
"syalfa , saat aku dan lucky bersembunyi di salah satu ruangan yang berada bawah tangga untuk menghindari makhluk kerdil itu kami melihat seorang wanita dengan posisi terduduk mata yang melotot dan lidah yang terjulur keluar, sepertinya dia tercekik sesuatu sebelum meninggal. apa kamu mengetahui tentang itu? " tanya Rania.
" iya, kondisinya menyeramkan, ada bekas cekikan di lehernya" timbal lucky dengan begidik.
" kalian sudah kembali, apa yang sedang kalian bicarakan" tiba tiba terdengar suara lelaki dan langkahnya yang mendekati mereka yang sedang duduk lesehan di lantai.
semua menoleh, ternyata Giano, pak Hans dan Rasya yang terbangun.
" iya, kami sudah kembali" jawab singkat Rania.
" apa yang terjadi kenapa baju kalian kotor sekali, darah siapa itu?" tanya Giano menatap dalam satu per satu termasuk Rania.
" kami habis memakamkan jazad pak Rendy , ayah kak lucky" jelas Rania.
"apa!! kami turut berdukacita atas meninggalnya ayahmu lucky" ucap Giano, pak Hans dan Rasya.
__ADS_1
" iya, aku sudah mengikhlaskan nya. terimakasih."
"bagaimana bisa itu terjadi?'' tanya Giano penasaran lalu duduk di tengah antara lucky dan rania.
" ka, kamu apa- apa ' an sih, tempat lain kan ada, kenapa duduk disini, sempit tahu". pekik Rania menatap kelakuan Giano dengan kesal.
" disini lebih nyaman, lebih jelas buat denger cerita" kata Giano dengan cengirannya.
" syalfa, jawab pertanyaan kami tadi" kata lucky membuat perdebatan Rania dan Giano terhenti, mereka menatap syalfa penasaran.
" apa kalian tidak merasa, salah satu dari kita menghilang? dia adalah salah satu ibu dari mahasiswa baru , yang juga alumni kampus ini tahun 1989. ibu itu salah satu geng Sandra yang ikut membully Siska sewaktu kuliah, bukan hanya dia tapi semuanya pun telah meninggal termasuk si ketua geng Sandra, Sandra juga meninggal di rumahnya, sosok Siska sudah bergerak lebih cepat sebelum pak Rendy datang kemari".
"sejak kapan kamu mengetahuinya syalfa, kenapa tidak memberitahu kami, agar bisa mencegah ibu itu terbunuh". kata dosen Dona.
" saat aku melihat sosok itu berdiri di atas gedung, sambil menatap ke depan kampus, aku melihat apa yang akan dia lakukan, tapi aku tidak bisa mencegahnya, atau ikut campur dengan urusan balas dendamnya yang satu itu".
__ADS_1
"pak Hanz, bagaimana menurutmu tentang sosok asap putih itu, kita belum mendapat petunjuk apapun, kita harus segera menyelesaikan kasusnya, agar semua misteri di kampus ini terkuak, dan kita bisa segera terbebas dari teror berantai ini". ucap syalfa.
" iya pak Hanz, apa yang kita lakukan sekarang?" tanya Rania yang memang sudah bingung.
" tidak ada yang bisa kita lakukan, sampai ada petunjuk lain. jika kita keluar dan pergi kembali ke villa, kita hanya akan mengantar nyawa, karena disana sudah tidak ada apapun, pak Ujang yang kita harapkan sudah meninggal". kata pak Hanz .
" lebih baik kita cari petunjuk tentang sosok di rantai yang syalfa lihat saja, apa yang membuat mereka terkurung dan siapa pelakunya". kata Rania yang mengingat kejadian yang syalfa dan dirinya lalui.
" iya, Kenapa aku bisa melupakan itu, justru itu misteri dari kampus ini langsung, besok kita kembali ke tempat itu Rania".kata syalfa menatap Rania.
" iya, tapi bagaimana dengan sosok burung itu? pasti dia yang menjaga tempat itu syalfa".
" aku bisa membantu kalian" ucap mario.
" aku juga" seru Rasya dan Giano menimpali.
__ADS_1
" baiklah, kita berlima akan ke kembali ke tempat itu."