MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 49 MENYIAPKAN GUGATAN CERAI


__ADS_3

"Sampai kapan kau akan berdiri di sana, Devan?" Suara Iren membuyarkan lamunan Devan.


Pria itu tersebut canggung saat melihat semua orang menatapnya.


Pria itu baru saja akan melangkah kakinya saat tiba-tiba ponselnya berdering.


"Baik, saya akan segera ke sana," ucap Devan sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.


"Ma, sepertinya aku tidak bisa lama-lama. Ada panggilan darurat dari rumah sakit." Devan menatap Iren, Pak Dika dan dua orang perempuan di depannya.


"Bukannya hari ini kamu libur?"


"Mama kayak nggak tahu saja kerjaan di rumah sakit." Devan meraih tangan sang Mama, kemudian mencium punggung perempuan itu. Devan melakukan hal yang sama pada Pak Dika.


Devan tersenyum pada Andira, kemudian menatap Renata selama beberapa detik. Gadis itu tersenyum membuat hati Devan langsung berdebar.


Ah! Milik orang, kenapa kau terlihat begitu manis?


"Devan." Devan tersenyum mendengar suara mamanya, dokter tampan itu segera bergegas meninggalkan rumah Renata.


Wajah Iren berubah mendung, karena gagal mengenalkan Devan pada Renata.

__ADS_1


Tanpa basa-basi, Andira, pengacara yang ditunjuk oleh Pak Dika sudah mulai beraksi. Mereka bertiga berdiskusi. Sementara Iren hanya terdiam memperhatikan mereka bertiga.


Iren menatap Renata. Ingatannya kembali ke masa lalu. Dulu, Iren pun menjadi janda di usianya yang masih sangat muda. Kasus yang dialami Iren pun hampir sama dengan Renata, yaitu pengkhianatan dan orang ketiga.


Bedanya, saat itu Iren mengalami kekerasan secara fisik dari mantan suaminya. Iren bertemu dengan Pak Dika saat dirinya sedang mengurus perceraian dengan suaminya.


Saat itu, Pak Dika adalah pengacara yang membantu proses perceraiannya.


***


Shinta menjerit nikmat di bawah Kungkungan pria yang saat ini sedang bermain di atas tubuhnya. Mereka berdua bergerak cepat saling merayu dan memuaskan hasrat.


Shinta kemudian mendorong pelan tubuh pria yang kini ambruk di atas tubuhnya setelah permainan mereka selesai.


Begitupun pria di sampingnya yang kini menatap wanita pujaannya itu tanpa berkedip. Tangannya bergerak mengusap perut perempuan itu.


"Aku merindukanmu. Kapan kau akan benar-benar menjadi milikku, Shinta ...."


Shinta membuka kedua matanya yang terpejam.


"Kau sudah memiliki aku seutuhnya, apalagi yang membuatmu resah?" Shinta perlahan membelai wajah tampan pria itu.

__ADS_1


Wajahnya penuh dengan memar bekas pukulan.


"Aku ingin memilikimu dalam arti sebenarnya. Kita hidup bersama, dengan dia." Panji mengusap perut polos Shinta yang sudah terlihat sedikit membesar di usia kehamilannya yang menginjak empat bulan.


"Apa kau yakin, ini adalah anak kita?" Panji mengecup bibir Shinta yang terbuka saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut perempuan yang dicintainya itu.


"Anak kita ataupun anak dia, yang terpenting anak ini keluar dari rahimmu. Apalagi, jelas-jelas kalau aku pun ikut andil di dalamnya.


Shinta tersenyum mendengar ucapan pria berondong di depannya itu. Ya! Usia Panji memang jauh lebih muda beberapa tahun darinya. Namun, permainan pria itu di atas ranjang tidak kalah dengan saat dia bermain dengan Bima.


"Aku sungguh tidak sabar menunggu sampai dia lahir agar kita bisa hidup bersama."


"Jangan terlalu banyak bermimpi, aku hanya akan bersamamu saat kau sudah sukses dan memiliki banyak uang. Kau sangat tahu kalau aku suka dengan kemewahan bukan?" Shinta tersenyum menatap Panji. Sementara Panji mendengus kesal.


"Kenapa kau senang sekali membuatku patah hati?"


Tangan Panji yang semula berada di perut Shinta kini mulai bergerak, kembali merayu tubuh perempuan itu.


"Lebih baik aku bermain saja denganmu sampai puas, sebelum kau kembali ke pelukan pria itu." Bibir Panji bergerak menggantikan tangannya.


Sementara itu di tempat lain, Bima merasa sangat kesal karena dia tidak bisa menghubungi Shinta. Ponsel perempuan itu tidak aktif.

__ADS_1


Lebih kesal lagi, saat dirinya pun tidak bisa menghubungi Renata. Perempuan yang tanpa ia sadari telah menyelinap ke ruang hatinya.


__ADS_2