saja setelah selesai makan dan minum obat. Dokter Devan juga baru saja selesai memeriksa Renata. Sementara Aldrian pulang terlebih dahulu karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan.


Pria itu duduk di sofa, membiarkan kedua pemuda itu mendekati Renata dan menumpahkan segala perasaan mereka berdua.


Devan menatap Bima yang saat ini sedang menatap kedua adik iparnya yang sedang menangis di depan Renata.


"Apa proses pemakamannya berjalan lancar?"


Bima mengangguk sebagai jawaban.


"Bagaimana keadaan Renata?" Bima menatap Devan dengan wajah serius.

__ADS_1


"Renata harus menjalani serangkaian pemeriksaan. Luka yang dideritanya sangat serius. Terutama luka di bagian pinggang yang menyebabkan dia keguguran."


Bima mengusap wajahnya kasar. Rasa penyesalan kembali menyelinap di hatinya.


Seandainya saja aku bisa mengulang waktu.


Devan menghembuskan napas panjang.


"Sebaiknya kau jangan menemuinya terlebih dahulu, Bim." Devan menatap Bima yang terlihat kaget.


"Bagaimana mungkin aku tidak menemuinya, Dev. Aku bahkan belum sempat meminta maaf padanya."


"Renata tidak ingin bertemu denganmu."


"Aku akan tetap menemui istriku dan meminta maaf padanya atas semua kesalahan yang aku perbuat." Bima menatap Devan dengan yakin.


"Semua ini demi kebaikan Renata, Bim. Kenapa kau tidak mengerti?"


"Renata tidak akan pernah tahu kalau aku berusaha meminta maaf padanya."


"Tapi kedatangan kamu akan mempersulit Renata, Bim."


"Aku hanya ingin menemui dia dan memberikan dukungan padanya agar dia bisa melewati semuanya. Aku ingin dia tahu kalau aku selalu ada untuknya dan aku ingin dia tahu kalau aku sangat menyesal dengan apa yang terjadi padanya," jelas Bima panjang lebar.


"Aku sangat menyesal, Dev, aku benar-benar menyesal karena sudah menyebabkan semua ini terjadi pada Renata. Aku ...."


Bima kembali menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Pria itu menangis, menangisi semua yang telah terjadi karena ulahnya.


Bima sadar, tidak akan mudah bagi Renata untuk memaafkannya. Namun, Bima akan berusaha meskipun ia harus berlutut di depan Renata

__ADS_1


agar perempuan itu memaafkannya.


Devan menatap Bima, kemudian pandangannya beralih pada kedua adik Renata yang masih menatap kakaknya dengan wajah penuh kesedihan.


Setelah kehilangan ibunya, mereka berdua harus melihat kenyataan kalau sang kakak terbaring tak berdaya akibat kecelakaan yang menimpanya.


"Terserah kamu saja, Bim. Aku sudah memperingatkanmu. Seandainya terjadi sesuatu pada Renata, kamu sendiri yang menanggungnya.


"Apa maksudmu?"


"Renata butuh ketenangan agar dia tidak stres saat menjalani pemeriksaan. Seharusnya kamu mengerti, Bim."


"Renata adalah istriku, aku berhak menemani dan mendampinginya-"


"Istri? Giliran sekarang kau menganggapnya sebagai istri?"


"Dev-"


"Bima, saat ini aku adalah dokter yang akan menangani Renata sampai dia sembuh. Aku tidak akan membiarkan sesuatu yang membahayakan terjadi pada pasienku." Devan menatap Bima dengan tajam. Rasanya, ia ingin sekali menghajar pria kepala batu itu.


"Renata sangat tidak ingin bertemu denganmu. Kehadiranmu hanya akan membuatnya semakin-"


Devan menghentikan ucapannya saat pintu kamar tiba-tiba terbuka.


"Sayang, ternyata kamu di sini? Kenapa kamu tidak menemuiku sama sekali? Memangnya kamu tidak ingin melihat anak kita?"


.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2