Marsyalfa Gadis Istimewa

Marsyalfa Gadis Istimewa
Kembali ke kampus


__ADS_3

" apa kau bisa menceritakan tentang fadhiya?" tanya Rania,


pak Ujang diam tanpa menjawab pertanyaan Rania, kepalanya menunduk dan tubuhnya bergetar .


" lebih baik bapak istirahat saja, ini juga sudah sore" ucap pak Hanz.


"Rania, lebih baik kita kembali ke kampus, tidak baik kita terlalu lama disini".


" apa lebih baik pak Ujang ikut saja dengan kita ke kampus?"


"tidak Rania, sepertinya misteri ini cukup rumit ,lebih baik kita bicarakan dulu dengan yang lain, jangan terlalu terburu-buru mengambil keputusan".


"baiklah, ini memang sudah waktunya kita harus kembali" ucap Rania yang melihat waktu sudah menunjukan jam 3 sore.


"pak, kami harus kembali ke kampus, mungkin besok kami akan kembali lagi dengan yang lain kemari" pamit pak Hanz.


pak Ujang hanya menganggukan kepalanya, hatinya sudah mulai tenang dan tubuhnya tidak lagi bergetar.


pak Hanz pergi dari vila dengan di ikuti Rania di belakangnya.rania menoleh ke belakang, saat dirinya merasa aura aneh dari arah hutan terlarang.


" apa yang sebenarnya terjadi disini, aku merasa akan ada sesuatu yang besar akan segera datang, semoga pak Ujang baik baik saja" ucapnya dalam hati , kembali mengikuti pak Hanz yang mulai berjalan jauh.


"pak Hanz!" panggil Rania.


"iya" jawab pak Hanz menoleh sebentar.

__ADS_1


"apa kau tau sesuatu?"


" jangan bicara apa pun dulu Rania, ini bukan tempat yang tepat, kita harus tetap waspada disini, kita bicarakan dengan yang lain nanti".


Rania mengangguk paham" iya benar, aku melupakan itu".


angin berhembus dengan sangat kencang ,membuat dedaunan bergerak gerak mengikuti angin yang berhembus , air sisa hujan menetes membasahi wajah dan tubuh mereka, membuat tubuh mereka menggigil kedinginan.


suara suara burung gagak, dan burung hantu mulai bersautan, seakan memberitahu mereka, keberadaan para makhluk di sana.


Rania membekap tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya erat, sesekali mengusap ngusap tubuh dan kedua telapak tangannya.


"huuuh..huuuh.."


di lihatnya sekeliling sudah mulai gelap, padahal waktu baru menunjukan pukul setengah 4 sore.


pohon-pohon yang menjulang tinggi seakan tidak membiarkan cahaya matahari masuk ke dalam sana. sehingga membuat suasana semakin dingin, di tambah cuaca yang masih sedikit mendung.


beruntung mereka pulang, hujan sudah reda, kalau tidak mereka terpaksa akan menginap di villa itu.


aura negatif disana seakan semakin kuat, membuat tubuh keduanya merasa ada sesuatu yang mengganggunya.


namun, keduanya tidak bisa melihat apapun disana.


hanya bisa berdoa dalam hati dengan kepercayaan masing-masing, tetap waspada menatap sisi kanan dan kiri mereka dengan tanpa mengucapkan satu patah katapun.

__ADS_1


mereka sibuk memfokuskan fikiran mereka ke tujuan di depan sana dan menghangatkan tubuh mereka.


bangunan megah menjulang tinggi, dengan tulisan khas sebuah kampus sudah terlihat jelas.


akhirnya mereka sampai dengan selamat, tidak ada gangguan apapun di jalan. padahal kini jam sudah menunjukan pukul 4 lewat.


entah kenapa, perjalanan kembali lebih lama, dari pada saat mereka berangkat tadi.


mereka melangkahkan kakinya memasuki gedung mewah itu dengan perlahan dan masih dalam tahap waspada.


walapun mereka tidak bisa melihatnya, tapi mereka bisa merasakan kehadirannya.


lorong demi lorong mereka lewati , benar benar bangunan yang megah dan luas, sangat di sayangkan banyak korban jiwa disini.


ruangan aula sudah di depan mata, membuat mereka menghembuskan nafasnya lega.


wuuuussshh


angin berhembus menerpa bagian tubuh belakang mereka.


pak Hanz langsung menarik tangan Rania berlari membuka pintu aula dengan kasar.


BRaak !


pintu kembali di tutup dengan kasar.

__ADS_1


__ADS_2