Marsyalfa Gadis Istimewa

Marsyalfa Gadis Istimewa
Bercak merah


__ADS_3

syalfa dan rania sedang duduk di lantai memandang para lelaki yang sedang sibuk memindahkan puing puing bangunan yang membuat mereka terkurung di dalamnya.


" semoga tidak ada siluman yang datang ke sini" doa syalfa dalam hati.


rania memejamkan matanya, guna merasakan adakah aura lain yang mendekat ke arah mereka, ternyata bersih, tidak ada aura negatif di sekitar mereka.


" sepertinya ini akan sia - sia saja, lihat lah reruntuhan ini sangat tinggi, kita masih beruntung ada batu dan tiang besar yang menyangga reruntuhan, hingga kita tidak tertimpanya" ucap rasya sambil mengelap peluh di wajahnya dengan lengannya.


" iya, aku juga sudah sangat leleh" timpal giano duduk dengan meluruskan kakinya.


sedangkan mario tak mengatakan apapun, dia hanya mendekat ke arah kekasihnya syalfa dan duduk di sampingnya.


" apa kalian berdua ada ide?" tanya rasya pada syalfa dan rania.


" aku tidak ada, aku hanya ingin istirahat sebentar, kakiku masih sakit" ucap rania menatap kakinya.


" aku ada, tapi itu bisa mengundang makhluk lain datang mendekat dan itu sangat beresiko memikirkan waktu sekarang pas tengah malam, kita terlalu lama berada di dalam ruang bawah tanah tadi " ucap syalfa.


" iya, kau benar lebih baik kita tunggu besok pagi, lalu kita bertindak" ucap rania.


" tapi aku merasa, akan ada sesuatu terjadi di luar sana, dan mereka butuh kita".

__ADS_1


" apa?" tanya mario penasaran.


" aku dapat penglihatan ada orang baru datang di waktu yang tidak tepat, kali ini kita tidak bisa berbuat apapun, aku rasa mereka harus berusaha sendiri malam ini, di tambah sosok yang sedang mengejar mereka, adalah sosok yang sangat kita waspadai belakangan ini".


" maksud kamu?" tanya rania tak mengerti.


" sosok asap putih, sudah menemukan apa yang selama ini dia tunggu".


" haah, akhirnya misteri lain akan terkuak juga, tapi semakin banyak misteri yang terungkap, semakin berbahaya saja". ucap giano.


"apa mereka akan baik- baik saja? benar - benar nekad, datang di waktu malam seperti ini" timpal rasya.


" mereka hanya tidak tahan, dengan teror yang sosok asap itu, jadi mereka buru-buru kesini" ucap syalfa.


****


andika, karina, paman fikhar dan nisa turun dari mobil menatap bangunan yang terkesan horor bagi mereka.


" bangunan megah ini, sangat tidak cocok di bangun di daerah ini"ucap nisa.


" hemm, aku merasa tak nyaman" kata karina mengusap lengannya pelan.

__ADS_1


" hah, semoga dengan datang kemari itu pilihan yang tepat" kata andika menatap gedung di depannya.


"ayo kita masuk" ajak paman fikhar.


"nis, apa kamu sudah menghubungi prof hans ?" tanya karina berjalan sejajar dengan nisa.


" sudah, tapi nomornya tidak dapat di hubungi" .


mereka masuk ke dalam gedung kampus, benar- benar gedung yang mewah dan sangat luas.


" kita cari kemana, ini terlalu luas, sedangkan kita tidak tahu mereka berada di mana?" . kata karin


" ikuti kata hati kita saja" jawab paman fikhar.


mereka berjalan perlahan, melewati ruangan demi ruangan yang tertutup.


hingga tatapan mereka tertuju pada lantai di depan ruangan yang gelap, ada bercak berwarna merah disana.


" apa ini darah?" tanya karina .


" mungkin itu hanya cat berwarna merah yang tidak sengaja tercecer disini, lihat di ujung sana" tunjuknya, "ada bangunan yang roboh, bisa jadi sedang ada perbaikan" ucap nisa.

__ADS_1


" benarkah?" kata karin ragu.


" aah sudah, abaikan saja ,ayo kita jalan, ini sudah sangat larut, tidak baik berlama lama di luar" . ucap paman fikhar


__ADS_2