
pak hanz , daren,mail,ratih dan diki kini hanya bisa berdiam diri di perahu kayu yang beberapa saat yang lalu mereka naiki.
" ini semua gara- gara kamu ! kau yang memberikan usul kita untuk menaiki perahu ini, sekarang lihat!! kita malah terjebak disini" ucap didi geram menatap ke arah ratih.
" maaf, aku tidak tahu jika akan terjadi seperti ini" sesal ratih.
" halah, alesan saja. perempuan hanya bisa bilang maaf tanpa melakukan sesuatu, harusnya kamu mengorbankan nyawamu untuk keselamatan kami. karena semua ini gara- gara kamu" tuduh didi.
ratih hanya diam menunduk tanpa mengatakan apapun lagi.
" sudah, sudah.. ini bukan saatnya untuk saling menyalahkan, aku sebelumnya sudah bilang. hutan ini berbeda, kecil kemungkinan kita bisa keluar dari sini, yang harus kita fikirkan sekarang adalah bagaimana keluar dari perahu ini, tanpa menunjukan tubuh kita dari air" kata pak hanz.
" itu mustahil pak, seandainya kita berdiri saja, sudah jelas bayangan kita akan terlihat di air sungai ini" kata mail frustasi.
"ya kamu benar, sosok ini akan membunuh siapapun yang bayangannya muncul di permukaan air" .
" tapi bagaimana mungkin, bahkan kita tadi bisa naik ke perahu ini dan itu jelas bayangan kita terpantul di air" ucap daren.
"aku sendiri tidak tahu, apa mungkin kita mendayung perahu ini ke arah yang salah?" kata pak hanz.
"bisa jadi pak, kita salah arah" jawab mail.
" hah, sudahlah! lemparkan saja tubuh ratih ke air sungai ini. agar kita selamat" kata didi enteng.
__ADS_1
" maksud kamu apa di, aku benar-benar tidak bermaksud membuat kalian semua terjebak" teriak ratih dengan isak tangisnya.
di saat perdebatan didi dan ratih sedang berlangsung, di udara ada siluman burung melintas di atas mereka, namun jaraknya cukup jauh. daren yang melihat burung yang sangat besar langsung memberi kode pak hanz dan mail. pak hanz dan mail menatap arah yang di maksud daren, matanya melebar , dengan cepat mail membekap mulut didi, begitupula daren, membekap ratih dan mendorong tubuhnya agar terbaring.
semuanya mencoba bersembunyi agar siluman burung itu tidak melihat ke arah mereka .
5 menit
10 menit
mereka melihat siluman burung itu masih berputar-putar di atas sana, entah apa yang sedang makhluk itu lakukan.
keringat mulai membanjiri wajah dan tubuh mereka, yang terasa pengap dan pegal karena tanpa berani bergerak dengan posisi yang sama.
akhirnya siluman burung terbang pergi entah kemana.
daren melepaskan bekapannya terhadap ratih, begitu juga mail melepaskan tangannya dari bibir didi.
mereka perlahan mulai duduk kembali, mengedarkan pandangannya guna melihat situasi disekitar.
" sepertinya sudah aman" ucap mail.
" sepertinya begitu" timpal daren.
__ADS_1
mereka akhirnya bisa bernafas lega, namun itu tidak berlangsung lama, ternyata siluman burung datang kembali dan melihat ke arah mereka.
"dia kembali, gawat!!" pekik daren panik.
" kita dayung perahu ini cepat, perahunya sudah bisa bergerak" teriak mail.
daren segera mendayung di bantu didi menuju tepi ke sungai, ratih mendongakan pandangannya ." kaa..makhluk burung itu terbang ke arah kita, bagaimana ini" teriaknya panik.
daren dan didi yang mendengar teriakan ratih yang mengatakan siluman burung terbang ke arah mereka bertambah panik, dengan cepat mengayuh dayung secepat yang mereka bisa.
BRAK
perahu menabrak akar pohon yang berada di pinggir sungai.
pak hanz langsung meloncat ke tanah dan berlari, di ikuti daren yang menarik tangan ratih kuat, mail dan didi menyusul di belakang mereka.
siluman burung mulai terbang rendah, mengejar mereka. walau jarak masih cukup jauh.
" sebelah sini!" teriak sosok riyan yang tiba-tiba muncul.
mereka semua terlonjat kaget, namun hanya sesaat, kemudian mereka berlari secepat mungkin mengikuti sosok riyan yang menunjukan jalan.
" kesini..kesini..Cepat" teriaknya menunjuk ke sebuah semak belukar.
__ADS_1
tanpa pikir panjang mereka semua masuk ke dalam semak- semak.