
Rania berjalan cepat melihat sekeliling ruangan besar yang gelap itu , hanya cahaya remang remang dari luar yang menyorot ke ruangan .
" syalfa kau dimana?".
Rania berjalan ke sisi kiri ruangan yang gelap mempersulit Rania untuk menemukan syalfa di tambah rak buku yang menjulang tinggi seakan menghalangi penglihatannya.
"Rania cepat bantu aku"
Terdengar teriakan syalfa dengan suara beratnya.
Rania melebarkan matanya saat melihat syalfa menahan rak buku yang hendak menimpa tubuhnya.
Rania melihat sekeliling, lalu dengan cepat mendorong sebuah meja yang cukup besar untuk menahan rak buku itu.
Rania menarik syalfa dari sana ketika berhasil mengganjal rak buku dengan sebuah meja besar.
" Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?"
"Jangan disini ! nanti aku jelaskan, sebaiknya kita segera keluar dari tempat ini"
Syalfa dan Rania berjalan hendak keluar dari ruangan itu.
" Apa ini? "
Rania tak sengaja menginjak sesuatu.Rania mengambil sebuah buku besar dan cukup tebal berwarna biru.warna yang mulai memudar.
"Biodata mahasiswa tahun ajaran 1989."
Rania perlahan membuka buku itu melihat beberapa foto mahasiswa jaman dulu, lembar demi lembar Rania lewati karena tidak ada yang janggal di sana hingga di lembar berikutnya dia tertegun melihat sebuah foto seperti familiar dengan wajah seorang wanita disana.
"Syalfa, apa kau pernah melihat wajah ini?"
Syalfa mengikuti arah tangan Rania , menatap sebuah foto wanita cantik.
"Wanita ini sepertinya aku juga pernah melihatnya"
BRUGh
Terdengar sebuah benda berjatuhan di ujung ruangan itu. Syalfa dan Rania menoleh bersamaan ke arah suara yang cukup nyaring itu.
Rania melihat buku buku berjatuhan.rania merasakan aura hitam pekat tapi lemah.
sedangkan syalfa melihat sosok wanita memunggunginya. Penampilannya berbeda dengan sosok yang tadi dia lihat di depan perpustakaan lama.
__ADS_1
Syalfa menggenggam tangan Rania cukup kuat, Rania menoleh melihat wajah syalfa yang tegang. Rania paham karena dia juga merasakan hal yang sama.
Rania mengangguk seakan tahu tatapan sahabatnya itu. Mereka berdiri dengan tangan bergandengan berjalan perlahan ke arah pintu keluar.
Syalfa dan Rania keluar perpustakaan lama itu.
Angin berhembus dengan kencang menerpa wajah mereka lalu...
BRAAk
Pintu perpustakaan lama tertutup dengan cukup keras.
Tangan mereka masih menyatu satu sama lain, mereka belum tenang dengan bisa keluar dari ruangan itu.
Entah mengapa mereka merasa ini belum berakhir semudah itu.
Syalfa menoleh menatap Rania. mereka berpandangan sejenak lalu mengangguk mantap.
Mereka berjalan dengan masih bergandengan tangan. Hari sudah mulai gelap, suasana di lorong kampus terasa semakin mencekam.
Angin diluar berhembus dengan sangat kencang , pohon pohon bergerak karena terpaan angin di Sertai dedaunan kering yang berguguran. Menerpa jendela kampus yang besar.
Dengan langkah pelan penuh hati hati mereka berbelok ke lorong yang lebih jauh dan gelap. Entah tempat apa itu. Di sepanjang lorong terdapat patung patung berjajar rapih.
Ada sesuatu di ujung sana, auranya aneh. Rania menatap syalfa.sedangkan yang di tatap tetap menatap lurus sambil tetap berjalan.
.syalfa melihat banyak sosok di rantai di beberapa ruangan yang mereka lewati.
Sosok mereka seperti seorang tahanan. setiap sosok di borgol dengan rantai besar di leher, kedua tangan juga pada kaki mereka.
Saat tiba di ujung ruangan bau anyir menyeruak di penciuman mereka.
" Ini sangat nikmat sekali, daging manusia memang paling lezat, aku menyukai mata manusia ini"
Terdengar suara dari dalam ruangan, syalfa menelan salivanya menatap Rania. Syalfa berfikir apa cuman dia yang mendengar suara itu?
Rania mengangguk seakan tau maksud tatapan itu. berati dia tidak sendiri, sahabatnya pun mendengarnya.
Syalfa mengintip ke dalam ruangan yang cukup gelap itu.
Sosok burung dengan gigi tajamnya sedang memakan daging manusia dan meminum darah yang mengalir di lantai.
Lagi lagi mereka merasa mual melihatnya. Buru buru mereka pergi sebelum sosok itu mengetahui keberadaan mereka.
__ADS_1
Karena terburu buru Rania tidak sengaja menyenggol patung di sampingnya.
Pyaar !!!!
Syalfa menatap Rania , lalu dengan cepat menarik tangan sahabatnya.
Mereka berlari secepat mungkin meninggalkan tempat menjijikan itu.
Syalfa masih tetap menggenggam tangan sahabatnya melewati sosok sosok yang mereka temui.
Wuuuussshh.
Hembusan angin dari belakang mereka, seakan mendorong mereka dengan sangat kencang. tubuh syalfa melayang menabrak jendela kampus, begitupula dengan Rania tubuhnya jatuh dari ketinggian seperti di banting dengan keras.
Syalfa menatap sosok seekor burung yang sangat besar terbang sampai ke langit langit gedung.
Syalfa mencoba berdiri menatap sosok itu waspada . Syalfa bergerak perlahan menghampiri Rania yang masih diam mematung.
Sosok itu memperhatikan gerakan syalfa tanpa melihat ke arah rania.
Syalfa menghentikan gerakannya. dia mulai berfikir ini aneh.
Sosok itu seperti tidak melihat Rania yang diam di sana.sedangkan sosok itu memperhatikan gerakannya.
Syalfa memberi isyarat kepada Rania untuk tetap diam dan tanpa bergerak.
Rania mengedipkan matanya 3 kali. Yang berarti paham maksud syalfa.
Syalfa mulai berdiri perlahan ,menahan sakit di punggung dan dahinya karena membentur kaca jendela tadi.
Syalfa langsung berlari secepat mungkin.benar saja sosok itu mengejarnya. syalfa berbalik dan mengeluarkan kekuatan dalam sebagai penghalang sosok itu, memberikan dinding pembatas dengan cepat. Lalu berlari mencari tempat yang menurutnya Aman.
................
Rania yang melihat sosok itu mengejar syalfa mulai berdiri , melihat sekeliling.
" Aku dimana? Kenapa aku bisa melihat sosok itu? Apa ini sudah bukan dunia manusia lagi?".
Banyak sekali pertanyaan di dalam otaknya.
"Aku harus mencari tempat yang aman, semoga kamu baik baik saja sahabatku"
Rania berjalan pelan, mencari tempat persembunyian untuk malam ini".
__ADS_1