Marsyalfa Gadis Istimewa

Marsyalfa Gadis Istimewa
Telepati


__ADS_3

Hari mulai gelap waktu sudah menunjukan pukul 7 malam, semua orang sudah berkumpul di ruang aula.


Tidak hanya para mahasiswa dan dosen saja yang datang, tapi pemilik kampus serta orang tua dari mahasiswa pun ikut datang.


Mereka sangat khawatir dengan keadaan anak mereka.


"Dimana gadis itu? Jangan bilang ini hanya sebuah lelucon saja" tanya salah satu orang tua mahasiswa baru.


"Harusnya pukul 4 mereka sudah kembali, semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi" kata dosen Dona khawatir.


"Memang mereka pergi kemana?" Tanya seorang wanita paruh baya.


"Mereka pergi untuk melihat kampus ini"


" Bukankah itu sangat berbahaya? Apa mereka hanya pergi berdua tanpa ada yang menemani?"


" Iya mereka hanya berdua" jawab dosen Dona menghela nafasnya.


" Aku masih tidak percaya dengan apa yang di sampaikan pak Dahlan, tapi karena saya dengar dari anak saya sendiri.jadi saya menyusul kemari"


"Iya kalau menurut akal sehat memang itu seperti lelucon, tapi setelah saya melihat dengan mata kepala sendiri kejadian tadi malam, saya jadi percaya pada gadis itu". Kata pak Dahlan.


" Ya, putraku sudah menceritakan nya" kata pak Rinto.


"Lalu bagaiman sekarang? Bahkan kedua gadis itu belum kembali sampai sekarang" tanya pak Rinto.


" Kita tunggu sampai besok pagi, kalau masih belum kembali. kita lapor ke pihak berwajib saja" kata pak Dio


"Apa kasus seperti ini pihak berwajib bisa menanganinya?" Tanya pak Rinto.

__ADS_1


Semua orang diam dengan pikirannya masing-masing.


" Aku masih tidak percaya , aku kesini untuk menjemput putriku pulang. Ini sudah cukup paling kedua gadis itu hanya membual."


" Ayo nak, kita pulang" ajak pak gio menarik lengan putrinya.


" Ayah, semua ini benar.aku sendiri melihatnya di depan mataku sendri, makhluk itu memakan mayat ayah" .kata gadis berkacamata.


" Halah, palingan mereka hanya mengerjai kalian saja ,mana ada makhluk seperti itu." Kata pak gio kekeh dengan pendiriannya.


Syalfa menahan nafasnya saat dirinya bersembunyi di balik lemari sebuah ruangan.


Matanya melihat ke arah lain, berpura pura tidak melihat apapun, Pasalnya ada sosok wanita tepat di depan wajahnya.


" Apa kau bisa melihatku?"


Syalfa masih diam melihat sekeliling, ruangan yang sempit dan berdebu tanpa merespon sosok wanita di hadapannya.


Syalfa masih pura pura tidak mendengar apapun, di lihatnya dari jendela ruangan itu. Makhluk burung itu masih terus memaksa melewati dinding pembatas yang dia buat.


"Aku bisa menolongku keluar dari sini, asalkan kau mau menolongku".


" Aku tidak percaya dengan arwah penasaran sepertimu".


" Dasar manusia sombong" sosok wanita itu mencekik leher syalfa hingga tubuh itu terangkat hingga ke langit-langit ruangan itu.


BRUGh


Tubuh syalfa di lempar kembali ke lantai dengan keras.

__ADS_1


" Apa kau masih ingin bermain denganku!!"sosok itu menatap tajam syalfa dan tertawa karena puas melihat syalfa yang memuntahkan darah segar.


Ckk


"Mahluk lemah" kata syalfa mulai berdiri kembali.


Mendengar ejekan syalfa sosok itu mencekik syalfa kembali dengan kedua tangannya.kuku panjangnya mencekram dengan kuat, hingga menusuk ke kulit leher syalfa dalam.


"Aaaaaaaaaakh"


Panaassss.


Sosok itu berteriak , tangannya terlepas dari leher syalfa merasa panas pada tangannya lalu menjalar ke tubuhnya.


Aaaaaaaaaakh panas, sakit teriaknya lalu menghilang begitu saja.


Syalfa hanya tersenyum sinis. Lalu memejamkan matanya.


"Kamu dimana?"


" Aku masih tidak jauh dari tempat kita berpisah".


"Apa kau bisa pergi dari sana? Kita harus kembali secepatnya, akan ada sesuatu yang terjadi.


" Entahlah, tapi aku akan mencobanya"


"Baiklah sampai bertemu".


Syalfa melakukan telepati dengan Rania, ini sudah biasa mereka lakukan jika dalam keadaan seperti sekarang.

__ADS_1


Syalfa menatap makhluk burung itu yang mulai terbang meninggalkan tempat itu, syalfa berjalan perlahan keluar dari ruangan dan berlari secepat mungkin,Dilihatnya jam yang melingkar di pergelangan tangannya.waktu tinggal 15 menit lagi hal buruk akan terjadi di aula.


__ADS_2