
"aku tidak setuju dengan rencana ini!" ucap andika, membuat semua orang menatap ke arahnya.
" maaf kami baru bisa bergabung, sepertinya kalian sedang membicarakan hal yang serius?" kata rasya yang kemudian duduk , begitupula mario dan giano yang memperhatikan raut wajah semua orang.
" iya" ucap rania menatap mereka sekilas , lalu menatap andika kembali" apa yang membuatmu tidak setuju , Om ?" tanya rania.
" biarkan istriku disini, dia akan lebih aman jika berada di aula ini bersama kalian, arwah itu mengincarnya, sejak awal karin lah yang sering di teror bukan aku" ucapnya menatap rania serius.
"baiklah, biar di gantikan oleh pak fikhar, bagaimana?" tanya rania pada semuanya.
"aku siap" ucap paman fikhar.
" tidak, aku akan tetap ikut, aku tidak mau arwah itu menyakitmu andika, lagi pula selama beberapa hari ini aku bisa mengatasinya" kata karin meyakinkan.
" aku tidak bisa menjamin dia tidak akan menyakitimu seperti sebelumnya karin, apa lagi ini akan memasuki hutan, jadi menurutlah!" ucap andika tegas.
" tidak, pokoknya aku akan terus ikut bersamamu untuk menghadapinya" ucap karina ngotot , " jika kalian tidak memperbolehkan aku ikut, aku akan tetap ikut walaupun tanpa kalian disisiku" ancam karina serius.
"baiklah" ucap andika akhirnya, dia tau bagaimana keras kepalanya karina, dia bisa nekad melakukan apapun jika keinginannya tidak di penuhi, walaupun semua yang di lakukan istrinya demi kebaikan.
karina yang mendengar jawaban andika tersenyum puas.
"baiklah, jika sudah sepakat , kapan kita akan berangkat?" tanya pak hanz.
" besok jam 7 pagi , bagaimana?" kata syalfa menatap semuanya.
" baiklah aku setuju" ucap pak hanz yang di angguki juga oleh andika dan yang lain.
" pak hanz, kamu belum menjawabku soal batu merah itu, apa kau tahu sesuatu?" tanya syalfa.
" aku tidak terlalu mengerti tentang batu merah syalfa" .
" rania, bagaimana denganmu?" tanya syalfa.
__ADS_1
" yang pernah aku dengar, batu merah itu bisa menyembuhkan , juga bisa sebagai alat penghubung, kamu bisa memanggil seseorang yang telah memberimu batu itu" terang rania.
" jadi ini alasannya, saat dia bilang " panggil aku jika kau membutuhkanku".ucap syalfa lirih.
" lebih baik kamu simpan batu merah itu syalfa, mungkin suatu saat nanti , kau akan membutuhkannya" ucap pak robert yang juga ikut bergabung.
" iya pak, aku mengerti" kata syalfa sambil menganggukan kepalanya.
" kenapa aku merasa tempat ini seperti sedikit berbeda? tapi apa?" ucap syalfa dalam hati sambil melihat sekelilingnya seperti ada sesuatu yang ganjil di penglihatannya.
" syalfa ada apa?" tanya rania menepuk pelan bahu syalfa.
" apa kau merasakan sesuatu rania?"
" tidak, disini tidak ada aura negatif sama sekali, semua baik seperti biasanya" jawab rania menatap ke sekeliling.
" memangnya ada apa? kamu merasakan sesuatu disini?" tanya balik rania.
" hmm, aku merasa tempat ini seperti berbeda, ada yang ganjil, syalfa masih mengamati semuanya, hingga dia terdiam menatap sepasang mata itu, walaupun jaraknya cukup jauh dari tempatnya duduk".
membuat semua orang menatap heran ke arah syalfa." kau! siapa kau!!" teriaknya menatap ke ujung pojok kanan.
semua orang semakin bingung dengan kelakuan syalfa yang tiba- tiba berteriak tanpa sebab, entah di tujukan kepada siapa? hingga ,merekapun ikut bangkit dan mendekat ke arah syalfa.
" ada apa? kau berbicara pada siapa?" tanya rania.
syalfa tidak menjawab, dia masih menatap tajam, mata itu, mata putih itu dengan senyum menyeringai, apa lagi bibirnya yang sobek sampai ke telinganya membuat seringai itu semakin mengerikan.
syalfa berjalan cepat menuju ke tempat pojok ruangan, semua orang langsung menyingkir memberikan jalan, agar syalfa lebih leluasa melewati mereka.
GREP,,
syalfa mencekik leher makhluk itu, " bagaimana bisa kau masuk kesini" bentak syalfa mencengkram leher makhluk itu.
__ADS_1
" aku tidak ada niat jahat padamu, aku datang hanya untuk memperingati, ingat kata- kataku ini dengan baik, apapun yang kalian lakukan tidak berguna sama sekali, kalian tetap akan mati. karena nama kalian sudah tertulis di buku kutukan, semua nama yang tercantum di sana akan mati menjadi tumbal kegelapan, hanya orang yang mampu menggagalkannya untuk bangkit, orang yang terpilih yang hanya akan selamat!!! akan ada pengorbanan, penghianatan, kehilangan. kalian sudah salah langkah dan tidak akan bisa mundur lagi, pintu gaib akan tertutup, kalian akan mati, MATI" teriaknya di akhir kalimat kemudian menghilang.
"syalfa" panggil rania menepuk pelan punggung syalfa yang sedang mematung di tempatnya.
syalfa berbalik menatap semua orang yang sedang menatapnya diam , dengan ekspresi ketakutan.
" apa kalian bisa mendengarnya?'' tanya syalfa yang melihat ekspresi berbeda semua orang.
" iya syalfa, kami mendengarnya, tapi kami tidak melihatnya" jawab diana .
" apa kami benar-benar akan mati!?".
" apa perjuangan kita selama ini akan sia-sia?''.
" apa kita tidak akan bisa kembali?".
" aku ingin bertemu kedua orang tuaku, aku merindukannya?".
" haruskah kita mati, sebagi tumbal?"
" apa ini, adil, kami tidak tahu menahu tentang masalah ini, tapi kenapa kamipun ikut jadi korban!?".
"aku lebih baik pergi dari sini, dan mati di depan keluargaku, asalkan aku bisa melihat mereka!".
"aku menyerah sekarang, percuma ini di teruskan ,jika ujungnyapun harus mati".
"aku lebih baik mati sekarang, dari pada harus mati dengan cara mengenaskan menjadi santapan makhluk mengerikan itu".
" ayah! ibu! ,hiks..hiks, aku ingin memeluk kalian, aku kangen".
" aaaaakh, kenapa jadi begini!".
" syalfa !! kau harus lakukan sesuatu, kami hanya bisa bergantung padamu, kau yang bisa melihat mereka, tolong kami!? tolong syalfa".
__ADS_1
semua orang kini tak terkendali dengan emosi , ketakutan, kemarahan semua menjadi satu.