
Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore, semua orang masih berada di aula , ada yang bermain game di hp, mengobrol, memijat dan masih banyak lagi.
hingga angin berhembus membuat beberapa ranting pohon di belakang kampus berderit. suara- suara deritannya sampai hingga ke aula.
Semua orang diam, entah perasaan mereka apa memang ini firasat buruk.
Syalfa memegang dadanya yang sedari tadi berdebar, tangannya bergetar, kemudian syalfa memegang dadanya, berharap detak jantungnya kembali normal.
Begitupula rania, dadanya terasa sesak seperti menahan sesuatu, tangannya pun bergetar hebat, rania mengangkat kedua tangannya dan melihat perubahan pada kuku-kuku di tangannya yang tadinya berwarna putih, kini berubah menjadi warna hitam.
" Syalfa!" Panggil rania dengan masih menatap kukunya yang sudah berubah warna.
Syalfa menoleh lemah, lalu melihat arah tatapan rania yang tertuju kepada kedua tangannya yang terangkat. Syalfa bisa melihat kuku rania yang telah berubah warna hitam dan itu sangat pekat.
" Apa maksudnya ini? Apa, apa ini sudah saatnya?" Kata syalfa dengan bibir sedikit bergetar, jantungnya pun masih berdebar debar.
Syalfa dan rania mengambil nafas dalam dalam, lalu menghembuskannya perlahan, menatap semua orang yang mungkin merasakan kehawatiran yang sama.
__ADS_1
" Apa kalian merasa khawatir?" Tanya syalfa menatap semua orang yang diam.
" Iya, aku merasa gelisah" kata miss donna, dan di angguki semua orang.
"Aku harap kalian bisa berjuang untuk diri kalian sendiri, bertahanlah, percaya diri lah kalau kalian mampu, jika memang suatu saat kalian benar- benar tidak sanggup dan terucap kata MENYERAH pada hati kalian dan tenaga kalian tak sanggup lagi, ikhlaskan semuanya, aku harap jika kita mati nanti, jiwa kita tenang, tanpa ada rasa sesal ataupun dendam agar kalian bisa melangkah ke jalan hidup kalian selanjutnya di alam lain. Apapun cara kita mati nanti, aku harap kalian tetap ikhlas, walaupun dengan cara tidak wajar, ataupun mengerikan sekalipun, kita jangan sampai seperti mereka, kita lebih mulia dari mereka. Apa kalian paham?" Tanya syalfa.
" Iya kami paham" sahut sebagian dari mereka kompak.
Tapi sebagian dari mereka memilih diam, dan menunduk.
" Kami sudah ikhlas syalfa, tapi kami akan terus berjuang, jadi aku minta tolong padamu, jika kamu masih bisa melawan mereka, tolong musnahkan mereka semua, agar kami lebih tenang nanti, dan tidak akan ada lagi orang- orang yang bernasib sama seperti kami" ucap pak robert.
" Kita bisa melakukannya" ucap syalfa yang di angguki oleh mario dan rania.
Bangunan aula bergetar hebat, banyak pasir berjatuhan dari atap atap aula, dinding dinding mulai retak, bahkan lantai yang mereka pijakpun ikut retak, merembet dari ujung ke ujung ruangan.
Semua orang panik, berlari keluar ruangan untuk menyelamatkan diri dari reruntuhan. Hingga mereka berhasil keluar dengan selamat di susul robohnya bangunan itu. Semua orang menatap bangunan yang sudah luluh lantah , bangunan yang awalnya berdiri kokoh , megah dan mewah. Kini sudah rata dengan tumpukan puing puing bangunan.
__ADS_1
Kuawak
kuawak
Kuwaawwaak..
Suara burung gagak membuat tatapan mereka mendongak ke atas, banyak burung gagak berdatangan dengan jumlah yang sangat membuat mereka terkejut, puluhan? Bukan, tapi ribuan? Ribuan burung gagak terbang melintas di atas mereka menuju ke hutan terlarang.
" Apa ini, yang di namakan" menuju akhir sebuah kehidupan" gumam rania.
Angin berhembus dengan kencang , menerbangkan rambut panjang syalfa, baju yang mereka kenakan pun ikut berkibar.
Tatapan mereka tertuju pada satu titik, dimana datang segerombolan manusia berpakaian hitam, dan ada 7 orang memakai jubah kebesaran, dengan tudung yang menutup sebagian wajah mereka.
Tubuh semua orang terasa kaku, tapi pandangan mereka penuh waspada.
__ADS_1
Dilihatnya orang- orang berpakaian hitam itu yang sudah berdiri tidak jauh dari mereka berdiri.
Syalfa, rania, berdiri di tengah barisan paling depan. Di samping kiri syalfa ada mario, daren, pak hanz,dan lucky. Sedangkan di sebelah kanan rania, ada giano, pak robert, melani, dinda, dan bella. mereka berdiri tegap seakan menjadi benteng untuk yang lain.