MATA IBLIS (POLISI HEBAT KILLER)

MATA IBLIS (POLISI HEBAT KILLER)
CHAPTER 125


__ADS_3

...**...


Kira on.


Ada saatnya kau marah pada orang lain karena apa yang kau rasakan sangat bertentangan dengan apa yang ada di dalam hatimu. Kau boleh marah, jika apa yang dikatakan seseorang tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam hatimu.


Kira off.


Di sebuah tempat.


Seorang pemuda yang kini sedang melihat berita yang dikeluarkan oleh pemerintah mengenai tempat keramaian.


"Selamat sore pemirsa dimanapun anda berada. Kita semua mendapatkan imbauan dari pemerintah, untuk saat ini hindari perkumpulan keramaian. Misalnya di tempat menunggu bis, atau tempat antrian kemacetan, ataupun tempat keramaian lainnya." Seorang reporter cantik telah membacakan berita itu dengan ragu. "Kepolisian akan mengatasi masalah tersebut. Ada kemungkinan kita semua akan diawasi dengan sangat ketat untuk menghindari semua kecelakaan yang tidak wajar ini. Saat ini pihak kepolisian sedang berusaha untuk mengatasi masalah kecelakaan misterius itu." Report cantik itu terus membacakan informasi yang tentunya memang akan diberitahukan kepada masyarakat kota Higashiyama.


"Ho?!. Jadi kalian mengambil kesimpulan seperti itu untuk mengatasi masalah yang terjadi?." Ada sensasi aneh ketika ia mendengarkan apa yang dikatakan oleh reporter cantik itu. "Sepertinya ada seseorang yang dapat mengetahui kata kunci pertama dalam kasus ini." Entah kenapa pada saat itu ia merasa berdebar-debar, karena ia merasakan ada seseorang yang dapat mengetahui kunci pertama dari masalah itu. "Keramaian?." Ia ingin tertawa setelah mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh reporter wanita itu. "Sepertinya ada seseorang yang mencoba untuk memecahkan kasus ini. Aku akan mendapatkan lawan yang mungkin dapat mengalahkan aku?." Ada perasaan yang ia sukai pada saat itu, jika memang ada seseorang yang ingin melawan dirinya.


"Mari kita lihat sejauh mana dia bisa menghadapi aku nantinya." Gejolak yang ada di dalam dirinya semakin besar ia rasakan. "Rasanya aku tidak sabar ingin berhadapan dengan orang itu. Aku sangat yakin dia sedang berusaha untuk mengetahui siapa dalang yang sebenarnya." Ia semakin merasakan gejolak yang sangat tidak biasa mengalir ke dalam tubuhnya. "Mari kita bermain-main." Kali ini terlihat hawa kegelapan yang menyelimuti tubuhnya.


...***...


Kira telah bertemu kembali dengan Michio Rei. Ia menceritakan semua yang telah ia dapatkan dari interogasi itu.

__ADS_1


"Wanita itu telah mengakui kejahatan yang telah ia lakukan. Memang dia yang telah mendorong temanmu itu." Dengan berat hati Kira berkata seperti itu pada Michio Rei.


"Tapi atas dasar apa ia melakukan pembunuhan itu?. Apakah kau bisa menjelaskan padaku kenapa ia melakukan itu?." Tentunya Michio Rei ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Seperti yang aku katakan padamu sebelumnya. Hasrat yang telah mendorong seseorang melakukan kejahatan itu, sehingga tanpa sadar ia menerima uluran tangan seseorang yang memang telah jatuh dalam kegelapan." Jawab Kira sambil mengingat apa yang telah terjadi pada saat itu.


"Aku sungguh tidak mengerti apa yang telah kau katakan." Michio Rei terlihat menghela nafasnya. "Tapi setidaknya aku berterima kasih padamu, karena kau telah menyelesaikan kasus ini dengan sangat baik." Michio Rei sangat lega. "Kau memang teman yang sangat bisa diandalkan. Kau adalah teman terbaik yang pernah ada." Michio Rei selalu memuji apa yang telah dilakukan oleh Kira.


"Hm. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang polisi." Kira tentunya tidak berbangga hati hanya karena mendengarkan pujian dari temannya.


"Tapi tadi diberita aku mendengarkan pengumumannya mengatakan untuk menghindari keramaian umum." Michio Rei teringat dengan apa yang telah ia lihat di berita TV hari ini. "Apa maksud dari larangan itu?. Bisakah kau menjelaskan kepadaku kenapa ada larangan itu?." Michio Rei ingin mendengarkannya secara langsung dari temannya itu.


"Sebenarnya tidak ada yang salah dengan keramaian. Namun yang salah sebenarnya adalah suasana hati ketika berada di keramaian." Jawab Kira dengan suasana hati yang tidak nyaman. Ia juga bingung mau menjelaskan seperti apa pada temannya. "Hasrat dorongan sebenarnya berasal dari hati yang sangat kacau. Sakit hati setelah dikecewakan atau merasa kecewa pada suatu hal yang bertentangan dengan hati. Karena aku tidak bisa menjelaskan suasana seperti itu, aku meminta ketua untuk melarang siapa saja untuk berkumpul atau berada di keramaian di tempat umum." Hanya seperti itu saja yang dapat dijelaskan oleh Kira.


"Aku harap kau bisa menguatkan hatimu. Sampai aku menangkap orang yang telah berani memberikan hasil dorongan mengerikan itu pada orang lain, aku pasti akan menangkapnya dengan tanganku." Kira telah membuat keputusan yang sangat besar di dalam hidupnya.


"Aku akan mengingat apapun yang kau katakan padaku. Aku yakin yang kau katakan itu demi keselamatan semua orang." Walaupun ia tidak mengerti sepenuhnya dengan apa yang telah dikatakan oleh Kira, ia percaya jika apa yang telah dilakukan kira untuk menyelesaikan kasus aneh yang sedang terjadi di kota Higashiyama.


Namun saat itu smartphone Kira berbunyi, ia melihat siapa yang memanggil. Sedangkan Michio Rei sangat penasaran dengan nama yang telah tertera di sana.


"Ya?. Halo?." Kira terlihat sangat lembut ketika mengangkat telepon itu. "Ada apa ruka chan?." Seketika senyumannya terlihat sangat ramah, begitu suka dengan sorot matanya yang terlihat dipenuhi dengan kasih sayang.

__ADS_1


"Kira?." Dalam hati Michio Rei terpana melihat hal yang tidak biasa yang diperlihatkan oleh Inuzuka Kira.


"Apakah ayah masih sibuk?." Ruka yang berada di rumah sakit kini sedang berusaha untuk menyampaikan apa yang telah ia rasakan pada Kira. "Apakah ayah masih lama datang ke sini?. Aku sangat merindukan ayah. Kapan ayah akan datang menemuiku?." Sungguh ia telah mengungkapkan apa yang ia rasakan pada saat itu.


"Besok. Ayah akan datang besok, jika tidak ada halangan. Ayah akan segera datang ke sana." Kira tidak bisa berjanji begitu saja karena ia ingin menyelesaikan masalah ini dengan secepatnya.


"Um. Aku akan menunggu ayah dengan sabar di sini. Tapi setidaknya ayah harus menghubungi aku jika ayah tidak bisa datang ke sini ya?." Dengan berat hati Ruka mencoba menaikkan perasaan rindunya. Tentunya Kira dapat merasakan itu, sehingga itu mengganggu perasaannya.


"Nanti malam sebelum tidur, ayah akan menggunakan video call untuk melihat keadaanmu." Kira sepertinya berusaha menjadi seorang ayah yang baik untuk seorang anak yang telah kehilangan kedua orang tuanya. "Saat ini ayah sedang bekerja, maafkan ayah ya?." Ada perasaan tidak enaknya ia rasakan, namun ia terpaksa melakukan itu.


"Um. Terima kasih karena ayah telah menyayangiku." Setidaknya Ruka merasa senang karena ayahnya akan melakukan panggilan video call sebelum ia tidur nantinya.


"Jika terjadi sesuatu padamu di sana, maka segera hubungi ayah ya?." Sebenarnya ada perasaan iba yang ia rasakan pada saat itu, namun harus ia tahan demi memecahkan kasus ini. "Ayah sangat menyayangimu, ruka chan." Kira hampir saja menangis ketika mengucapkan kalimat itu.


"Ruka juga sayang ayah." Ruka juga hampir saja menangis ketika mendengarkan apa yang telah diucapkan oleh Kira.


Setelah itu Kira menutup panggilan itu, karena ia tidak sanggup lagi untuk menahan kesedihan yang ada di dalam hatinya.


"Kira?." Michio Rei dapat melihat surat kesedihan yang ada di dalam mata temannya itu. "Apakah kau benar-benar memiliki seorang anak?." Ia bertanya dengan hati-hati pada Kira.


"Dia hanyalah anak malang yang telah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, akibat hasrat dorongan yang telah ditinggalkan seseorang padanya." Kira benar-benar berusaha untuk menekan perasaan sedih yang ada di dalam hatinya pada saat itu.

__ADS_1


"Kau harus kuat dengan apapun kondisinya. Katakan padaku jika kau sudah tinggal tak sanggup lagi." Sebagai seorang teman Michio Rei sangat memahami usaha kerja keras yang telah dilakukan Kira.


...***...


__ADS_2