MATA IBLIS (POLISI HEBAT KILLER)

MATA IBLIS (POLISI HEBAT KILLER)
CHAPTER 61


__ADS_3

...**...


Kira on.


Ini masih lanjutan dari mengulas kisah sebelumnya. Bagaimana lanjutan kisahnya?. Simak terus ceritanya.


Aku telah bertanya dengan sangat baik mengenai siapa wanita itu. Tapi dia masih ingin menyembunyikan identitas wanita itu dariku?. Apakah kau tidak takut dengan iblis yang sedang kau hadapi?.


"Baiklah, kita mulai saja. Siapa wanita bertopeng itu?. Apakah kau mengetahui siapa dia?." Kira masih memberikan pertanyaan yang ringan. "Katakan padaku dengan jelas." Kali ini ia terlihat sangat serius.


"Aku tidak mengetahui siapa dia. Bukankah kau sendiri bisa melihat?. Bahwa dia menggunakan topeng." Jawabnya dengan santainya. "Jika kau tidak bisa melihatnya, apalagi aku yang berada di hadapannya saat itu." Haruki Murakami mencoba menghilangkan perasaan gelisah yang ia rasakan saat ini.


"Baik, itu mungkin bisa aku anggap jawaban yang baik." Kira masih mencoba untuk bersabar. "Sepuluh tahun yang lalu, kau terlihat di sekitar aula pengangkatan kepolisian tertinggi dikawasan higashiyama. Kau juga memegang rantai raksasa itu." Kira akhirnya menemukan rekaman penglihatan dari masa lalu Haruki Murakami, meskipun sedikit membutuhkan waktu.


"Heh!. Apa yang kau bicarakan?. Aku sama sekali tidak mengerti. Kau salah tangkap orang, dan aku akan menuntutmu!." Haruki Murakami mengalihkan pembicaraan dengan mengancam mereka. "Aku sama sekali tidak terlibat dalam kasus pembunuhan yang kalian sebutkan. Aku ingin memanggil pengacara, supaya masalah ini dapat diselesaikan dengan baik." Lanjutnya lagi.


Kira melirik ke arah Sakurai yang terlihat tenang-tenang saja. Ia yakin Sakurai tahu bahwa pria itu sedang berbohong, juga ingin melindungi dirinya. Tentunya mereka tidak percaya begitu saja dengan apa yang diucapkan oleh lelaki itu.


"Apalagi yang kau tunggu?. Dia berkata seperti itu. Bukankah kau sendiri yang mengetahuinya?." Sakurai sangat geram mendengarkan kebohongan, serta apa yang ingin dilakukan oleh Haruki Murakami.


"Baiklah, jika itu yang kau inginkan taun sakurai." Kira menyeringai lebar. Karena ia semakin merasakan gejolak emosi yang berlebihan dari Sakurai saat ini.


Sakurai senpai juga sepertinya sangat marah, dia belum juga mau menjawab mengenai identitas wanita itu. Apakah karena ia takut dengan ancaman yang dilayangkan wanita itu padanya?. Itu artinya kau tidak takut sama sekali denganku?. Baiklah!. Akan aku tunjukan kepadamu bagaimana kemarahan yang aku rasakan!.


Tanpa diduga.


Duakh!.


"Wuaaaaaaakh!." Haruki Murakami berteriak keras. Rasa sakit menyiksa tangan kirinya karena tikaman pisau yang dilakukan oleh Kira.


"Apa yang kau lakukan brengsek!." Teriak Haruki Murakami berusaha menahan tangan Kira agar tidak menggerakkan pisau ditangannya. "Kau telah melakukan kejahatan padaku!." Ia berteriak kesakitan sambil berusaha untuk meloloskan dirinya.


"Sudah aku katakan padamu bukan?. Aku hanya mau mendengarkan jawaban memuaskan. Tapi kau sama sekali tidak memberikan jawaban yang memuaskan sama sekali." Kira menarik kuat rambut depan Haruki, membuat lelaki itu meringis kesakitan.


"Egkhakh!." Haruki Murakami tidak dapat menahan rasa sakit yang mendera tangannya. Banyak darah yang keluar dari tangannya, apakah tangannya hancur?. "Kau!. Beraninya kau melukai tanganku!." Ia menatap tajam ke arah Kira. Saat itu ada hawa hitam pekat yang hampir saja menyerang Kira, membuat keduanya terkejut.


"Kira!." Sakurai yang tadinya tenang langsung berdiri untuk menghindarinya.


"Heh!. Kekuatan iblis yang kau miliki masih sangat rendah!. Mana mungkin bisa melukaiku!." Kira mencengkeram kuat kerah baju Haruki Murakami.


Brakh!!!.


Dengan paksa Kira menekan kuat kedua pundak Haruki Murakami agar duduk kembali ke kursi. Tentunya membuat laki-laki itu terkejut dan tidak percaya, jika kekuatan iblis yang ia miliki dengan mudahnya dipatahkan begitu saja?.


"Jangan melakukan hal yang sia-sia. Pisau ku ini bukan pisau sembarangan, jadi kalau kau masih ingin melihat matahari besok pagi maka jawablah dengan benar." Lanjutnya sambil mencabut pisau dari telapak tangan Haruki.


"Akh!." Haruki menahan meringis kesakitan, tangannya sekarang mengalir darah segar.

__ADS_1


"Tenanglah sakurai, aku baik-baik saja. Duduklah kembali dengan tenang." Kira tersenyum kecil ke arah Sakurai yang terlihat tidak percaya.


"Um." Ini mungkin kedua kalinya Sakurai melihat Kira melakukan interogasi pada seseorang. Namun ia tidak menyangka kali ini rasanya ada yang berbeda. Sakura kembali duduk dengan tenang, ia tadi hanya terkejut saja. "Aku telah melihatnya dengan sangat jelas." Dalam hari Sakurai agak bingung, apakah yang ia lihat saat ini adalah nyata atau tidak. Karena ia sama sekali tidak menyadarinya, namun itu semua terasa sangat nyata.


Tentunya itu terasa sangat nyata. Supaya kau dapat merasakan bagaimana perasaan yang dimiliki oleh Sakurai Senpai selama ini. Rasa Sakit yang ia rasakan tidak sebanding dengan apa yang telah kau rasakan pada saat ini. Itu belum adil, sebelum Kau juga merasakannya.


"Jawablah pertanyaanku, atau kau suka dicium oleh Pisau ku ini." Wajah Kira terlihat mengerikan, membuat bulu kuduk merinding, ia seperti malaikat mau yang siap mencabut nyawa manusia.


"Kau pikir aku akan menjawab pertanyaan bodohmu itu hah?. Jangan harap!." Haruki merasa sakit hati, ia membalas ucapan Kira dengan nada tinggi. "Sampai matipun aku tidak akan mengatakannya!." Ia memalingkan wajahnya sambil menyembunyikan tangannya agar tidak ditikam oleh Kira.


Akan tetapi ia salah duga, Kira malah menarik tangannya dengan kuat .Kali ini tangan kanan Haruki Murakami yang ditikam oleh Kira.


Duakh!!!.


Terdengar lagi suara jeritan kesakitan dari mulut Haruki memenuhi ruangan tersebut.


"Egkhakh!." Teriakan itu sangat keras, dan bahkan ia sampai terjajar ke belakang untuk menghindari Kira.


SRAKH!!!.


"Eghah!." Haruki Murakami kembali merintih kesakitan karena pisau itu terlepas dengan paksa. Sehingga menimbulkan rasa sakit yang sangat luar biasa. "Kau benar-benar laknat!. Aku akan menuntutmu!." Haruki Murakami sampai merengek menangis kesakitan.


Kira malah tertawa mengejek, rasanya ia sangat puas melihat raut wajah ketakutan Haruki Murakami saat ini. "Siapa suruh kau membuat sakurai senpai menderita selama ini?. Kau pikir kau siapa?. Berani sekali kau membuat sakurai senpai menderita." Dalam hatinya merasakan perasaan yang sangat senang luar biasa.


"Kau memang mengerikan Kira." Sakurai melihatnya dengan jelas, bagaimana kejamnya interogasi yang dilakukan Kira. "Apakah kau tidak bisa lagi menggunakan kelembutan?." Dalam hatinya merasa simpati. "Tapi setidaknya dengan begitu dia mendapatkan pelajaran." Entah kenapa Sakurai tidak keberatan ataupun merasa yakin sedikitpun.


"Nah, sekarang duduklah di kursi mu dengan tenang. Aku masih memiliki beberapa pertanyaan lagi. Meskipun sebenarnya aku telah mengetahui apa saja yang telah kau lakukan." Kira menjilati pisaunya yang dilumuri darah. "Atau kau ingin membalas semua darah yang telah kau tumpahkan pada saat itu juga. Maka dengan senang hati aku akan membunuhmu sekarang juga." Kira menyeringai lebar.


"Diam kau bajingan!. Tidak usah kau mengancam aku!." Teriaknya dengan sangat keras. Ia tidak mau mendekati Kira, karena ia sangat takut jika Kira benar-benar akan membunuhnya.


"Hemph!. Memang iblis tanpa perasaan dia ternyata. Tapi setidaknya aku terbantu karena dia." Ucapnya dalam hati sambil mengingat awal dari pertemuan mereka saat itu. Sakurai tidak menyangka Kira akan melakukan itu?.


"Kau, kau akan aku tuntut karena telah menganiaya ku!." Haruki Murakami tidak terima diperlakukan seperti ini, tangannya dua kali ditikam oleh orang mengerikan ini.


BRAKH!!!.


Kira bangkit dari duduknya, ia sera mendekati Haruki Murakami. Sedangkan Sakurai yang melihat itu sangat terkejut dan hampir saja tidak percaya. Jika Kira tidak setengah-setengah dalam bertindak. Dapat dilihat saat ia menjatuhkan Haruki Murakami ke lantai dengan menekan kuat kaki belakang seperti orang sedang baku hantam untuk melumpuhkan musuhnya. Haruki Murakami hanya pasrah saja dengan apa yang dilakukan oleh Kira.


"Kau benar-benar menguji kesabaranku. Akui saja perbuatan mu. Maka kau akan tenang setelah ini." Kira benar-benar ingin membunuh Haruki Murakami saat ini. Ia tidak dapat lagi menahan gejolak yang ada di dalam dirinya.


Aku benar- benar hampir kehilangan kesabaran yang aku rasakan. Aku tidak dapat menahan perasaan itu demi membuatnya mengakui apa yang telah ia perbuat.


Kira kali ini membalikkan tubuh Haruki Murakami agar menghadap ke arahnya. Ia tindih tubuh lelaki itu dengan sekuat tenaga, sehingga tidak ada lagi bisa melawan.


"Kegh!." Haruki meringis, karena tangannya terasa sakit. Apalagi ia tidak bisa bergerak lagi.


"Lakukan dengan cepat. Buat dia mengakui semuanya, dan berhentilah bermain-main." Sakurai menatap tajam ke arah Kira.

__ADS_1


"Haik!. Siap pak!." Kira juga ikut serius. Setelah itu ia menatap ke arah Haruki Murakami dengan tatapan mata iblisnya.


Deg!!!.


Tubuh Haruki Murakami tidak bisa bergerak lagi, Kira benar-benar telah menyelami pikiran Haruki Murakami. Sukmanya seakan-akan menembus tubuh Haruki Murakami dan masuk ke alam pikiran laki-laki itu untuk melihat apa yang terjadi sepuluh tahun yang lalu?. Bisa jadi seperti itu. Tapi alam nyata Kira memberikan ancaman pada Haruki Murakami.


"Bayangkan saja kau langsung dieksekusi hukum mati, keluargamu menyaksikannya, dan yang terjadi setelah itu adalah, keluargamu jadi melarat, mati kelaparan " Kira lagi-lagi menghipnotis Haruki Murakami dengan kata-katanya. Ia memberikan gambaran yang mengerikan salah satu pelaku. Melalui matanya yang merah itu, Haruki Murakami merasakan apa yang dikatakan Kira.


"Hum?. Apa yang dilakukan kira sebenarnya?." Dalam hati Sakurai memperhatikan apa yang dilakukan Kira saat ini.


"Bayangkan saja, hasilnya pasti akan menyakitkan. Aku yakin kau bisa melihatnya bukan?. Apakah kau tidak merasakan bagaimana keadaan ngeri yang kau lihat?." Kira sudah siap-siap hendak menikam mata Haruki Murakami dengan pisaunya. Sedangkan Haruki Murakami.? Bayangan-bayangan mengerikan yang disugestikan oleh Kira tiba-tiba saja menghantui pikirannya. Seakan-akan ia merasakan langsung apa yang diucapkan oleh Kira, membuat tubuhnya menggigil hebat. Apakah ia sanggup seperti itu?.


Saking tidak sabarnya aku pada saat itu aku memberikan sugesti padanya. Sugesti yang membuatnya merasakan sensasi yang sangat menakutkan. Bukan hanya pikirannya saja melainkan ketakutan mental yang tidak akan pernah ia lupakan di dalam hidupnya.


"Nah, ini keputusan terakhir. Sebelum aku congkel matamu yang tidak berguna ini. Katakan padaku semuanya. Tidak usah kau sembunyikan kebenaran yang telah terjadi." Kira mencengkram kuat wajah Haruki Murakami.


"Egkhakh!. Aku tidak takut dengan apa yang kau katakan!." Haruki Murakami berusaha untuk menyiarkan hatinya untuk tidak takut. Apalagi saat ia matanya menangkap mata pisau itu seakan-akan memang ingin menghancurkan bola matanya.


"Matamu yang tidak berguna ini hanya memandang iri pada orang lain, dan tangamu sudah dinodai dosa melakukan kejahatan." Kira melakukan itu, seakan-akan sungguhan. "Serta kakimu nanti akan aku potong karena pergi ketempat sarang orang-orang berbuat keji." Lanjutnya lagi.


"Kata-kata itu memang agak berlebihan." Dalam hati Sakurai menyimak semua apa yang dikatakan oleh Kira. Sedangkan Haruki Murakami semakin ketakutan membayangkan apa yang dikatakan Kira.


"Jadi lebih baik kau mati saja dari pada membuat dunia ini membusuk karena kejahatan mu!" Kira dengan semangatnya berkata seperti itu, ia terlihat menikmati interogasi ini. Ia menekan Haruki agar mengakui secara langsung perbuatan yang ia lakukan. Haruki Murakami merasakan setiap kata yang diucapkan Kira padanya. Keringat dingin membasahi tubuhnya, jantungnya berpacu dengan kencang di saat pikirannya tentang ia dihukum dengan hukuman keji, serta bagaimana nasib orang ia sayangi?. Benar-benar sangat mengenai mentalnya yang paling dalam. Hingga ia tidak sanggup lagi untuk berkata.


"Ba-ba-baiklah aku menyerah. Aku menyerah." Wajah Haruki Murakami terlihat pucat pasi, ia tidak sanggup lagi menahan aura tidak enak ini. Ketakutan-ketakutan yang menusuk hatinya terdalam. Ia tidak pernah merasakan ketakutan yang seperti ini. Ketakutan yang mengguncang batinnya. "Aku menyerah." Bibirnya bergetar, tenggorokannya terasa kering, pikirannya sudah kacau balau, ia tidak tahan ditekan seperti itu. Ia menceritakan semua apa yang ia lakukan sebelum kejadian undangan berdarah itu dengan keadaan tertekan. "Akulah yang telah melakukannya, aku yang telah melakukan perbuatan keji itu." Takut, tentunya perasaan itu masih terasa.


Akhirnya dia mengakuinya juga setelah aku paksa dengan memberikan gambaran padanya.


"Bagaimana sakurai?. Kau telah mendengarkan ucapannya bukan?." Kira melihat ke arah Sakurai.


"Ya, itulah yang aku harapkan." Sakurai tersenyum penuh kemenangan, dan dengan santainya ia menopang dagunya.


"Yosh!. Duduklah dengan baik, kau akan kembali normal. Melupakan apa yang telah terjadi, dan kau memang mengakui perbuatan yang telah kau lakukan. Ceritakan dengan benar dan akui saja dosa yang telah kau lakukan." Kira menepuk pundak Haruki Murakami dengan pelan.


"Eh?" Haruki Murakami terkejut, ia baik-baik saja?. Kok bisa? Ia sangat heran, ia melihat ke arah Kira dan Sakurai bersamaan.


Sakurai Nakamoto menghampiri Haruki Murakami, ia memborgol kedua tangan lelaki itu.


"Kau aku tangkap karena keterlibatanmu dalam kejahatan undangan berdarah." Ucapnya sambil tersenyum hambar. Rasanya sangat menyebalkan menggunakan cara itu hanya untuk membuat salah satu pelaku mengakui apa yang telah mereka lakukan.


"Hah.?" Haruki Murakami tidak mengerti, apa yang terjadi sebenarnya? Ia tidak mengingatnya sama sekali.


Tentunya kau tidak akan ingat dengan apa yang telah terjadi. kekuatanku memang sangat luar biasa!.


Kira off.


...***...

__ADS_1


__ADS_2