MATA IBLIS (POLISI HEBAT KILLER)

MATA IBLIS (POLISI HEBAT KILLER)
CHAPTER 99


__ADS_3

...***...


Kira on.


Sepertinya kasus ini memiliki hubungan dengan orang luar. Jika aku lihat, sepertinya Kirihata Nozomi. Sepertinya aku sedikit mengetahui alasan kenapa Akazuki Daiji melakukan itu. Rasanya aku dapat mengerti jika Akazuki Daiji melakukan itu karena permintaan dari orang-orang yang takut menenggelamkan dirinya ke dalam kubangan kejahatan, namun Akazuki Daiji mampu melakukan itu.


Kira on.


Saat ini Kira sedang melihat semua yang ada di dalam mata Minami Hiroya. Mata yang telah menyimpan banyak hal yang tersembunyi selama ini. 


"Aku adalah seorang polisi yang memilki kemampuan yang berbeda dengan polisi yang lain." Kira mengatakan kemampuannya yang berbeda dengan polisi lainnya.


"Apa yang membuatmu yakin jika aku berhubungan dengan akazuki daiji?." Minami Hiroya tersenyum meremehkan.


"Aku tidak mengatakan jika knife blood adalah akazuki daiji." Kira tersenyum kecil, dan dengan tenangnya ia meminum kembali minumannya. "Tapi kau yang menyebutkan namanya." Lanjutnya setelah meminum minuman itu beberapa teguk.


Deg!.


Minami Hiroya sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Kira. "Apa yang kau inginkan dariku?. Yang membunuh adalah akazuki daiji, bukan aku!." la sangat kesal dengan apa yang telah dikatakan oleh Kira padanya.


"Kau memang tidak membunuhnya. Akan tetapi yang meminta akazuki daiji untuk membunuh tuan inazuma murasaki adalah kau." Kira dapat melihat lembaran masa lalu yang telah dilewati oleh Minami Hiroya saat itu.


Deg!.


"Haruskah aku katakan padamu, tentang semua yang aku lihat dari masa lalu mu?." Kira menyeringai lebar.

__ADS_1


Bagaimana tanggapan dari Minami Hiroya?. Simak dengan baik kisah ini.


...**...


Kantor Polisi.


Saat ini mereka semua sedang membuka kembali dokumen yang telah lama?. Tentunya itu mengenai masalah yang sedang mereka hadapi saat ini. Satoru Iwata saat ini sedang merapikan beberapa dokumen yang telah berhasil ia kumpulkan. Sedangkan teman-temanya yang lainnya juga melakukan hal yang sama di ruangan yang berbeda. Saat ini Hitoshi Tetsuya sangat penasaran, tidak biasanya mereka melakukan itu.


"Kira meminta kami untuk menyiapkan dokumen tentang pembunuhan yang sangat kejam yang telah dilakukan oleh si bedebah akazuki daiji." Satoru Iwata mencari beberapa catatan yang mereka simpan di tempat arsip dokumen.


"Untuk apa dia meminta itu?." Hitoshi Tetsuya masih belum mengerti.


"Katanya ini ada hubungannya dengan beberapa orang yang pernah terlibat dalam kasus atau masalah yang sedang dihadapi korban." Jawab Satoru Iwata sambil mengingat apa yang dikatakan oleh Kira padanya.


"Misalnya?." Hitoshi Tetsuya masih penasaran.


"Perdagangan manusia?." Hitoshi Tetsuya sangat terkejut dengan apa yang ia dengar.


"Ya, perdagangan manusia." Jawabnya. "Mungkin saja kira berpikir itu alasan kenapa si gila itu membunuh tuan takahashi arata." Ucapnya sambil mencari dokumen tentang tuan Takahashi Arata.


"Masuk akal juga." Ia tidak memikirkan ke arah sana tentang masalah yang mereka hadapi saat ini. "Tapi bagaimana dengan korban yang lainnya?." Hitoshi Tetsuya semakin penasaran dengan apa yang telah dikatakan Satoru Iwata.


"Mungkin nanti bisa bertanya pada kira lebih lanjut lagi, ketua." Satoru Iwata juga bingung mau menjelaskannya. "Tapi jika dia berani mempermainkan kita, maka kita rebus saja dia hidup-hidup." Satoru Iwata tidak terima jika dirinya dipermainkan oleh Kira nantinya.


Sedangkan Hitoshi Tetsuya hanya menghela nafasnya dengan sangat lelah dengan melakukan anak buahnya itu. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.

__ADS_1


...***...


Hutan Gunung Kabut Merah.


Akazuki Daiji saat ini sedang melakukan persiapan untuk malam ini. Ia terlihat sangat senang setelah mendapatkan setetes darah dari orang yang telah meminta bantuan padanya untuk membunuh orang lain.


"Malam ini aku harus membunuh seseorang." Ia menatap pisaunya yang terasah dengan sangat tajam.  "Ditipu ya?." Ia terkekeh kecil membayangkan seseorang menipu orang lainnya hanya demi uang yang tidak seberapa dengan nyawa serta sakit hati seseorang kala ia ditipu. "Hingga bangkrut." Ia kembali terkekeh kecil. "Haruskah aku bunuh dia dengan cara gantung gantung diri?." Dengan senyuman aneh ia membayangkan kematian seperti apa yang akan ia lakukan pada korban berikutnya?. "Oh?. Sepertinya itu cara yang sangat menyenangkan." Ia terus membayangkan fantasi liar kematian seseorang. "Aku adalah iblis pembunuh yang sangat gila!. Hahaha!." Kali ini malah tertawa semakin keras. "Tentu saja aku memiliki cara yang berbeda untuk membunuh seseorang!." Kali ini ia tancapkan pisau tajam itu ke dinding itu. Pisau yang tajam itu seakan-akan memiliki kekuatan magis yang sangat luar biasa sehingga tertancap dengan sempurna di dinding itu. "Baiklah, telah aku putuskan dengan cara seperti itu." Sorot matanya telah berubah menjadi lebih tajam dari yang sebelumnya. "Pisau merah ku juga menginginkan darah yang lebih banyak lagi." Ia elus dengan lembut gagang pisau merah itu. Namun khayalan yang ada di dalam pikiran Akazuki Daiji saat ini sangat mengerikan. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah benar ia akan melakukan apa yang ia khayal kan itu?. Simak terus ceritanya.


...***...


Kembali pada Kira yang masih belum puas mencari titik terang bagaimana caranya Minami Hiroya bertemu dengan Akazuki Daiji. Bagaimana mungkin seseorang dengan mudahnya masuk ke dalam hutan gunung merah, sedangkan mereka harus memikirkan cara untuk masuk ke sana.


"Aku tahu kau tidak bisa menghukum orang yang telah membunuh anakmu, karena kau tidak memiliki uang dan bukti untuk memberatkan izanami murasaki karena dia adalah anggota perlemen yang sangat berpengaruh pada masa itu." Kira sepertinya dapat melihat kejadian itu dari lembaran-lembaran yang mengejutkan di masa lalu. "Kau putus asa sehingga kau meminta akazuki daiji untuk membunuhnya, apakah aku salah?." Ia tersenyum kecil, seakan-akan ia sedang menebak apa yang selama ini yang telah disimpan oleh Minami Hiroya.


"Ya!. Aku memang meminta akazuki daiji untuk membunuhnya!." Minami Hiroya benar-benar tidak tahan lagi dengan apa hang dikatakan Kira. Ia tidak mengetahui dari mana polisi itu mendapatkan informasi tentang dirinya yang seperti itu. Namun saat ini hatinya sedang dipenuhi oleh kebencian yang sangat dalam. "Tapi kau tidak bisa menangkapku. Karena yang membunuh bajingan itu adalah akazuki daiji, kenapa kau malah datang padaku?." Minami Hiroya tersenyum lebar. Karena ia sangat yakin jika polisi muda itu tidak akan bisa menangkap dirinya. "Harusnya orang yang mau tangkap adalah akazuki daiji, bukan aku anak muda." Setelah menepuk pundak Kira beberapa kali disertai kekehan kecil penuh kemenangan ia kembali duduk dengan tenang di kursinya yang dari tadi berhadapan dengan Kira.


"Pasti." Kira juga tersenyum lebar. "Pasti aku akan datang padanya. Akan aku habisi pembunuh kejam itu dengan tanganku ini." Ia tersenyum lebar sambil memperlihatkan keseriusan yang ia miliki. "Namun, aku datang pada mu saat ini, karena batinmu yang menjerit pilu. Serta bau kabur merah yang ada di dalam dirimu yang telah memancing aku untuk menemui dirimu untuk mengatakan betapa menyedihkan dirimu saat ini." Kira telah mengeluarkan kata-kata yang sangat pedas. "Kau masih belum puas meskipun inazuma murasaki telah tewas ditangan akazuki daiji." Kira tersenyum lebar melihat ingatan Minami Hiroya yang dipenuhi dengan perasaan sakit.


"Diam kau!." Bentaknya sambil menyerang Kira, namun ia berhasil menghindari serangan itu.


"Aku katakan padamu satu hal minami hiroya." Kira menatap tajam ke arah lelaki setengah baya itu. "Di dunia ini memiliki karma yang tidak akan bisa dihindari oleh orang baik ataupun orang jahat. Kau lah yang tentukan akan melangkah ke arah mana." Ucapannya lagi. "Jika hatimu terluka, maka kau tahu kepada siapa kau mengadu." Matanya semakin terlihat memerah. "Yang mati tidka akan kembali, walaupun hati sakit untuk menerima itu, tapi tetap saja balas dendam bukanlah akhir dari penyelesaian masalah. Apalagi kau menggunakan akazuki daiji sebagai alat untuk balas dendam." Setelah ia berkata seperti itu, ia pergi dari sana.


Sedangkan Minami Hiroya hanya menahan perasaan sakit yang ada di dalam dirinya. Hatinya sangat sakit hingga ia meneteskan air mata kesedihan. Hatinya yang selama ini memang menjerit kesedihan meskipun Inazuma Murasaki telah dibunuh oleh Akazuki Daiji. Hatinya memang belum puas, hingga ia berpikir kenapa tidak ia saja yang melakukan itu?. Memang benar apa yang dikatakan polisi muda itu, jika anaknya tidak akan hidup kembali walaupun Inuzuma Murasaki telah tewas di tangan Akazuki Daiji.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah kesedihan ini masih akan berlanjut?. Simak terus ceritanya ya pembaca tercinta.

__ADS_1


Next halaman.


...***...


__ADS_2