
"aku lelah sekali, tempat ini terlalu luas, bahkan banyak sekali lorong di sini, lihatlah ke atas" katanya sambil menatap ke lantai atas," masih banyak sekali tempat yang belum kita datangi, sebenarnya prof hanz , benar ada di sini atau tidak nis?" tanya karina sambil mengibaskan tangannya di depan wajahnya karena panas.
" iya, tempat ini sangat sepi, sepertinya memang tidak ada orang disini" sahut paman fikhar sambil menatap ke sekeliling.
" apa sebaiknya kita pulang saja? sepertinya percuma jika di teruskan" kata andika.
" tidak, kita sudah terlanjur datang kesini, mungkin mereka sudah tertidur di salah satu ruangan disini" ucap karina.
" lalu, kita mau kemana lagi, ini sudah pukul 11.30, sebaiknya kita cari tempat buat istirahat" kata paman fikhar menatap jam tangannya.
" emm, baiklah, kita lanjutkan besok saja, aku juga sudah sangat lelah" ucap karina.
mereka kemudian berjalan mencari ruangan yang aman untuk beristirahat.
" berhenti!" perintah andika.
" ada apa?" tanya karina sambil mengucek matanya, karena sedikit mengantuk.
" lihatlah" perintahnya .
semuanya menoleh ke arah tunjuk andika, mereka melihat bercak merah itu kembali.
" apa kita kembali ke tempat sebelumnya?" tanya nisa.
" eeh, sepertinya iya" kata karina sambil celingak celinguk memperhatikan sekelilinya, memang sepertinya tempat ini sudah mereka lewati tadi.
" bukankah tadi kita sudah berjalan jauh, tapi kenapa kita malah kembali lagi kesini?". kata nisa bingung.
" apa memang kita sedari tadi salah jalan, lalu berjalan di jalan pintas, hingga tiba disini?" kata paman fikhar.
__ADS_1
" kita bahas nanti saja, sebaiknya cari tempat dulu, untuk istirahat malam ini" kata andika melangkah berjalan melewati bercak merah itu, di ikuti yang lain.
saat semuanya melewati ruangan gelap, dengan bercak berwarna merah, tiba tiba angin datang dengan kencang, membuat rambut karina dan nisa yang tergerai berterbangan.
WUUSSH
lagi lagi angin datang secara mendadak , membuat mereka mau tidak mau menoleh kebelakang.
" kenapa tiba tiba angin sangat kencang ya? apa mungkin karena ini sudah larut malam" kata nisa setelah menoleh ke belakang tapi tidak ada apapun disana.
" iya, mungkin itu hanya angin malam, sebaiknya kita cepat cari tempat aman, angin malam tidak baik buat kesehatan, bukan?" kata paman fikhar.
semua kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
"aaah, tunggu" teriak nisa, yang merasakan sakit pada kakinya.
" ada apa nis?" tanya paman fikhar yang berjalan di depan nisa.
" ada apa?" tanya andika yang menoleh melihat paman dan nisa malah mengobrol.
" ini kaki nisa tidak bisa di gerakan katanya" ucap paman fikhar.
" tapi kenapa tiba tiba sekali, tadi baik baik saja" kata karina.
" aah, sakit!" pekik nisa meringis.
" coba aku lihat nis". ucap paman fikhar mendekat ke arah nisa.
tinggal dua langkah paman fikhar sampai di tempat nisa berdiri, tiba tiba nisa terjatuh dan tubuhnya terseret masuk ke dalam lorong yang gelap.
__ADS_1
"Aaaaawwwwkh, Tolong..." teriak nisa.
" Niiiissaaaa.." teriak paman fikhar, andika dan karina.
karina segera berlari mengejar nisa yang terseret masuk ke dalam lorong gelap itu," tunggu karin, jangan mendekat, kita tidak tahu di dalam sana ada apa" cegah andika mencekal lengan karina dengan kuat.
" aakh sakit , aku harus tolong nisa, dia kesakitan" ucap karina sambil mencoba melepaskan cekalan andika pada pergelangan tangannya..
" aku juga ingin menolongnya karin, tapi kita juga harus memikirkannya baik baik terlebih dulu, apa kau tidak lihat tadi, tiba tiba nisa merasakan sakit di kakinya, lalu tubuhnya terjatuh, seperti ada yang menyeret kakinya, dan kita tidak melihat apapun yang membawanya tadi" ucap andika menjelaskan.
" Tapi.." belum sempat karina melanjutkan perkataannya tiba tiba ,
" TO..LO..NG, !!" nisa kembali muncul dengan merangkak ke arah mereka, wajah nisa berlumuran darah, tangannya pun berdarah.
GREEP,
tangan nisa yang berlumuran darah memegang kaki karina kuat.
" TOL..ONG..AK..U " ucapnya terbata, tapi kemudian kakinya di tarik kembali dengan sangat kencang, membuat karin ikut terjatuh, karena tangan nisa memegang kaki karina.
andika langsung memeluk tubuh karina dan menariknya kuat, sedangkan paman fikhar melepas salah satu sepatunya, lalu..
BAAK!!
BAAKK!!
paman fikhar memukul tangan nisa yang mencengkram kaki karina dengan sepatunya , darah baru kembali keluar dari tangan nisa, mengalir di kaki karina dan menetes ke lantai, lalu tangan nisa melemah, dan terlepas dari kaki karina.
" MA'AF" ucap paman fikhar masih dengan memegang 1 sepatunya , menatap tangan nisa yang menghilang di lorong yang gelap.
__ADS_1
"sebaiknya kita cepat pergi dari sini" ucap andika, segera menggendong karina yang masih terpaku, karena syok.