
syalfa berjalan beriringan dengan Rania, sedangkan Rasya dengan pak Hanz di belakang mereka.
tidak ada satupun dari keempat nya yang berbicara, mereka fokus menatap ke depan tanpa menoleh ke belakang.
brrreeees
tiba tiba hujan turun dengan lebat, seakan melarang mereka untuk melanjutkan perjalanan.
"aaaaaah, bagaimana ini. hujannya sangat deras, bahkan air hujan sangat terasa sakit saat mengenai wajahku" seru Rania menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya".
"kita berlindung dulu di di balik pohon yang ada disini" ucap Rasya yang masih memegang tasnya untuk menghalangi air hujan.
keempatnya berlari mendekati sebuah pohon yang cukup besar.
"huuh, kenapa tiba-tiba hujan, padahal tadi langit sangat cerah" kata rania.
"entahlah" jawab Rasya seadanya dengan masih menatap syalfa yang berdiri sangat dekat di depannya.
syalfa tidak menyadari bahwa Rasya menatap dirinya, dia sedang fokus menatap sosok di balik pohon yang berjarak 3 meter dari tempatnya berdiri.
sosok wanita berambut panjang ,berwajah rata dan berbaju putih, sosok itu mengintip dari balik pohon, terlihat setengah badannya.
syalfa mencoba berkomunikasi dengan menatapnya dalam.
__ADS_1
"PERGI!!! atau kalian semua MATI!!!"
"hiiiihii...hiiiii...."
suara tawa mahluk itu terdengar nyaring di pendengaran syalfa, membuat syalfa menutup mata dan memegang kedua telinganya.
"syalfa, kau kenapa?" tanya Rasya memegang kedua bahu syalfa.
syalfa membuka matanya dan kembali melihat ke pohon di mana sosok itu berada, saat suara tawa melengking di telinganya telah hilang, di gantikan dengan telinganya yang berdengung tapi tidak terlalu parah.
hilang? sosok itu menghilang? dan di gantikan dengan angin yang cukup kencang, sosok itu ternyata benar-benar tidak menyukai keberadaan mereka.
"kita harus segera pergi dari sini" perintah syalfa menarik tangan Rania kasar.
"eeeech, " kaget Rania mendapat tarikan kuat di tangannya.
"diam dan menurutlah" syalfa menatap Rania tajam.
Rania diam, kalau syalfa sudah menatapnya seperti itu, Rania tidak akan berani lagi untuk membantah, pasti ada alasan yang membuat sahabatnya seperti sekarang dan itu jelas untuk kebaikan mereka semua.
semuanya melanjutkan perjalanan dengan menggunakan tas mereka sebagai pelindung, hujan yang cukup deras membuat jalan disekitarnya sedikit licin.
20 menit kemudian
__ADS_1
mereka berdiri di sebuah villa, villa sederhana namun cukup elegan.
"akhirnya kembali juga kesini" seru Rania menghembuskan nafasnya.
"aku baru menyadari, hujan yang deras tadi kemana??setelah kita sampai villa hujan lenyap begitu saja, aneh!" kata Rania lagi.
semua orang diam tanpa menggubris ucapan Rania, mereka fokus ke bangunan yang ada di depannya.
"kita ke belakang bangunan ini, menemui pak Ujang" kata pak Hanz menatap mereka.
mereka menganggukan kepalanya setuju.
keempatnya berjalan ke belakang villa, mencari keberadaan pak Ujang.
sepii
" dimana dia?" tanya Rania mengedarkan pandangannya.
"dimana terakhir kali, kalian bertemu dengannya" tanya syalfa sambil mengedarkan pandangannya.
"disini, di ruangan ini" jawab Rania.
"kita cari lagi, sebaiknya kita berpencar, aku dan Rania akan mencari di sekitar villa, pak Hanz dan Rasya mencari ke dalam villa".
__ADS_1
"baiklah" jawab mereka kompak.
syalfa dan Rania berjalan beriiringan mencari tanda-tanda keberadaan pak Ujang, namun nihil disekitar villa cukup sepi, bahkan tidak ada sesuatu yang aneh, langkah keduanya terhenti di sebuah kebun buah, yang di tanami pohon buah jeruk dan mangga.