Marsyalfa Gadis Istimewa

Marsyalfa Gadis Istimewa
Batu merah


__ADS_3

syalfa, rania,mario,giano dan rasya masih berjalan dengan berbaris seperti sebelumnya, menuruni anak tangga kembali dengan hati- hati.


lorong yang tidak terlalu lebar namun sangat panjang, dengan dinding yang lembab, sesekali tetesan air menetes dari atas membuat lantai dan tangga yang mereka lewati basah karena air.


" huuh, ini pengap sekali, juga dingin" sepertinya kita salah tempat" ucap rania membekap tubuhnya sendiri.


" ini, pake saja jaketku" kata giano memberikan jaket miliknya.


" emm, terimakasih , tapi apa kau baik- baik saja?".


" tentu, aku kan laki-laki" ucapnya.


"kita ikuti saja rania, bola penunjuk arah itu, tidak mungkin salah" kata syalfa.


mario menggenggam tangan syalfa , saat mereka semua telah selesai menuruni anak tangga.


" apa kau kedinginan hemm?" tanya mario, sambil mengusap tangan syalfa lembut.


" tidak terlalu, aku baik- baik saja" ucap syalfa tersenyum.


" baiklah, katakan padaku, jika kau lelah atau kedinginan, oke?".

__ADS_1


"hemm, aku mengerti".


mereka masih mengikuti bola yang bersinar itu , hingga tiba tiba bola itu berhenti dan berubah warna menjadi hitam pekat.


syalfa panik, langsung mengambilnya dan memasukannya ke dalam tas.


syalfa menarik tangan mario kuat, begitu pula dengan rania menarik giano, rasya juga sudah bersembunyi mengikuti yang lain.


bayangan makhluk tinggi dan besar datang dari lorong kiri , langkahnya yang kuat membuat lantai di sekitarnya bergetar, bahkan syalfa dan yang lain bisa merasakannya.


" itu siluman, tapi siluman apa itu?" kata syalfa dalam hati, masih menatap sosok itu dengan seksama.


semuanya tidak berani bergerak sama sekali, pandangan mereka waspada, hingga sosok itu berjalan menjauh, dengan langkah yang muncul, menghilang, kemudian muncul, dan menghilang terus seperti itu sampai sosok itu menghilang di ujung lorong.


mereka masuk ke sebuah lorong yang sebelumnya sosok besar tadi keluar, makin berjalan ke dalam suasana makin gelap dan mengerikan , hingga langkahnya terhenti melihat pemandangan tak biasa di depan sana.


banyak tangan tangan keluar dari sebuah penjara meminta pertolongan.



suara suara aneh seperti tangis ,jeritan ,teriakan semua bersatu menjadi satu, membuat syalfa dan yang lain menutupi telinga mereka.

__ADS_1


syalfa dan rania sama sama memejamkan mata mereka, seperti mereka sedang melihat sesuatu dari penglihatannya.


syalfa dan rania seperti sedang berdiri di dalam ruangan, banyak sosok disana yang di rantai, ada anak kecil, orang tua, berbagai kalangan ada disana, hingga terlihat sosok perempuan tak jauh dari segerombolan itu.



berdiri seorang diri, mengulurkan tangannya ke arah mereka. hanya sosok itu yang tidak di rantai, atau di pasung.


syalfa berjalan mendekat, mencoba berkomunikasi dengannya, " apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan padaku?"


" terima ini, sebelum mereka kembali, tolong aku, aku ingin pergi dari sini" lirihnya, seperti ketakutan.


syalfa menerima sebuah batu kecil berwarna merah, " apa ini? kau memberiku sebuah batu bermata merah?".


" suatu saat nanti, itu akan berguna untukmu, aku akan datang di saat kau membutuhkanku, tolong bawa aku pergi" ucapnya.


" siapa yang mengurung kalian disini?" tanya syalfa.


"jangan menanyakan itu disini, suatu saat nanti kamu juga akan tahu, waktu kalian sangat sedikit".


" baiklah, ayo ikut denganku " kata syalfa.

__ADS_1


saat sosok itu mengikuti syalfa, namun sosok lain menghadangnya langkah mereka.


" kau tidak akan bisa pergi dari sini, atau mereka akan marah nanti" ucap sosok lelaki tua .


__ADS_2