
Sepulang kampus, aku masih menumpang Rey di dalam mobilnya. Bersama Yumna menuju ke lokasi, tempat sosok berparas seperti artis yang sedang hilang di tv, menemui mereka sebelumnya.
"Masih jam empat sore. Semoga terkuak hari ini juga. Dan kita sudah punya bukti kuat, untuk menjebloskan Roy ke penjara," ucapku saat perjalanan dimulai.
"Iya, aamiin. Dia terlalu menganggap enteng nyawa wanita. Semoga bisa segera tertangkap agar tak ada lagi korban selanjutnya," timpal Yumna.
Sepanjang perjalanan kami lalui, sambil melihat pemandangan alam yang nampak asri. Sampai tak terasa, mata ini berat dan masuk ke alam mimpi.
" Kalung......!!!! "
Sebuah suara tiba-tiba menggema di kepala. Padahal baru saja aku memejamkan mata.
"Siapa itu?" tanyaku langsung membuja mata, melihat sekeliling isi mobil, tapi tak nampak siapapun juga, kecuali Rey dan Yumna.
"Kenapa?" tanya Yumna yang langsung memandang ke arahku.
"Aku seperti mendengar ada yang bilang 'kalung'. Kira-kira apa maksudnya ya?"
Yumna diam sejenak. Dia menggeser layar ponsel di tangannya, kemudian menunjukkannnya padaku.
"Gadis ini, selalu memakai satu kalung yang sama di setiap penampilannya. Tapi kemarin saat kami bertemu sosoknya, sama sekali tak kami lihat kalung seperti ini ya?" ucap Yumna.
"Mungkin karena yang kita temui bukan jasadnya, makanya kita tak melihatnya," sahut Rey.
"Tapi, biasanya mereka akan menemui kita seperti keadaan jasadnya ditemukan bukan?" kata Yumna lagi masih belum terima atas pendapatnya.
"Kita lihat nanti di sana, saat kita sudah sampai di tempat kejadian perkara," kata Rey menenangkan kekasihnya.
Jalan mulai sedikit menanjak naik dan berkelok-kelok, dengan pemandangan di kanan kiri yang penuh pepohonan rindang. Semakin ke atas, jajaran rumah-rumah indah mulai berkelap kelip karena suasana yang semakin petang.
" Kita mampir sholat dulu, kebetulan sungainya sudah tak jauh di belakang mushola ini," kata Rey menghentikan mobil saat adzan magrib mulai berkumandang.
"Oke, lumayan capek juga ternyata ya. Jalannya gak rata, berasa kayak naik roller coaster soalnya. Abis naik, turun, belok kanan-kiri, hadeh.....," keluhku sedikit pusing.
"Jangan bilang kamu mabuk perjalanan," kata Rey mengejek.
"Entahlah, tapi aku butuh minyak angin juga kayaknya he.....," cengirku mengeluarkan botol kecil dan mengusapkannya di dahi dan leherku.
Kami berpencar untuk melaksanakan ibadah masing-masing. Aku dan Yumna bergantian masuk ke bilik toilet wanita. Membersihkan diri sejenak, kemudian menuju ke ruangan tempat sujud kepada Sang Pencipta.
Beberapa saat setelah kami semua selesai melakukan kewajiban, Rey menunjukkan kami ke tempat sosok yang mereka temui. Hanya dengan berjalan kaki, kami melewati semak belukar di belakang mushola ini.
__ADS_1
"Kok sepi, cuma ada garis polisi?" kataku setelah kami sampai di tempat yang gelap ini, hanya diterangi cahaya dari lampu gawai yang masing-masing kami nyalakan di tangan.
"Sudah selesai mungkin ya penyelidikannya di sini?" gumam Yumna.
Kami masih mengitari tempat gelap ini. Sesekali memberi cahaya di setiap celah sudut air sungai yang tak terlalu deras ini. Berharap ada sesuatu petunjuk yang mungkin bakal kami temui.
"Tak ada apapun. Apa sebaiknya kita ke kantor polisi, tanya keberadaan jasad artis itu?" usul Yumna.
"Boleh juga!" jawabku setuju.
"Baiklah, kita naik dulu. Hati-hati licin, ditambah keadaan gelap begini!" kata Rey yang berdiri di belakang kami.
Baru saja selangkah kami lalui, ponselku tiba-tiba berdering kencang sekali. Membuat kami sempat menghentikan pijakan ini.
"Halooo....," sapaku pada penelpon tanpa nama di ujung sambungannya.
"Jasadnya sudah dibawa je rumah sakit. Apa kalian menemukan petunjuk lain?" suara Ronald tak asing menjawab teleponnya.
"Kita lagi di sungai dekat Villa ini. Kenapa gak bilang dari tadi kalau sudah selesai penyelidikan di sini?" tanyaku kesal.
"Maaf, dari tadi sudah ku telepon tapi tak kau angkat sama sekali."
" Oke, kalau begitu sekarang kirim alamat rumah sakitnya, " kataku tak ingin banyak basa basi dengannya.
"Baiklah, Cantik. Rumah sakit yang sama tempat kekasihmu dirawat. Aku juga sekarang lagi ada di sini," katanya semakin menyebalkan saja.
"Terima kasih!"
'Ceklekk... Tut... Tut.....'
Sambungan telepon langsung saja ku matikan. Tanpa menunggu jawaban.
"Bagaimana?" tanya Yumna.
"Sudah di rumah sakit yang sama dengan tempat kak Azzam dirawat," jawabku.
"Balik lagi berarti kita?" kata Rey memastikan.
"Yups....," cengirku dalam kegelapan malam yang semakin dingin ini.
Sambil berjalan kembali je mobil, rasanya hawa dingin mulai merasuk ke dalam pori-pori. Kemudian angin berhembus menerpa kami.
__ADS_1
"*ROOOYY.......!"
"Roooy.......!"
"Rooooyy*....!"
Suara para perempuan tiba-tiba bersahut-sahutan, terdengar oleh telingaku ini. Membuatku kembali berhenti dan menoleh kanan kiri.
"Kalian dengar?" tanyaku memandang mereka berdua yang masih berjalan di belakangku.
"Sudah, ayo kita ke rumah sakit saja. Mulai banyak yang iseng mencampuri urusan kita di sini," kata Rey membuat kami semua terdiam lagi. Melanjutkan berjalan ke mushola tempat Rey memarkirkan mobilnya tadi.
****
Sesampainya di rumah sakit, wajah yang menyambutku hangat sudah berdiri di depan resepsionis. Tapi justru terasa dingin olehku yang mulai jengah atas sikapnya itu.
"Malam, Cantik. Mari saya antar ke ruang autopsi," tawar Ronald tak ku sahuti.
Rey dan Yumna saling berpandangan, kemudian tertawa cekikikan. Sedangkan Ronald yang hendak menggapai lenganku, langsung saja ku kibaskan.
"Oke, maaf. Apa kalian sudah menemukan petunjuk baru? Aku sudah menangkap Roy dan mengintrogasinya. Tapi ternyata tak cukup bukti untuk memberatkan tuduhan padanya. Ditambah banyak sekali pejabat penting yang dia kenal selama ini," jelas Ronald sambil berjalan dengan kami ikuti.
"Apa jasad yang ditemukan polisi menggunakan kalung seperti ini?" tanya Yumna menunjukkan ponselnya, masih sambil berjalan.
"Kalung? Apa itu penting?"
"Aish sempat bermimpi tentang kalung yang mungkin ditunjukkan sebagai bukti," jelas Yumna lagi.
"Tak ada perhiasan apapun di jasad korban," kata Ronald mengamati foto di ponsel Yumna.
"Mungkin saja itu bisa menjadi petunjuknya. Karena wanita ini tak pernah sama sekali melepas satu kalung ini di berbagai fotonya. Lihat!" kata Yumna menggeser foto-foto itu.
"Ehmm...... Sepertinya saya tahu sesuatu. Kalian jalan saja ke depan, di dekat kamar mayat ada ruangan dokter Rini. Tanya padanya!"
Ronald menyerahkan ponsel Yumna, kemudian berbalik arah hendak meninggalkan kami.
"Tunggu!" kataku menghentikan langkah Ronald.
"Ayo, ikutlah! Barangkali nanti ada petunjuk lain yang kau dapat lagi," katanya langsung menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya pergi.
Sudah tak ku pikirkan lagi rasa ego ini, karena aku merasa kalau kasus ini sedikit lagi terpecahkan oleh kami. Hanya tinggal mencari bukti yang bisa memberatkan hukuman, untuk juragan dengan banyak sokongan pejabat tinggi.
__ADS_1