Marsyalfa Gadis Istimewa

Marsyalfa Gadis Istimewa
Warna Merah


__ADS_3

setelah mengamati ruangan itu, prof. herdy membungkus 1 buah lemon dengan kain berwarna putih dengan terus merapalkan doa doa, di taruhnya kain putih berisi lemon di tengah tengah lilin yang menyala, prof. herdy menaburkan bubuk merwarna kuning dan merah di tengahnya.


"jika lemon itu tak berubah warna hingga matahari terbenam nanti, kau bisa menganggapnya baik baik saja. jika tidak...."


" jika tidak?"


" jika tidak, kau akan menghadapi masalah serius, berdoa saja semoga petang ini, lemon itu tidak berubah warna menjadi merah."


setelah kepergian prof. herdy dan sahabatnya nisa, karina duduk di tepi ranjang seorang diri.


krincing..krincing...


hiasan lampu di atas kamarnya berbunyi kembali, karina hanya menatapnya sebentar, pandangannya tertuju ke sebuah jendela yang terbuka lebar, matahari sudah terbenam meninggalkan sedikit warna jingga di sana.


karina beranjak segera pergi menuju ke sebuah ruangan luas di lantai dua, karina berjalan perlahan masuk, pandangannya fokus ke kain putih yang tergeletak di lantai dengan di kelilingi lilin yang mulai redup.


diambilnya kain berisi lemon itu , perlahan karina membuka kain putih . dengan perasaan yang tak menentu, karina berusaha menguatkan hatinya dengan hasilnya nanti, saat kain terbuka sempurna di telapak tangannya, terlihat buah lemon yang sudah berubah warna menjadi MERAH.


karina meninggalkan buah lemon begitu saja, langkah kakinya sangat cepat menuruni tangga, tujuannya sekarang adalah kantor andika.


BRUAK

__ADS_1


karina membuka pintu ruangan meting dengan kasar.


" sudah aku bilang!! ada seseorang disana! " teriak karin menatap andika dari depan pintu ruang meting .andika benjak berdiri dari duduknya menatap bingung istrinya. pandangannya menatap semua kolega bisnisnya.


"ada sesuatu di rumah kami! suara tembakan itu! ada seseorang di rumah andika, ada arwah di rumah kita!," karin terus berteriak dengan nafas menggebu gebu andika berjalan menghampiri karin dan mencoba memeluk istrinya, namun karin mendorongnya kuat.


"jika tidak, tidak mungkin lemon yang di taruh prof.herdy berubah jadi warna merah, jadi merah andika" teriak karina histeris , andika memaksa memeluk tubuh karin dengan kuat.


" aku tidak berbohong andika, kau bisa tanyakan pada nisa, kalau kau tidak percaya". ucap karin di sela sela nafasnya .andika masih memeluk erat tubuh karin tanpa mengucapkan sekatah patahpun.


andika mengelus rambut karin dengan lembut, andika bisa merasakan getaran hebat pada tubuh istrinya, cengkraman kuat pada jas nya sudah menunjukan bagaimana karin sekarang, di biarkannya karin menangis sepuasnya di dalam pelukannya.


****


semua orang berkerumun melihat perkelahian andika dan prof.herdy. lebih tepatnya andika yang emosi memukul wajah prof. herdy.


BUGH


" kau pikir siapa kau!!" andika memukul wajah prof herdy kembali.


" kau profesor, iya kan!!" di tariknya kerah prof herdy kuat.

__ADS_1


PLAK


PLAK


andika berjalan maju sambil menampar pipi kiri dan kanan prof herdy, prof herdy berjalan mundur dengan mengadahkan tangannya berusaha menghalau pukulan selanjutnya.


andika mendorong tubuh prof herdy," kau mencari uang dengan cara menakut nakuti seorang perempuan!? jaga lidahmu!!" bentak andika .


paman andika langsung menarik tubuh andika, agar tidak berbuat lebih jauh," kau bilang ada hantu di rumahku!" teriak andika dengan tubuh di pegang kuat pamannya.


" ya, memang ada hantu di rumahmu, yang akan meminum darahmu" teriak prof herdy, yang ikut tersulut emosi.


" aku akan melaporkanmu ke polisi, awas!! jika kau datang kembali ke rumahku!!" teriak andika yang di bawa pamannya menjauh meninggalkan tempat itu.


" panggil saja polisi! silahkan ! panggil!!" teriak prof herdy mengacungkan tangannya ke arah andika yang di seret pamannya menjauh.


" kau tidak tahu aku haah!! aku andika wirawan". teriak andika terus meronta dari seretan pamanya.


" panggil saja polisi, aku sudah terbiasa menghadapi orang seperti kau" teriak prof herdy emosi.


mobil andika meninggalkan tempat itu, begitupula prof herdy masuk ke dalam gedung, mengabaikan kerumunan orang yang masih berada di sana. prof herdy mengusap wajahnya yang basah karena keringat, dan sudut bibirnya yang berdarah.

__ADS_1


__ADS_2