
...***...
Kira on.
Hum?. Ini memang kasus yang agak unik, membuat aku merasa tertantang untuk menyelesaikan masalah ini. Akazuki Daiji, aku tidak akan membiarkan dia melakukan apapun yang dia inginkan. Aku akan menghentikan dia sesegera mungkin. Darah, dia telah menumpahkan banyak darah karena perbuatannya. Aku pasti akan mengalahkannya, aku harus mengalahkannya apapun caranya.
Kira off.
"Ini akan terasa sangat sulit untuk menjadi bahan laporan untuk rapat besok." Keluh Koji Isao dengan penuh lirih, karena ia tidak bisa memikirkannya dengan benar.
"Tapi yang dikatakan oleh kira itu sangat benar, kan?." Satoru Iwata hanya ingin memastikan itu.
"Lalu apa yang harus kita lakukan untuk rapat besok?." Atsushi Ichirou kali ini yang bertanya.
"Tapi yang menjadi pertanyaannya, tapi kenapa malah team kita yang ditunjuk untuk menghentikan bedebah busuk itu?!." Koji Isao benar-benar hampir menangis mengingat team harimau yang ditunjuk untuk mengatasi masalah Akazuki Daiji?.
"Kau dengar sendiri kan?. Jika team lain itu katanya telah memiliki tugas yang lain, dan team kita ini dianggap sebagai team pengangguran?!." Satoru Iwata adalah tipe orang yang cepat memanas, sehingga ia marah-marah pada Koji Isao yang selalu merengek. "Jadi hanya team kita yang dianggap pantas melakukan tugas ini, padahal mereka semua tidak sanggup untuk menangani kasus ini." Lanjutnya lagi dengan penuh emosi yang memuncak.
"Hah?!. Sangat tidak masuk akal!. Benar-benar menyebalkan!." Protes Koji Isao tidak terima. "Lantas kenapa kenapa si bodoh yamato malah hadir di TKP kedua kemarin itu?." Ia ingat ketika ia mendengar kabar jika Yamato Nadeshiko malah ikut hadir di TKP?.
Namun saat itu ia mendapatkan jitakan yang mematikan dari Satoru Iwata yang telah terbakar amarah.
"Adoh!." Ia segera menjauh dari Satoru Iwata. "Kenapa kau malah memukul kepalaku?." Ia juga kesal karena diperlukan dengan sangat kasar.
"Pasti kau tidur ketika rapat kan?. Sehingga kau tidak mendengarkan apa yang dikatakan mereka?." Satoru Iwata seperti sedang mengeluarkan amarah yang bertumpuk di hatinya. "Bukankah mereka sudah jelas mengatakan, jika ada korban dalam jumlah yang banyak maka mereka hanya membantu mengevakuasi korban dari TKP saja. Bukan untuk kasus penyelidikan, dan yang harus melakukan itu sampai tuntas adalah team kita." Dalam kemarahan yang ia rasakan ia malah menjelaskan pada mereka semua kenapa team mereka yang dipilih, serta alasan kenapa mereka masih ikut campur walaupun telah menyatakan diri tidak ikut secara keseluruhan.
"Kalau begitu kita juga bisa meminta surat pengajuan bebas tugas dari kasus gila itu!." Koji Isao kembali merengek dengan sedihnya.
Tapi apa yang ia dapatkan?. Kali ini sebuah piringan keras dari Satoru Iwata yang dari tadi sangat marah padanya.
"Lepaskan!. Lepaskan!." Ia berusaha untuk melepaskan diri.
"Apakah kau tidak dengar ancaman mereka yang mengatakan akan menghukum mati kita jika kita tidak bisa menghentikan orang gila itu?!." Satoru Iwata semakin kuat memiting kepala Koji Isao.
"Tapi dengan apa yang kita lakukan sama saja merak ingin kita mati!." Suara Koji Isao terdengar menggema di ruangan itu.
"Oi!." Hitoshi Tetsuya benar-benar tidak tahan dengan apa yang dilalukan oleh anak buahnya. Sedangkan yang lainnya hanya melihat saja, karena mereka sedang memikirkan hal lain untuk menyelesaikan kasus ini.
"Kegh!." Koji Isao segera menepis tangan Satoru Iwata. "Kau ini mau membunuhku ya?!." Dengan kesalnya ia menatap ke arah Satoru Iwata, setelah itu ia mencoba duduk dengan tenang.
"Huruf!. Kita ini hanyalah tumbal yang akan dikorbankan untuk menghentikan orang gila itu." Atsushi Ichirou yang kali ini mengeluh dengan apa yang terjadi. "Rasanya aku ingin membuat surat pengunduran diri hari ini juga." Lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Jika aku bisa melakukannya maka aku duluan yang akan membuatnya." Satoru Iwata juga ikutan merengek karena suasana hatinya yang tidak tenang sama sekali.
"Oh?!. Kalian hanya bisa mengeluh saja. Apakah kalian tidak memikirkan nasibku yang akan mati duluan?!." Hitoshi Tetsuya juga ikutan mengeluh sama seperti anak buahnya. "Lalu bagaimana menurutmu Kira?." Ia yang dari tadi mendengarkan keluhan apapun dari Kira. "Apakah kau memiliki ide atau saran yang bagus untuk menyelesaikan masalah ini?." Hitoshi Tetsuya ingin mendengarkan pendapat dari anak buahnya ini.
"Ada!." Jawabnya singkat.
"Ada?!." Mereka semua melihat ke arahnya dengan tatapan penasaran.
"Cepat sekali kau menjawabnya!." Satoru Iwata sangat heran dengan Kira.
"Aku bilang ada." Kira melirik tajam ke arah Satoru Iwata.
"Ok!. Ok!. Ok!." Mereka menghela nafas agar tidak terpancing amarah.
"Katakan pada kami ide apa yang kau miliki?." Satoru Iwata mewakili mereka semua bertanya seperti itu.
"Malam besok aku akan menunggunya di depan gerbang hutan gunung kabut berdarah." Jawabnya dengan santainya, sambil menopang dagunya.
Krik!.
Mereka terdiam sejenak mendengarkan apa yang dikatakan Kira. Semudah itukah dia berkata untuk melakukan hal gila itu?.
"Malam besok?!." Koji Isao yang bertanya.
"Menunggunya di depan gerbang kematian?!." Sambung Atsushi Ichirou.
"Apakah kau sudah gila?!." Lanjut Satoru Iwata dengan suara yang sangat keras.
"Ya, anggap saja seperti itu." Jawabnya dengan santai?.
"Kau ini ya?!." Koji Isao, Atsushi Ichirou, dan Satoru Iwata ingin menyerang Kira, akan tetapi tangan mereka berhasil ditepis dengan mudahnya oleh Kira hingga mereka meringis sakit.
"Aku tidak mengerti apa yang kau rencanakan sebenarnya kira. Tapi bisakah kau mengatakan padaku sebagai ketua mu, kenapa kau melakukan itu?." Hitoshi Tetsuya dengan pelan bertanya seperti itu pada Kira. "Kau pasti memiliki rencana, kan?!." Antara percaya atau tidak namun ia berusaha untuk mendengarkan apa yang sebenarnya yang diinginkan anak buahnya itu.
"Tapi kenapa malam besok?. Kenapa tidak malam ini saja kau melakukannya. Supaya kau lebih cepat mati malam ini!." Satoru Iwata sangat kesal, seakan-akan ia ingin menyumpahi Kira segera mati.
"Benar itu. Supaya kami yang dapat penghargaan atas jasa yang telah kau lakukan malam ini." Koji Isao malah berbangga hati berkata seperti itu.
"Tidak ada rencana khusus." Ia menjawab pertanyaan dari Hitoshi Tetsuya. "Karena malam ini dia tidak akan beraksi, jadi aku tidak bisa menunggunya di malam ini." Begitu santainya ia menjawab?.
"Hah?." Mereka semua tidak mengerti dengan apa yang ada di kepala Kira saat ini. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya ya pembaca tercinta.
__ADS_1
...***...
Hutan gunung kabut merah (berdarah).
Saat ini Akazuki Daiji sedang berdiskusi dengan anak buahnya. Ia mendengarkan kabar itu dan ia merasa tertarik?.
"Jadi kalian melihat seorang anggota polisi yang berani mendekati gerbang hutan gunung kabut berdarah ini?!." Ia bertanya karena perasaan penasaran yang membuatnya sedikit heran. Karena tidak biasanya ada yang berani mendekati gerbang itu, bahkan anggota kepolisian sekalipun. Karena banyak jebakan yang mereka pasang di sana. "Tapi bagaimana mungkin polisi itu aman?." Dalam hatinya bertanya-tanya.
"Benar. Beberapa kali dia melihat ke arah hutan ini." Jawab salah satu anak buahnya.
"Hanya melihat saja?." Ia heran dengan apa yang ia dengar. "Bahkan beberapa kali?." Ini sangat aneh baginya jika polisi itu masih hidup?.
"Ya, hanya melihat saja." Jawab anak buahnya.
"Dia tidak masuk ke dalam hutan untuk menyelidikinya?." Kali ini ia benar-benar merasa heran jika polisi itu masih dalam keadaan aman?.
"Tidak!. Dia hanya melihat dari gebang saja." Jawabnya lagi.
"Hm." Ia sedikit berpikir. "Bukankah kalau tidak salah ada paku beracun yang tersusun di sana. Jika diinjak oleh mereka yang bukan aku dan selain anak buahku, maka mereka akan tewas. Tapi polisi itu masih hidup?. Siapa dia sebenarnya?." Dalam hatinya memikirkan itu.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?." Mereka bertanya agar diberikan perintah.
"Baiklah. Jika memang seperti itu, malam ini aku istirahat sejenak. Lagi pula tidak ada permintaan pembunuhan." Hanya itu yang ia katakan. "Aku ingin mengasah pisau merah ku lebih tajam lagi." Ia lebih tertarik dengan pisau merah yang ia miliki, mungkin ia akan memikirkan masalah itu nantinya.
"Lalu bagaimana dengan polisi itu?." Mereka kembali bertanya karena tidak mendapatkan jawaban.
"Abaikan saja dia." Dengan cueknya ia berkata seperti itu.
"Abaikan?." Kembali mereka bertanya.
"Bunuh dia jika dia berani masuk ke dalam hutan ini." Setelah berkata seperti itu ia pergi meninggalkan mereka semua.
"Baiklah." Itu adalah perintah bagi mereka semua.
"Apa yang bisa mereka lakukan denganku?. Aku ini adalah iblis yang tidak bisa dikalahkan begitu saja." Dengan bangganya ia berkata seperti itu?. "Pisau ku adalah darah yang mengalir di dalam tubuhku." Ia berkata seakan-akan itu adalah sebuah syair yang sangat mengerikan.
Apakah ia tidak berpikir bahwa karma itu ada. Apakah karena ia bisa membunuh banyak orang atas kemauan serta permintaan orang lain sehingga ia bisa berniat sesuka hatinya seperti itu?. Apakah dia adalah manusia iblis yang tidak memiliki perasaan apapun?. Kita lihat saja karma seperti apa yang akan ia hadapi nantinya. Apakah Kira bisa menghentikan iblis yang harus darah itu?. Apakah benar yang ingin ia lakukan sebelumnya memang seperti itu?. Pembunuh berdarah dingin yang membunuh orang lain dengan tanpa perasaan. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya ya pembaca tercinta. Salam penuh cinta.
Next.
...***...
__ADS_1