
Selesai kelas hari ini, kami semua menuju rumah Melati menggunakan mobil Rey. Rencananya akan membereskan barang yang perlu dibawa ke rumah barunya, yang terletak di dekat kampus maupun kafe. Yumna bilang, dia sudah menemukan tempat tinggal yang mungkin lebih nyaman, karena jauh dari para tetangga yang sudah terlanjur mengecam buruk pada keluarga Melati.
"Cepet banget dapat rumah sewanya?" tanyaku pada Yumna yang duduk di sebelah supir, sekaligus pemilik mobil.
"Kemarin Rey tanya sama para pekerja yang sedang renovasi memperbesar kafe, dan merupakan warga asli sekitar sini. Ternyata salah satu pekerja bilang, kalau temannya ada yang pengen pindah ke desa. Jadi rumahnya yang dekat sama kafe sudah niat dijual."
"Berarti bukan sewa?" tanyaku.
"Rey sudah membayarnya. Jadi Melati bisa tenang menempati rumahnya nanti. Tapi sebelumnya, kita bereskan dulu barangmu di rumah, untuk persiapan pindahan minggu depan," jelas Yumna lagi.
"Terima kasih banyak. Aku akan membayar uang sewa rumah yang akan aku tempati, dengan gajiku nanti," jawab Melati menunduk sungkan.
"Tak usah kau pikirkan itu. Kamu bisa menempatinya tanpa harus membayar," jawab Rey dari belakang kemudi.
"Tapi, Rey!"
"Anggap saja rumah itu sebagai mess pekerja. Sudah, tak perlu dibahas lagi. Kita ambil barang-barang di rumahmu yang penting-penting dulu!" ucap Yumna memotong.
Lima belas menit kemudian, sampailah kita di halaman rumah Melati. Baru kami injakkan kaki, cibiran para tetangga mulai terdengar lagi. Ditambah tatapan sinis mereka yang seperti ingin menerkam Melati.
" Biarkan saja, tetap lurus masuk ke rumah tanpa mendengarkan mereka," kataku menuntun Melati agar bisa semangat lagi.
Sesampainya di dalam rumah, Melati mempersilahkan kami masuk ke kamar untuk membantu membawa barangnya nanti. Entah mengapa, ruangan kamar ini terasa gelap dan pengap sekali. Mungkin karena dia hanya ada di rumah saat petang mulai menjelang. Membuat jendelanya jarang terbuka sebagai sirkulasi udara.
" Melati, jendelanya ku buka ya. Biar kamu bisa lebih jelas memasukkan barangnya," ijinku pada pemilik rumah ini.
"'Iya, buka saja. Terima kasih ya, maaf merepotkan kalian," ucap Melati masih memilah barang yang perlu dibawa hari ini.
Baru saja pintu jendela ini ku pegang dengan tangan kiri, tiba-tiba terasa ada sesuatu yang lewat di sekitar kami.
'Bseeett....'
Langsung ku pandang Yumna, yang mungkin juga merasakannya.
"Kenapa, Key?" tanya Yumna kembali menatapku.
"Apa kamu melihatnya?
" Iya, tapi itu tadi apa ya? Soalnya suasananya lembab di sini. Jadi bikin makhluk yang begituan kerasan tinggal di sini."
__ADS_1
" Makhluk apa? " tanya Melati langsung menoleh pada kami.
" Oh, serangga maksud Yumna tadi," kataku agar Melati tak takut sebelum pindah dari rumah ini.
" Apa yang kalian maksud, hantu bungkus? " tanya Melati yang membuatku dan Yumna kembali saling memandang lagi.
" Kenapa kamu bilang begitu?" tanyaku.
"Aku pernah melihatnya juga. Huhuhuuu.... Apa ibu belum tenang ya?"
Melati langsung menutup muka sambil berjongkok dan menangis. Aku dan Yumna langsung mengangkatnya, supaya duduk dulu di atas ranjang yang tak terlalu lebar ini.
"Melati, maaf ya. Maaf kalau aku jadi mengingatkanmu pada ibumu," ucapku berjongkok di depannya, yang sedang duduk sambil mengelus pundak Melati.
"Tak apa, tapi memang benar adanya. Aku sendiri pernah melihatnya, yang berdiri di deoan ranjang ini. Hantu bungkus itu mirip sama ibu, tapi lebih pucat dan terlihat sedih sekali."
"Ssshh... Sshhh...., sebaiknya kamu minum dulu," ucap Yumna menyerahkan botol kecil berisi air mineral dari dalam ranselnya.
"Kenapa?" tanya kak Azzam diikuti Rey, sudah melongok dari luar kamar ini.
"Tak ada apa-apa. Kalian ke depan saja menunggu Melati membereskan semuanya. Nenek sebelah rumah sudah kalian kabari kalau mau pindah minggu depan?" tanya Yumna.
"Oh, ya sudah. Kalian tunggu nenek aja dulu. Bantu kemasi barang-barang," usulku.
"Siap!"
Kami kembali bertiga lagi di kamar ini. Jendela juga belum sempat ku buka tadi. Membuat ruangan ini masih gelap meskipun matahari di luar sana sudah menyinari dari tadi.
"Ya sudah, ayo kita lanjutkan lagi. Kita bantu bereskan barang-barangmu ya!" ajakku.
Ku buka jendela lagi, untuk lebih memberi cahaya di ruangan ini. Melati membereskan baju dalam lemari, sedangkan aku dan Yumna sibuk memasukkan buku dan alat kuliahnya dalam kardus besar yang sudah kami bawa.
Satu per satu buku sudah mulai berpindah tempat. Tapi ada sesuatu yang jatuh dari tumpukan buku paling bawah.
"Melati....?" ucapku memungut sebuah cincin dan gelang emas tipis yang tergeletak di lantai tanah.
"Apa itu, Aish?" tanya Melati langsung menoleh ke arah kami.
"Aku juga tidak tahu. Tadi ini ada diselipan buku tebalmu ini," jelasku menunjukkan bukunya.
__ADS_1
"Apa mungkin, ini perhiasan yang ibu ambil ya?" gumam Melati sambil berpikir sendiri.
"Memang ini bukan punya ibumu?"
Pertanyaanku hanya dijawab dengan gelengan kepala saja. Lalu Melati menerimanya, dan terus mengamati kedua benda yang berada di tangannya.
"Apa cuma ini perhiasan yang mengorbankan nyawa ibuku?"
Melati masih memutar benda kuning tersebut.
"Apa ada yang ibu sembunyikan di tempat lain ya? Soalnya kata warga, pak Jamal kehilangan semua perhiasannya. Termasuk warisan dari leluhurnya."
"Kita cari ke tempat lain dulu, sambil membereskan. Gimana?" usulku.
Semua menyanggupinya. Barang-barang mulai dikeluarkan dari tempat sebelumnya, kemudian dipindahkan ke kardus-kardus yang sudah menumpuk sebagian.
"Apa ada yang menemukan perhiasan lagi?" tanya Melati.
"Tidak, sepertinya hanya itu saja. Hampir semua barang sudah kita periksa dari ruangan ini," jawab Yumna.
"Sebaiknya kita tanya bu Jamal dulu, apa benar ini miliknya? Dan apa ada barang lagi yang belum ditemukan?" usulku.
"Setuju! Ayo!" ajak Yumna.
"Tapi, aku takut!" Melati hanya bisa menggenggam logam tersebut dengan tangan gemetar.
"Ayo, akan kita temani ke sana!" rangkulku di pundaknya.
Kami bertiga berjalan bersama. Mengiringi Melati di tengah, untuk terus mendukungnya. Meskipun suara cibiran masih terdengar di telinga.
"Aish, mau kemana?" tanya kak Azzam dari depan rumah nenek.
"Ke rumah pak Jamal!" teriakku menjawabnya.
Kak Azzam sudah diam, tapi tatapan tetangga semakin mencekam. Bisik-bisik mereka juga semakin jelas saja.
Banyak tetangga yang langsung menduga, kalau Melati akan mengakui semua pencurian yang pernah dilakukan ibunya. Bahkan lebih parahnya, ada yang bilang kalau Melati ikut bersekongkol dengan ibunya.
"Biarkan mereka bicara meskipun tak tahu yang sebenarnya. Kamu cukup harus sabar aja menghadapinya," kataku mengelus pundak Melati yang hanya diam dan mengangguk mengerti.
__ADS_1
Setelah beberapa rumah terlewati, akhirnya kami sampai di depan rumah pak Jamal, untuk menanyakan logam mulia ini.