
semua orang duduk kembali, sambil memperhatikan kesibukan ke 9 orang yang hari ini akan keluar dari kampus.
hingga mereka mendekat dengan membawa tas di punggung mereka masing- masing, tidak banyak yang mereka bawa, seperti yang di ucapkan syalfa sebelumnya." bawalah barang sesuai apa yang kalian butuhkan saja" begitu ucapnya.
syalfa berdiri menghadap ke 9 orang di hadapannya." aku akan membuka mata batin kalian, agar kalian bisa melihat mereka, tapi fokuslah ke sosok yang mengejar kalian nanti, hiraukan sosok lain yang kalian lihat, karena di luar sana banyak sosok lain yang serupa dengan berbagai macam bentuk yang menurut kalian aneh dan mengerikan. mungkin bagi kalian yang belum terbiasa akan kaget dan takut, tapi bukankah ini adalah keputusan yang sudah kalian ambil, jadi kuatlah dan fokuslah" . setelah memberi peringatan syalfa membuka mata batin mereka satu persatu.
" syalfa, sudah waktunya" ucap giano yang melihat jam di tangannya pukul 6 pagi.
semua orang bergegas keluar dengan posisi rania, syalfa, mario di depan, disisi samping kanan pak hanz, rasya. di samping kiri lucky, diana dan di paling belakang bella, daren, dan senior lain juga para dosen. sedangkan semua mahasiswa dan orang tua mereka berada di tengah. semua sudah di atur oleh rania saat syalfa membuka mata batin ke 9 orang itu.
setelah sampai di depan gedung mewah itu, syalfa bisa melihat cahaya berwarna kuning cerah dengan warna abu juga di sana.
" jadi benar, ada pintu gaib disini? kenapa sedari awal aku tidak melihatnya?" ucap syalfa dalam hati.
" kalian ber 7 pergilah lebih dulu, waspada lah!! selamat tinggal". ucap syalfa yang di angguki ke 7 orang itu lalu mereka berlari sekencang yang mereka bisa.
semua orang menatap ke 7 teman mereka dengan dada berdebar dan raut wajah sedih. hingga selang 5 menit kepergian mereka, sebuah angin berhembus melewati mereka keluar dari pintu gaib.
" semoga kalian selamat" ucap syalfa menitihkan air matanya.
__ADS_1
syalfa cepat menghapusnya agar tidak terlihat oleh temannya, tapi 2 orang yang berdiri di sampingnya sudah terlanjur melihat itu.
syalfa melihat jam di tangan rania, " sekarang giliran kalian berdua, pergilah ke arah timur, kalian akan lebih aman jika pergi ke arah sana, ada kuil besar yang di jaga beberapa orang , tapi dengan jarak cukup jauh. waktu kalian 2 hari sebelum matahari terbenam kalian harus sudah sampai disana. mereka pasti akan membantu kalian, bukankah kalian memiliki keyakinan yang sama?". tanya syalfa yang di angguki rasya dan paman fikhar.
" Sekarang!!" teriak syalfa, lalu rasya dan paman fikhar segera masuk ke dalam mobil paman fikhar yang terparkir tidak jauh dari sana.
syalfa melangkah ke belakang begitupula yang lain.
cahaya kuning dan abu yang terpisah kini perlahan menyatu.
syalfa menghela nafasnya panjang, lalu menatap semua orang." ayo , kita kembali" ucapnya berjalan lebih dulu.
" aku tahu itu" jawab syalfa juga tersenyum.
semua orang berjalan tergesa tidak ingin menambah masalah jika terus berada di luar kampus.
" ini benar- benar membuat jantungku olah raga pagi, jika seperti ini terus aku tidak yakin aku tidak akan terkena penyakit jantung" ucap moly pada temannya.
" iya , aku juga sama denganmu, hampir setiap hari jantungku berdebar- debar, tapi bukan karena jatuh cinta, atau karena gugup bertemu calon suami. lebih tepatnya takut bertemu" mereka". balasnya dengan begidik ngeri.
__ADS_1
" aku masih bersyukur kita bertemu dengan ka syalfa dan ka rania, walapun masih di katakan kita seumuran, tapi pemikiran dan sikapnya seperti mereka berumur jauh dari kita. sangat dewasa , tegas dan berani. aku tidak bisa membayangkan hari- hari mereka sebelum datang kesini, pasti berat setiap hari harus berurusan dengan hal mistis" ucap moly.
" iya, kau benar" ucap ike teman moly.
" moly" panggil ike berbisik.
" iya, ada apa ikut berbisik dengan masih berjalan di kerumunan orang- orang di sekelilingnya.
" lihat itu" tunjuk ike dengan dagunya.
moly menatap arah tunjuk ike, ternyata ka bella.
" itu kan ka bella, memang nya kenapa dengan dia?" tanya moly belum mengerti maksud ike.
" kau ini, lihat wajahnya sudah memerah begitu, melihat ka mario menggandeng tangan ka syalfa. apa dia cemburu?" tanya ike yang masih memperhatikan mereka bertiga.
" ech iya, haduh gawat nih!, situasinya aja udah mencekam, di tambah masalah cinta segitiga, apa jadinya nanti" ucap moly yang melihat bella mengepalkan tangannya.
" aah, sudah lah! bukan urusan kita" ucap ike kemuadian menatap lurus ke depan seperti yang lain, begitu pula moly.
__ADS_1