
Kira on.
Sebenarnya keadaan Sakurai Senpai belum sepenuhnya sembuh, ada beberapa cedera Patah tulang yang ia terima pada saat itu akan tetapi ia masih saja bersikap biasa-biasa saja seakan-akan tidak terjadi apa-apa pada saat itu. Sungguh Sangat luar biasa sekali tekad Sakurai Senpai untuk mendapatkan jawaban yang ia inginkan. Aku telah bersumpah akan membantunya untuk menyelesaikan masalah itu sampai selesai.
Dua hari berlalu.
Kondisi Sakurai sudah membaik, tubuhnya sudah terawat dengan baik selama di Rumah sakit. Meskipun sesekali ia masih merasakan denyutan di punggungnya. Tapi ia mencoba mengabaikan itu, demi mencari kebenaran yang akan ia dapatkan dari hasil interogasi yang akan ia lakukan bersama Kira.
"Kau masih mau melakukan interogasi, nakamoto san?." Naoki dengan ragu bertanya, ia tidak yakin ini adalah bentuk cemas atau karena apa.
"Tentu saja." balas Sakurai sedikit sewot. Ia sedang melakukan persiapan sebelum masuk ke ruang interogasi. "Aku tidak akan melepaskan siapa saja yang terlibat dalam kasus undangan berdarah." Hatinya saat ini sedang memuncak. "Hanya kematian yang akan menghentikan aku. Sakit seperti ini belum apa-apa bagiku." Sorot matanya sangat tajam, ingatannya masih tidak bisa lepas dari masa lalu yang menyakitkan.
"Souka." Naoki tidak berkomentar lagi, ia hanya percaya dengan apa yang dilakukan Sakurai nantinya akan berjalan lancar. "Jika ada sesuatu yang bisa aku bantu, katakan saja nakamoto san. Semoga aku bisa membantumu." Ada sedikit rasa simpati di dalam dirinya. Ia tidak menyangka akan melihat seseorang yang berjuang untuk melangkah ke depan, walaupun hanya sebelumnya ia sangat cuek sekali.
"Dia ini semangat sekali." Dalam hati Ryoma merasa heran. Biasanya seseorang akan menyerah begitu saja setelah mendapatkan tekanan yang hebat.
"Terima kasih atas tawarannya. Akan sangat baik jika memang kalian ikut membantuku." Sakurai hanya tersenyum kecil saja. Hatinya merasa sangat ragu, jika Naoki akan membantunya suatu hari nanti. Hanya Kira yang bisa ia percayai. Namun saat itu, ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan itu.
"Permisi." Ucap seseorang dengan sopannya. Seorang laki-laki terlihat seperti anggota kepolisian yang bisa dipercaya?. Tapi untuk apa dia datang ke kantor cabang?. Apakah ada urusan?.
"Siapa ya?." Ryoma yang bertanya. "Ada yang bisa saya bantu?." Ryoma bertanya dengan ramahnya. Mungkin ia memerlukan bantuan, sehingga ia datang ke sini.
"Maaf, namaku sayaka akimoto. Baru pindah ke sini hari ini. Salam kenal semuanya." Lelaki bernama Sayaka Akimoto menunjukkan surat pengajuan pindah tugas pada Sakurai Nakamoto sebagai penanggung jawab kantor cabang ini.
Sakurai mengambil kertas itu dan membacanya. Ternyata memang benar, sebelumnya ia berada di cabang timur, sekarang pindah ke tempatnya?.
"Baiklah. Aku harap kita bisa bekerja dengan baik, juga dengan lainnya yang mengatasi kasus kriminal tingkat daerah saja." Sakurai langsung menerima kedatangan Sayaka Akimoto tanpa banyak bertanya. "Jika ada masalah nantinya tanyakan saja." Lanjutnya sambil menyimpan surat yang dibawakan oleh Sayaka Akimoto tadi.
"Terima kasih karena menerima saya di sini." Sayaka Akimoto merasa senang langsung diterima, ia pikir tadi akan sedikit mengalami kesulitan, ternyata tidak.
"Baiklah, ayo kita lakukan." Sakurai memerintahkan Ryoma, Naoki, dan kira agar segera melakukan interogasi terhadap Yamahisa Tatsuya.
__ADS_1
"Siap!." Naoki dan Ryoma telah siap, untuk membantu Sakurai. Meskipun mereka hanya mengawasi dari luar saja. Hanya Kira dan Sakurai saja yang masuk ke dalam ruangan.
"Lalu bagaimana dengan saya ketua?. Apa yang bisa saya bantu?." Sayaka Akimoto tidak mungkin diam dan duduk saja kan?. Pasti ada yang bisa ia kerjakan. "Ini adalah pengalaman pertama saya di sini mengintrogasi seseorang. Karena itulah saya mohon izinkan saya untuk mencatat laporannya." Sayaka Akimoto sangat memohon, sehingga mereka terkejut dengan apa yang dilakukannya.
"Tapi-" Belum sempat Sakurai meneruskan ucapannya Sayaka Akimoto malah memotong ucapannya
"Izinkan saya masuk ke ruangan interogasi, saya mohon!." Sayaka Akimoto membungkukkan badannya, memohon pada Sakurai agar diizinkan ikut masuk ke ruang interogasi.
"Sangat memaksa sekali. Apa yang dia inginkan?." Naoki merasa heran dengan tingkah Sayaka Akimoto.
"Aku ragu apakah kira akan mengizinkannya." Dalam hati Ryoma merasa ragu dengan apa yang diinginkan Sayaka Akimoto pada hari pertama ia bertugas di sini.
Sementara itu, Sakurai menatap Kira yang dari tadi hanya diam saja. Sakurai meminta izin pada Kira apakah diperbolehkan masuk?. Kira menganggukkan kepalanya tanda ia setuju. Kira merasakan ada yang tidak beres dengan kedatangan Sayaka Akimoto hari ini. Bukannya ia bermaksud mencurigai kedatangan Sayaka Akimoto, hanya saja firasat jiwa iblisnya mengatakan demikian. Tapi untuk saat ini ia hanya diam saja, masih menunggu gerak gerik yang akan ditunjukkan pemuda itu suatu hari nanti.
"Baiklah, kau boleh masuk." Sakurai menyetujui permintaan Sayaka Akimoto, ia tidak mau mengecewakan anak buahnya yang baru.
"Terima kasih banyak ketua nakamoto." Dengan semangatnya Sayaka Akimoto berkata seperti itu. Sedangkan mereka semua hanya senyum-senyum saja. Mungkin karena ingin mengerjakan tugas pertama, makanya ia melakukan itu?. Lupakan, mereka semua menuju ruangan yang akan menjadi saksi, apakah Yamashita Tatsuya akan mengakui perbuatannya atau tidak.
Pada saat itu kedua anak buah Sakurai senpai yang lainnya telah merasakan simpati pada Sakurai senpai. Namun di sisi lain, aku sedang melihat ada benang hitam takdir kegelapan yang mencoba untuk membuat relasi dengan jalan hidup ini. Sayaka Akimoto, aku sangat penasaran bagaimana relasi yang akan terjadi pada kami selanjutnya.
Sakurai, Kira, dan Sayaka saat ini berada di ruang khusus interogasi. Kira duduk dihadapan Yamashita Tatsuya, sedangkan Sakurai berdiri di sampingnya. Lalu bagaimana dengan Sayaka?. Ia duduk di kursi belakang mereka, mengamati jalannya interogasi, sambil mencatat hal penting apa saja yang dapat diambil dari keterangan pelaku nantinya.
Kira menatap mata Yamashita, tatapan mata itu, begitu dalam. Entah mengapa suasana ruangan itu terasa aneh, lebih mengerikan dari yang dibayangkan.
"Oh?. Sepertinya hawa ini sangat tidak biasa. Apakah sakurai senpai memang ingin membunuh orang yang ada dihadapannya?. Lihatlah pembaca tercinta, sakurai senpai sepertinya telah menyalurkan gejolak hasratnya padamu." Dalam hati Kira menyeringai lebar karena merasakan gejolak tidak biasa dari Sakurai.
"Aku merasakan aura yang tidak menyenangkan di sini." Dalam hati Sayaka, ia melihat Sakurai dan Kira masih tenang-tenang saja, sementara ia?. Merasa tidak nyaman sama sekali, ditambah ia merinding melihat bagaimana ruangan itu seperti ruangan berdarah?. "Kenapa?. Apakah hanya aku saja yang merasakannya?." Dalam hatinya merasa sangat gelisah, ia belum pernah merasakan perasaan seperti itu.
"Lakukan dengan baik kira. Aku serahkan interogasi ini padamu." Sakurai sepertinya sudah muak dengan basa basi yang ia lakukan selama ini.
"Hehe!. Ryoukai!." Kira sangat senang, karena kali ini ia langsung pada pekerjaannya. "Akan aku gunakan kekuatan mataku dengan benar." Dalam hatinya.
__ADS_1
"Hum?. Jadi si anjing itu yang melakukan interogasi?." Dalam hati Sayaka memperhatikan dari belakang.
"Yamashita tatsuya, aku hanya membutuhkan jawaban yang benar. Jangan coba-coba bungkam atau menyembunyikan apapun dariku." Kira mulai nampak serius, ia memasuki mode interogasi. "Jika tidak, Pisau ku ini akan membuatmu bicara." Kira mengeluarkan pisau kecil dari sakunya. "Jangan sampai aku menggunakan pisau ini memaksamu untuk berkata dengan jujur." Namun ancaman kecil seperti itu belum membuat Yamahisa buka suaranya.
Pada saat itu aku mengizinkan Sayaka untuk masuk ke dalam ruangan khusus interogasi yang akan kami lakukan. Aku memang sengaja melakukan itu Supaya dia dapat melihat bagaimana proses itu yang sebenarnya. Aku ingin melihat, kepada siapa dia akan melaporkan apa yang telah kami lakukan.
"Pisau?. Apakah seperti itu diizinkan?. Apakah seorang polisi diperbolehkan memiliki senjata pisau seperti itu?." Batin Sayaka merasa aneh. Sejak kapan Kira memegang pisau?. Apakah itu hanya sebuah ancaman, gertakan atau semacamnya?. Tapi apakah itu diperbolehkan selama interogasi?. Dan lebih lagi, mengapa tubuhnya tidak mau bergerak sedikitpun?.
"Sial!. Apa yang terjadi sebenarnya?. Bahkan aku tidak bisa berbicara." Tubuhnya terasa kaku, seperti orang ketakutan melihat sesuatu.
Sedangkan Yamashita Tatsuya masih diam, tidak menanggapi ucapan Kira. Sepertinya lelaki itu susah diajak untuk bekerja sama. Tapi apakah ia bisa lari dari interogasi yang dilakukan oleh Kira?.
Deg!!!
Kira telah menggunakan mata iblisnya untuk melihat apa yang ada di dalam mata Yamashita Tatsuya. Ia mencari apa yang tersembunyi di dalam mata itu. Sedangkan Sakurai untuk mengulur waktu, memberi waktu pada Kira untuk menyelami pikiran Yamashita Tatsuya.
"Yamashita tatsuya, kau adalah seorang pembuat besi. Bekerja di sebuah pabrik timah yang cukup terkenal." Sakurai mulai membacakan riwayat hidup singkat Yamahisa Tatsuya. "Sebelas tahun yang lalu terdapat sebuah laporan yang mengatakan kalau kau mendapatkan pesanan untuk membuat pisau besar. Apakah itu benar?." Sakurai menekan dirinya untuk tidak terlalu meledak terlalu dini. Apalagi dengan sikap dingin Yamashita Tatsuya saat ini. "Ingin rasanya aku membunuh lelaki ini, karena dia yang telah membunuh anak dan istriku." Dalam hati Sakurai dengan suasana hati yang bergejolak.
"Ya, memang seperti itulah pekerjaan yang aku lakukan. Apakah ada masalah dengan itu?." Yamashita Tatsuya menjawabnya. "Banyak yang memesan padaku sebelas tahun yang lalu padaku. Lalu apa masalahnya?. Kenapa aku dijadikan tersangka hanya karena ada seseorang yang memesan pisau raksasa padaku?." Ia menatap tajam ke arah Sakurai.
"Memang tidak ada masalah. Tapi masalahnya adalah pisau itu adalah buatanmu!." Sakurai hampir saja mengamuk, jika saja tidak ditahan oleh Kira yang hampir saja memasuki kejadian sepuluh tahun yang lalu yang dilihat oleh Yamashita Tatsuya.
"Tenanglah, sedikit lagi. Tahan sebentar saja, kali ini akan terlihat." Matanya tetap fokus melihat ke dalam mata Yamashita Tatsuya. Sakurai yang melihat dan mendengarkan apa yang dikatakan Kira hanya mencoba bersabar.
"Apakah kalian sudah putus asa karena tidak bisa menemukan pelakunya sehingga kau menjadikan aku tersangkanya?. Apa bukti yang kalian dapatkan jika aku telah melakukan kejahatan?." Ia seperti sedang menantang Kira yang dari tadi melihatnya dengan tatapan aneh. "Sebenarnya apa yang dilakukan orang ini?. Kenapa dia melihatku seperti itu?." Dalam hatinya bertanya-tanya.
Mata Iblis yang aku miliki tidak akan dapat ditipu, aku dapat melihat apa saja yang kau sembunyikan. Simak terus ceritanya, temukan jawabannya dalam kisah selanjutnya ya.
Kira off.
...***...
__ADS_1