
"Apa kami boleh bertemu ibumu?" tanyaku setelah Melati terlihat bisa mengontrol tangisnya yang tak berhenti dari tadi.
"Kalau ibu pulang, biasanya lumayan malam. Setelah berkeliling menjajakan kue-kue titipan, ibu juga masih harus berbelanja sayuran. Beliau ke pasar yang khusus buka saat malam. Karena hanya dari situlah pemasukan untuk kita makan."
"Lalu kuliahmu?" tanyaku.
"Aku sendiri tak tahu. Mungkin tak akan bisa dilanjutkan. Rencanaku akan membantu ibu bekerja saja, agar beliau tak lagi lelah sendiri."
"Nanti akan ku bicarakan sama Rey, barangkali kamu mau bantu kerja di kafenya saat malam. Jadi gajinya bisa untuk melanjutkan kuliah tanpa harus berhenti di tengah jalan," usul Yumna.
"Terima kasih. Terima kasih banyak!" ucap Melati hendak mencium kaki kami berdua, tapi aku dan Yumna langsung mundur bersama.
"Tolong jangan seperti itu. Aku juga manusia biasa, yang tak perlu disembah," kata Yumna mengangkat tubuh Melati yang ada di hadapan kami.
"Minta tolonglah hanya kepada Allah. Dan bersyukurlah juga kepada-Nya. Karena Yumna dan Rey hanya sebagai perantara rejeki yang memang sudah ditakdirkan untukmu," ucapku menambahkan.
"Terima kasih. Kalau tak ada kalian, tak tahu kepada siapa aki bisa melepaskan beban," kata Melati terlihat lega sekali.
"Ya sudah kalau begitu salam buat ibumu. Bilang juga kepada beliau, tentang rencanamu kerja di kafe Rey," kata Yumna.
"Tapi kan Rey belum tahu? Yakin mau menerimaku?" tanya Melati ragu.
"Sekarang kafe sedang melakukan renovasi untuk memperbesar tempat. Jadi aku tahu kalau Rey juga butuh tambahan karyawan untuk membantu melayani pembeli," jelas Yumna.
"Lagian juga pasti keputusan Rey, 'apa kata Yumna saja', timpalku membuat sedikit ada senyuman cerah di mata Melati.
" Ya sudah, sampai ketemu besok ya. Besok pulang kampus, akan aku antar kamu ke kafenya, " kata Yumna.
" Siap. Terima kasih banyak! " ucap Melati memeluk kami bergantian, kemudian pergi dengan senyum girang.
Hantu permen masih terus mengikuti, dengan melompat ke sana kemari. Mengikuti kemanapun Melati pergi.
****
__ADS_1
Pagi ini, aku dan Yumna baru saja sampai di kampus. Tepat di parkiran, kami langsung mendengar berita buruk yang sedang dibicarakan oleh sebagian perempuan.
"Ibu Melati meninggal. Katanya, pak Jamal dan pak Rozak yang menjadi saksi sumpah kemarin, melihat jenazah ibu Melati sudah seperti hantu bungkus. Padahal saat mereka datang, jasadnya masih ada di atas kasur belum dimandikan, apalagi di bungkus kain kafan," jelas salah satu teman sekelas Yumna, yang juga merupakan tetangga Melati.
" Kamu sendiri melihatnya seperti apa? " tanya yang lainnya.
" Aku lihatnya ya biasa saja. Cuma memang posisi jenazahnya sudah seperti siap dikafani. Kakinya merapat, dan kedua tangannya bersedekap seperti posisi saat kita sholat."
" Kamu serius? " tanyaku langsung mendekat pada gerombolan tiga orang yang sedang membicarakan kondisi ibu Melati.
"Lha masak hal seperti ini dibuat bercandaan. Ya pasti seriuslah!" yakinnya.
"Bisa minta alamat Melati?" tanyaku.
"Oke, akan ku share lokasinya."
"Nih, sudah ya!" tunjuknya pada layar ponsel yang sudah dipegangnya.
"Terima kasih," jawabku meninggalkan parkiran bersama Yumna.
"Aku ada beberapa sih! Tapi kalau ada berita seperti ini, mungkin para dosen akan memberi toleransi," jawabku.
"Ya sudah, nanti aku tunggu di taman kalau kamu sudah selesai."
"Sip!" jawabku mengambil jalan yang berbeda dengan Yumna.
Sesampainya di kelas, para murid nampak saling bercerita tentang keluarga Melati. Meskipun aku duduk diam sendiri, tapi telinga ku buka lebar agar jelas mendengarkan.
Menurut salah satu murid yang merupakan keponakan pak Jamal, sebenarnya ibu Melati sudah lama diperingatkan sebelum diadakan sumpah itu. Tapi tetap tak memberi penjelasan dan terus berkata tak tahu, jadi pamannya terpaksa melakukan sumpah itu.
Pamannya juga curiga pada ibu Melati, karena sebelumnya beliau pernah berniat meminjam uang. Karena nominalnya cukup besar untuk tunggakan biaya kuliah Melati setelah ayahnya meninggal, pak Jamal tak berani memberikan pinjaman.
" Oh, jadi mungkin itu sebabnya ibu Melati mengambil semua perhiasan. Rakus banget ya! Berani nggak ngaku lagi," ejek salah satu yang mendengarkan.
__ADS_1
" Mungkin lagi khilaf, " ucapku menyahut obrolan mereka.
" Eh, kamu kemarin kayaknya lagi ngobrol sama Melati di taman. Memang dia cerita apa tentang ibunya? Dia cerita juga tidak, perhiasannya ditaruh dimana? " tanya siswa yang mengejek Melati tadi.
"Melati sendiri tak tahu, kalau ibunya mengambil perhiasan itu. Sebelumnya dia juga sudah tanya sama ibunya, tapi tak diberitahu apa-apa. Tolong jangan pojokkan Melati, kalau dia sudah masuk nanti."
Ucapanku berhasil membuat mereka terdiam. Lalu membubarkan diri, setelah salah satu dosen datang.
Seperti dugaanku, dosen memberikan ijin untuk kami yang ingin ke rumah Melati. Karena memang dia salah satu mahasiswi di kelas ini. Tanpa pikir panjang, tas ku gendhong lagi menuju ke taman untuk menunggu Yumna menyelesaikan kelasnya.
Sembari menunggu, ku buka ponsel dan mengetik nama sumpah yang sudah dilakukan ibu Melati. Ternyata di negaraku, sumpah itu sudah banyak yang melakoni. Ada juga ulama yang mendukung, tapi banyak juga yang menolaknya.
Biasanya ritual itu dilakukan, kalau sudah terpaksa tak menemukan kebenaran diantara dua orang yang berkepentingan. Mulai dari tuduhan sengketa tanah, bahkan sampai tuduhan ilmu hitam.
Yang masih aku pikirkan sekarang, apa benar ibu Melati melakukan pencurian semua perhiasan milik majikannya itu? Sedikit kurang percaya sebenarnya, tapi kenapa ibu Melati bisa celaka?
"Woeeyyy..... Melamun sendiri saja!" gertak Yumna mengagetkan lamunanku seperti biasa.
"Bisa nggak datangnya gak pakai bikin kaget?" tanyaku melotot padanya.
"Maaf, soalnya kamu jadi suka melamun kalau di taman ini. Awas nanti kesambet mbak yang lagi nangkring di atas pohon mangga," tunjuk Yumna pada pohon di sebelah kanan kami.
"Ihihihiiiiii...... Gak level nemplok sama dia," jawba makhluk penunggu itu membuat kami tertawa.
"Lhah, siapa juga yang mau gendhong kamu. Gak level!" jawabku menirukan.
"Ya sudah, ayo kita ke rumah Melati sekarang!" ajak Yumna tak lagi meladeni makhluk jahil yang suka menggoda mahasiswa laki-laki di sekitar sini.
Aku dan Yumna kembali berjalan ke parkiran. Mengambil sepeda motorku, untuk dipakai ke rumah Melati. Tapi ada yang aku lupakan saat ini, yaitu memberi kabar kepada kedua lelaki yang pasti mencari kami.
"Aish... Yumna.... Masuk mobil Rey saja. Sepeda motormu gak usah dibawa. Punyaku juga masih di parkiran," suara kak Azzam di samping kiri kami, dalam mobil Rey yang sudah berhenti.
"Ya sudah! Ayo," kataku setuju.
__ADS_1
Sepanjang jalan, kak Azzam mengomel karena terus mencariku tapi tak ketemu. Saat kak Azzam ke taman, mungkin aku sedang ke toilet sebentar. Teleponnya juga tak ku jawab, karena konsentrasi membaca artikel tentang sumpah poci. Sampai akhirnya, dia memutuskan untuk ikut menunggu Yumna menghubungi Rey, di warung depan kampus ini.
"Ngomong-ngomong, tadi kamu tak jawab teleponku kenapa? Bukan karena lagi ngobrol sama Ronald 'kan?" tanya kak Azzam memicingkan sebelah matanya, sambil tersenyum sinis menirukan adegan di tv.