
...***...
Kira on.
Manusia adalah makhluk yang paling rendah. Sehingga ia dengan mudahnya dipengaruhi apapun. Mereka yang tidak bisa menerima kenyataan hidup. Akan tetapi tidak bisa melakukan hal yang 1ebih berguna lagi. Apakah hasrat yang dimiliki manusia itu sebenarnya?. Kenapa ada hasrat baik dan hasrat buruk yang menjadi pilihan pada hidup seseorang?.
Kira off.
...***...
Pukul 20.30
Kira buru-buru masuk ke dalam rumah sakit umum anak. Tentu saja ingin melihat keadaan anaknya karena ia telah berjanji akan datang. Akan tetapi pada saat itu ia. Kira dengan hati-hati membuka pintu ruangan itu. Namun siapa yang menduga jika ada seorang anak yang menerpa tubuhnya dengan sangat kuat.
"Ayah!." Ruka langsng menerkam tubuh Kira ruangan baru saja masuk ke ruangan itu.
"Maafkan ayah, ya?." Kira merasa sangat menyesal karena membiarkan anaknya menunggu terlalu lama.
"Um." Misaki Ruka memeluk Kira dengan sangat erat. Sehingga Kira dapat merasakan perasaan sedih yang dirasakan oleh Ruka.
"Inuzuka-san." Dokter Ran mendekati Kira, tak lupa senyumannya yang sangat manis. "Syukurlah kau datang." Suasana hatinya sangat membaik setelah melihat kedatangan Kira.
"Maafkan aku dokter mitsuru." Kira sangat senang ada seseorang yang menemani anaknya utuk bermain. "Tapi setidaknya aku sangat berterima kasih pada dokter, yang telah bersedia menemani ruka chan." Itulah yang membuat Kira merasa lebih baik ketika meninggalkan ramah sakit. Meskipun Ruka bukanlah anak kandungnya, akan tetapi perasaan kasih sayang itu sangat kuat baginya.
"Tidak apa-apa." Ran merasa tidak keberatan sama sekali. "Ini adalah tugasku sebagai seorang dokter, yang selalu mengawasi pasien anak seperti ruka chan." Ia tersenyum kecil mengingat tugasnya sebagai seorang dokter.
"Ayah?." Ruka mendongak menatap mata ayahnya. "Apakah ayah tidak bisa menginap malam ini?." Dengan tatapan penuh memohon ia mengajukan pertanyaan seperti itu pada ayahnya.
Kira tampak berpikir, apakah ia benar-benar akan melakukan itu hanya karena permintaan dari anaknya. "Besok ayah akan meminta pertimbangan itu pada dokter yang merawat mu." Kira tidak ingin membuat anaknya kecewa dengan apa yang telah terjadi. Ia sedang memikirkan cara agar anaknya tidak terlalu berat, menghadapi masalah hidup yang sangat rumit itu.
"Jadi ayah tidak tidur di sini?." Dengan suasana hati yang sangat gelisah ia berkata seperti itu. "Kenapa ayah tidak bisa tidur di sini?." Dengan perasaan yang sangat cemas ia bertanya seperti itu pada Kira.
Kira tersenyum kecil sambil mengusap kepala anaknya dengan kasih sayang yang tidak ada duanya. "Hanya malam ini saja, karena besok ruka chan kapan pulang bersama ayah." Kira sangat mengerti dengan apa yang ada di dalam hati anaknya itu.
"Eh?. Benarkah?." Ruka dan Dokter Ruka sedikit terkejut mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh Kira.
"Ruka chan akan pulang bersama ayah besok, juga dokter mitsuru." Dengan senyuman yang ramah ia menjawab pertanyaan itu. Kira telah memikirkan itu semua demi Ruka.
"Yeiy!." Ruka langsung memeluk Kira dengan sangat. "Terima kasih banyak ayah." Suasana hatinya telah berubah menjadi lebih baik dari yang sebelumnya, sungguh ia sangat bahagia mendengar ucapan itu.
"Tapi bagaimana mungkin inuzuka san melakukan itu?." Dokter Ran tidak mengetahui sama sekali dengan apa yang telah direncanakan oleh Kira.
"Aku telah meminta izin pada kepala rumah sakit, apalagi dokter mitsuru adalah dokter profesional. Jadi aku meminta bantuan pada pihak rumah sakit, agar memintamu untuk merawat ruka chan di rumahku saja." Dengan sangat yakin ia berkata seperti itu.
"Baiklah." Dokter Ran tersenyum lembut mendengarkan penjelasan itu. "Jika memang seperti itu aku akan melakukannya dengan senang hati." Sepertinya ia tidak memiliki pilihan lain jika memang ia dipercayai untuk merawat seorang anak. Tapi bukan berarti itu yang merendahkan pekerjaannya sebagai dokter anak hingga menjadi seorang pengasuh anak. Tentunya ia menjaga mental anak itu agar tetap stabil. Sebagai seorang dokter tentunya ia ahli psikolog anak, yang akan memantau bagaimana perkembangan seorang anak dalam menghadapi hari-harinya. Itulah tugasnya sebagai dokter anak pada saat itu.
"Maaf, jika nantinya aku akan membuat dokter sedikit kerepotan." Kira memang terpaksa melakukan itu semua demi memulihkan mental anaknya itu.
"Um." Dokter Ran menggelengkan kepalanya. "Aku sangat senang jika pada akhirnya aku melaksanakan tugasku dengan sangat baik. Apalagi menjaga anak seluncu ruka." Senyumannya tak lepas dari senyuman yang sangat tulus, menetap seorang anak yang sedang mengalami nasib yang sangat buruk.
"Terima kasih ya." Kira sangat mendengar ucapan itu.
"Lalu apa yang akan ayah lakukan malam ini?." Dengan raut wajah yang sangat polos Ruka bertanya seperti itu.
"Malam ini ayah akan menyiapkan kamar yang rapi dan cantik untukmu." Kira sangat perhatian pada anak angkatnya itu. "Ayah harus pulang malam ini." Kira menepuk pelan kepala anaknya. "Besok, pukul sepuluh pagi. Ayah akan datang menjemputmu jadi malam ini ayah tidak bisa menemanimu di sini." Dengan hati-hati ia menjelaskan itu pada anaknya.
"Um. Ruka mengerti ayah." Ruka tidak ingin memaksakan dirinya untuk menahan ayahnya untuk berlama-lama di sana. Tapi setidaknya malam besok ia akan bersama ayahnya hanya itu saja harapannya.
"Ruka chan memang sangat pintar." Kira sangat lega jika Ruka mengerti dengan apa yang telah ia katakan.
__ADS_1
"Kalau begitu tolong jaga ruka chan ya?. Dokter ran." Sepertinya Kira hendak meninggalkan ruangan itu karena ada urusan penting yang harus ia kerjakan setelah itu.
"Ya. Tentu saja." Dokter Ran hanya terus yang kecil.
"Berhati-hati lah ayah." Ruka tahu jika ayahnya akan segera meninggalkannya.
"Ya." Kira merasa sangat lega jika anaknya tidak memaksanya untuk ikut malam itu.
...***...
Sementara itu, kantor kepolisian Kota Higashiyama.
Kichiro Seira masih belum memahami hasil dari interogasi itu. "Bagaimana mungkin seseorang bisa melakukan itu?." Setidaknya itulah yang ada di dalam pikirannya pada saat itu. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan dunia ini?." Kichiro Seira hampir saja frustasi memikirkan itu semua. "Inuzuka kira." Dalam keadaan yang sangat kacau seperti itu, ia malah teringat dengan Kira yang telah memperlihatkan hal yang tidak biasa padanya.
"Siapa dia sebenarnya?." Dalam hatinya mulai memperhatikan tentang siapa Kira yang sebenarnya. "Kasus ini juga terlihat sangat aneh, benar-benar membuat aku gila." Kichiro Seira tidak bisa berpikir jernih lagi, tapi masalah yang terjadi benar-benar membuatnya sangat gelisah. Apalagi ketika kira dapat membuktikan dua orang pelaku dalam kecelakaan maut itu.
...**...
Di sebuah kedai makan yang cukup ramai. Masahiko Katsu, Tetsu Wakana, Osamu Kei dan Madoka Yuna saat itu sedang bersama untuk membahas apa yang telah mereka lihat sebelumnya.
"Bagaimana menurut kalian?." Masahiko Katsu menatap teman-temannya. "Atas apa yang telah dikatakan oleh kira pada kita semua? Bagaimana?." Masahiko Katsu ingin meminta pendapat pada mereka.
"Tapi pertanyaannya adalah, bagaimana mungkin kira melakukan itu?. Dia itu seorang polisi atau seorang iblis atau apa?." Tetsu Wakana masih terlihat bingung dengan apa yang terjadi pada saat itu.
"Untuk saat ini kita tidak perlu memikirkan siapa kira." Osamu Kei menatap tajam ke arah mereka semua dengan tatapan yang sangat serius. "Entah itu dia iblis, alien, manusia, atau hewan, atau bahkan dewa sekalipun. Kita harus percaya dengan apa yang telah dia lakukan." Osamu Kei menghela nafasnya dengan lelahnya. "Jangan memperoleh pikiran kita hanya karena apa yang telah dilakukannya pada saat itu." Tentunya ia tidak ingin merepotkan dirinya hanya memikirkan hal-hal yang tidak penting seperti itu. "Jika kita memikirkan hal-hal yang seperti itu, maka itu hanya akan memperlambat kerja kita selama ini." Lanjutnya lagi.
"Kei?." Tetsu Wakana dan Madoka Yuna tidak menduga akan mendengarkan ucapan seperti itu dari Osamu kei.
"Aku setuju dengan apa yang dikatakan kei." Masahiko Katsu yang sebelumnya sangat setuju dengan apa yang telah dilakukan oleh Kira. Tentunya ia sangat mendukung apa yang telah dilakukan Kira.
"Seharusnya kita bersyukur dengan adanya kira. Sehingga kita dapat menyelesaikan masalah ini dengan baik." Osamu Kei hanya tersenyum kecil menatap mereka semua. "Kalian pikir?. Jika tidak dengan bantuan kira?. Kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik?." Ia melemparkan pertanyaan itu pada mereka semua.
"Baiklah. Jika kalian berdua telah berkata seperti itu maka kami akan mengikutinya." Tetsu Wakana mulai setuju.
"Baiklah. Aku juga akan ikut." Sepertinya Madoka Yuna tidak memiliki alasan itu tidak mengikuti mereka.
...***...
Di tengah kegelapan malam, seorang pemuda yang memiliki kekuatan iblis dorongan sedang mengamati bagaimana keramaian yang ada di kota Higashiyama. Jantungnya berdebar-debar sangat luar biasa, apalagi ketika ia melihat keramaian yang tidak jauh dari kantor kepolisian Kota Higashiyama.
"Sepertinya besok aku akan melakukan pertunjukan yang sangat luar biasa." Pemuda itu terjadi kecil sambil membayangkan hal menyenangkan seperti apa yang bisa ia gunakan untuk menghibur dirinya sendiri. "Aku ingin melihat bagaimana reaksi mereka ketika melihat adanya kecelakaan yang terjadi di depan mata mereka. Jantungnya semakin bergejala membara, ketika ia membayangkan hal yang paling seru yang akan ia lakukan setelah ini. "Mari kita tunggu sampai besok pagi. Karena malam ini. Tugas kepolesan sepertinya telah selesai." Dari pengamatan matanya memang seperti itu yang terjadi. "Meskipun menunggu ada hal yang sangat membosankan, tapi setidaknya aku ingin mengetahui bagaimana rasa mereka nantinya." Itulah yang ada di dalam pikirannya pada saat itu.
...***...
Sedangkan Kira pada saat ini sedang berada di rumahnya. Ia sedang membereskan kamar yang selama ini tidak pernah ia sentuh sama sekali. "Aku rasa ruka chan akan menyukai ini." Senyuman kecil terlihat di wajahnya. Namun bayangan dicermin menunjukkan hal yang sangat berbeda.
"Heh!. Apakah kau sedang berusaha menjadi seorang ayah yang baik?." Bayangan itu seakan-akan mengejeknya. "Aku cuma saja apa yang kau lakukan. Kau itu hanyalah iblis yang tidak akan mendapatkan kebahagiaan, selain melakukan tugas untuk menangkap iblis kecil lainnya." Iblis sejati yang ada di dalam dirinya berkata seperti itu.
"Hm." Kira hanya menanggapi itu dengan senyuman ramah. "Sudah tidak perlu ikut campur dengan masalah pribadiku." Kira tentunya tidak suka dengan itu. "Tentunya aku mengetahui siapa kau dan siapa aku." Ia berusaha untuk menekan perasaannya saat itu.
Sosok iblis itu menghela nafasnya dengan bosan. "Terserah kau saja." Dengan raut wajah yang bosan ia pergi meninggalkan kira.
"Ruka chan adalah anak yang sangat malang." Dalam hatinya sangat bersimpati dengan apa yang telah terjadi. "Karena itulah, aku tidak akan membiarkannya sendirian menanggung rasa sakit, setelah kehilangan orang yang sangat ia sayangi." Kita dapat merasakan kesedihan itu. Aku harus bisa menangkap iblis hasrat dorongan tidak berguna itu." Kira telah membulatkan tekadnya untuk menyelesaikan masalah itu dengan kekuatan yang ia miliki. "Aku pasti bisa menghentikannya." Di dalam hatinya tidak akan pernah mengampuni itu jahat yang telah memberikan dorongan jahat pada siapapun juga. "Akan tetapi sebelum itu, aku harus bertemu dengan seseorang yang telah mendorong misaki ohara terlebih dahulu." Ya, Kira harus menemukan orang itu, untuk memastikan alasan kenapa orang itu memiliki hasil dorongan untuk membunuh ibu Ruka.
...***...
Pagi itu, pukul 7.30 kantor kepolisian.
Kichiro seira baru saja masuk ke dalam ruangan tempat mereka bekerja. Akan tetapi ada hal yang tidak biasa yang dilihat oleh mereka semua tentang dirinya.
__ADS_1
"Kichiro san?." Teriakaya Amaya Hanako dengan suara yang lebih tinggi?. "Apa yang terjadi padamu ?." Ia mendekati Kichiro Seira hanya untuk memastikan, apakah temannya itu masih aman atau tidak?.
"Tidak usah seperti itu raut wajahmu itu." Kichiro Seira menatap tajam ke arah Amaya Hanako. "Tidak usah merasa bersimpati padaku." Lanjutnya dengan nada yang sangat jutek.
"Kau itu benar-benar sangat menyebalkan!." Bertak Tetsu Wakana dengan penuh amarah.
"Kau juga tidak usah banyak Protes." Kali ini kichiro Seira yang terlihat marah?.
"Heh!. Memangnya siapa yang bersimpati padamu?." Masahiko katsu yang terlihat sangat marah dengan apa yang ia dengar. "Jika kau memiliki masalah pribadi, Jangan kau bawa ke kantor ini. Masahiko katsu tidak dapat menahan amarahnya. "Sebaiknya kau pulang saja!. Jangan melampiaskan amarah busuk mu itu pada rekan kerjamu!." Masahiko Katsu menunjukkan sikap tegasnya?.
"Heh!" Kichiro Seira sangat sakit hati mendengarkan ucapan itu. "Kurang ajar!." Dalam hati Kichiro Seira sedang mengumpat kesal. Akan tetapi, karena suasana hatinya yang sedang terlanjur marah, ia pun pergi meninggalkan ruangan itu. Hatinya sangat sakit mendengarkan ucapan Masahiko Katsu.
"Kau tidak perlu cemas." Masahiko Katsu memahami perasaan Amaya Hanako. "Jika kau tidak sesuai lagi dengannya, aku bisa menyarankan ketua untuk memindahkanmu ke timnya Kira." Masahiko malah berkata seperti itu. "Aku yakin kau akan memiliki lebih banyak pengalaman bersama kira." Masahiko terlihat sangat percaya. cengan ucapannya. diri
"Biarkan saja wanita sombong itu bekerja sendirian." Madoka Yuna telah menunjukkan sikap tidak suka yang selama ini ia tahan.
"Dia juga tidak percaya sama sekali dengan apa yang telah dikatakan, atau diperlihatkan kira." Jadi biarkan saja dia bekerja sendirian dengan sikap sombongnya." Setelah berkata seperti itu ia pergi meninggalkan mereka?.
"Mau kemana?." Masahiko Katsu bingung.
"Aku hanya ingin mengambil dokumen di ruang sebelah. Belum melarikan diri dari tugas. Meskipun yang membantuku nantinya adalah iblis gentayangan." Dengan santainya ia berkata seperti itu pada mereka Semua.
"Olala."
Masahiko katsu, Tetsu Wakana, Amaya Hanako dan Osamu kei tertawa cekikikan mendengarkan ucapan itu.
"Jiwa humornya sangat luar biasa. "Osamu Kei sangat mengerti dengan sikap yarg ditunjukkan oleh Madoka Yuna.
"Dia memang wanita yang sangat aneh." Dalam hati Masahiko katsu memang sangat perhatian pada Madoka Yuna.
"Kalau begitu mari kita lanjutkan Pekerjaan kita." Tetsu Wakana mulai terlihat serius dengan apa yang telah ia lakukan.
"Kita tidak akan mungkin terus-terusan mengandalkan kira." Masahiko Katsu juga mulai serius dengan apa yang akan ia lakukan.
"Kira telah membantu kita untuk menemukan pelakunya, jadi tugas kita sekarang adalah mencari alasan yang tepat, untuk membuat Pelaku mengakui kejahatan yang telah ia lakukan." Osamu Kei terlihat sangat bersemangat dari yang sebelumnya.
"Ya, kita jangan mau kalah dari seseorang yang baru saja masuk ke sini." Tetsu Wakana sedikit bersemangat.
"Mereka memiliki teman yang saling percaya Satu sama lain." Dalam hati Amaya Hanako merasa iri dengan apa yang ia lihat pada saat itu. "Lupakan saja." Ia hanya pasrah saja dengan nasib buruknya, mendapatkan rekan kerja yang memiliki sifat yang berbeda.
...***...
Pukul 9.30.
Rumah sakit anak.
Kira telah datang lebih awal dari yang ia janjikan sebelumnya. Mungkin Karena belum memiliki pengalaman apapun untuk memerankan sosok seorang ayah, Kira terlihat sangat gugup. Saat ini ia berada di ruangan konsultasi, tentunya ia akan mendapatkan arahan sebelum pergi membawa anaknya Misaki Ruka.
"Anda tidak perlu gugup seperti itu inuzuka san." Dokter Ran sebenarnya juga gugup. Karena ta akan menginap dalam waktu yang tidak ditentukan di tempat rumah Inuzuka Kira.
"Maafkan aku." Kira berusaha untuk menekan perasaan gugup itu. "Ini pertama kalinya ada wanita di rumahku." Itulah kesan pertama yang membuatnya gugup.
"Eh?." Dokter Bake Ran Sedikit terkejut mendengarkan ucapan kira. "Memangnya anda todak tinggal bersama keluarga?!." Entah kenapa dokter Ran semakin gugup mendengarkan itu.
"Aku sudah sangat lama tidak tinggal bersama keluarga." Jawabnya dengan perasaan yang sangat canggung. "Setelah lulus SMA, mungkin aku terbiasa hidup mandiri." Lanjutnya. Sungguh, suasana hatinya pada saat itu tidak tenang sama sekali. "Kalau Begitu, saya akan mengajukan perawat lainnya untuk menemani saya nantinya." Dokter Ran semakin terlihat sangat gugup. "Aku takut, nantinya aku malah akan melenceng dari tugasku." Dalam hatinya tidak bisa membayangkan, ada hal-hal yang tidak diinginkan nantinya.
"Baiklah. Aku sangat setuju dengan apa yang kau Katakan." Tanpa berpikir panjang, Kira langsung menyetujui apa yang dikatakan Dokter Ran padanya. "Aku hanya tidak ingin lepas kendali saja, hanya karena melihat wanita cantik seperti dokter mitsuru. Hanya itu saja." Dalam hati Kira mencoba untuk berpikir jernih. Ia bersumpah tidak akan tergoda dengan kecantikan itu. Ia tidak akan mudahnya tergoda akan hal-hal yang dapat menghambatnya nanti.
Next.
__ADS_1
...***...