
andika berlari sangat kencang dengan masih menggendong karina, sedangkan karina mengalungkan tangannya pada leher andika kuat, di belakang mereka, paman fikhar juga berlari tak kalah cepatnya, sesekali mereka melihat ke arah belakang, ada jejak kaki berwarna merah darah sedang mengejar mereka.
andika kebingungan melihat jalan yang bercabang,
" bagaimana ini? kita kemana?" tanya andika panik, keringat mengalir di wajahnya, bajunya sudah basah karena keringat, namun sama sekali tidak di hiraukannya .
" aku juga tidak tahu, cepat lah! dia mendekat ! dia mendekat! cepat! cepat! kemana saja!" seru paman fikhar panik, lalu segera berlari ke sembarang arah mendahului andika dan karin.
andika juga tak kalah panik, dia berlari mengikuti pamannya yang sudah berlari lebih dulu.
" huuuhuh..huuf" suara nafas mereka terengah engah.
" aaaa, aku lelah sekali" ucapnya saat mereka berhenti sejenak bersembunyi di balik lemari besar, di bawah tangga darurat.
" aku juga lelah, apa lagi dengan menggendong karin" keluh andika dengan menurunkan karin di sebelahnya.
" maaf, aku merepotkanmu" ucap karin merasa bersalah, sesekali mengelap keringat andika dengan lengan bajunya.
" tidak masalah, kau sangat ringan sayang" jawab andika, dengan tersenyum terpaksa.
" sudahlah, jangan menghiburku" ucap karina.
__ADS_1
" bagaimana paman? apa hantu kaki merah darah itu masih mengejar kita?" tanya andika.
" sepertinya tidak, lantainya bersih, tidak ada jejak darah" kata paman fikhar yang sedang mengintip.
" huft, syukurlah" ucap andika merasa lega.
" aku tidak yakin kita sudah aman" kata karina yang melihat kaki bercak merah, sedang berjalan mendekati mereka, namun berbeda arah, saat mereka berlari tadi.
" maksud kamu?" tanya paman fikhar sambil mengerutkan keningnya bingung menatap karina.
" lihat lah itu paman, di belakangmu" seru karina dengan tubuh yang bergetar.
paman fikhar dan andika reflek melihat ke belakang.
mereka bangkit, dan kemudian kembali berlari ,andika kembali menggendong karin dan berlari paling depan, sedangkan paman fikhar di belakang mereka.
" aaaakh , aku tidak tahan lagi, lelah sekali!!" ucap andika di sela sela langkahnya.
" sayang ayo semangat, kamu pasti bisa" seru karina memberi semangat.
" kau tahu, baru kali ini aku berlari di tengah malam, hingga ber jam- jam, aku heran kenapa mereka mencari makan di malam hari seperti ini" keluh andika dengan nafas tersendat sendat.
__ADS_1
" hust, kau ini hantu memang keluarnya malam".kata karin sambil menepuk dada andika pelan, karena perkataanya yang sudah melantur.
"sial, kakiku pegal, aku sudah tidak tahan lagi! apa seperti ini penderitaan atlite lari saat berlatih" keluh paman fikhar.
"iya mungkin saja" kata andika yang kini berlari sejajar dengan pamannya.
" kenapa kalian jadi bicara melatur seperti ini" kata karina heran, lalu menoleh ke belakang mereka.
" eeeh, apa dia sudah pergi?" kata karina yang sudah tidak melihat jejak kaki berwarna merah itu lagi.
" oh ya?" tanya paman fikhar dan andika bersamaan .
" astaga, kalian ini" ucap karin menepok jidatnya setelah mendengar jawaban kompak suami dan pamannya.
mereka berhenti sejenak, untuk memastikan apa benar yang di katakan karina.
"eeh iya, udah ga ngejar lagi, apa dia juga cape ya" kata andika.
"mana ada hantu cape" kata paman fikhar masih menatap sekeliling waspada.
" mungkin saja, kan kita sudah kejar- kejaran cukup lama" kata andika lagi.
__ADS_1
" aku masih tidak percaya, pasti ini tipu muslihat lagi" kata paman fikhar.
" naaah, kan betul! lihat tuh" ucap paman fikhar langsung ngacir secepat mungkin.