
Ku lihat ada kain hitam membentang panjang, menutupi sesuatu di dalamnya.
"Ah, mungkin ini bisa dipakai buat menutupi mereka sementara," gumamku sendiri, sambil menyibak kain itu.
'Wuuuussshhhh......'
Seperti ada angin dingin menerpa wajahku, meskipun sebenarnya ruangan ini tertutup dari dunia luar. Yang tak memungkinkan juga bisa menghembuskan semilir angin kencang ke tempatku berada.
Setelah ku buka lebar kainnya, terlihat jajaran boneka-boneka yang berbentuk seperti barbie, memenuhi sebuah meja.
Ada juga sebuah patung berbentuk kepala kerbau, atau sejenisnya, yang sepertinya dipuja dengan sesajen di sekitarnya. Terletak di meja bertingkat, yang lebih tinggi dari boneka-bonekanya.
Di meja tersebut juga terdapat tali tambang, gunting, dan lakban hitam yang mungkin digunakan untuk menyandera para gadis muda.
"Alhamdulillah," syukurku lagi langsung menggunting kain itu menjadi dua bagian.
"Sementara tutupi tubuh kalian dengan kain ini. Saya akan melepaskan ikatan, tapi tolong jangan bersuara sedikitpun," ucapku lagi masih berbisik.
Kedua gadis itu mengangguk setuju, ketika aku langsung membuka semua ikatannya. Mulai dari tangan, kaki, termasuk lakban yang membungkam mulutnya sedari tadi.
" Terima kasih," ucapnya meneteskan air mata, dengan penutup kain hitam sekedarnya yang membalut dirinya sambil gemetar ketakutan, meski sedikit ada rasa lega.
"Kalian berdua pergi dulu dari sini, ke rumah sebelah, milik bu Nuri. Bilang kalau Aish yang meminta kalian ke sana nanti," kataku pada mereka berdua.
"Kakak gak ikut ke luar?" tanya salah satu gadis itu.
"Aku akan menghancurkan dulu semua peralatan ritual ini. Agar tak ada korban tumbal lagi di sini," kataku sesuai firasat yang aku rasakan saat ini.
Entah kenapa, aku ingin sekali memusnahkan sesajen sampai kepala hewan di atas meja itu. Ditambah rintihan minta tolong terdengar lirih, dari dalam boneka-boneka kecil di depanku.
__ADS_1
" Kakak hati-hati. Akan aku carikan bantuan saat aku bisa keluar nanti," katanya menurut untuk segera pergi.
Setelah tak ku lihat keberadaan dua wanita tadi, aku mengambil salah satu boneka untuk mencoba menerawang dengan sekuat tenaga. Tapi baru saja memejamkan mata, terdengar pintu sudah terbuka. Tanpa berpikir lama, ku masukkan boneka tersebut dalam saku celana, dan mengambil tongkat kayu yang sempat ku buat senjata.
" Ada penyusup lagi rupanya di sini. Dimana gadis-gadisku?" kata pak Malik yang memegang Anjani, dengan dua anak buah di belakangnya, juga sedang menahan Yumna dan Martha agar tak mencoba melepaskan diri.
"Apa yang kamu lakukan?" tanyaku bersiap mengayunkan kayu itu.
"Ikat dua gadis ini. Dia akan menggantikan dua gadis yang sempat lepas tadi. Itu juga pasti karena ulah kamu 'kan?" tanya pak Malik terlihat marah, sambil menyuruh penjaganya mengikat Yumna dan Martha sebelum bertindak selanjutnya.
"Baik, Bos!"
"Kemana Iwan? Harusnya dia berjaga di balik jendela Anjani' kan?" tanyanya lagi pada dua pria berbadan kekar.
"Saya juga tak tahu, Bos. Saya hanya berdua saja dari tadi menjaga rumah ini," kata penjaga yang sempat lari karena ada kucing tadi.
"Lepaskan temanku!" kataku mengancamnya, dengan batang kayu yang masih ditanganku.
"Hahaaa... Berani mengancam juga kamu rupanya. Kalau kamu macam-macam, langsung ku jadikan sup gadis muda saja kamu. Menggantikan janinnya yang tak kunjung lahir ini," tunjuk pak Malik pada perut Anjani.
"Sudah, CUKUP! Tolong lepaskan mereka. Terserah apa yang mau kau lakukan pada saya. Saya sudah terbiasa menahan penderitaan ini. Saya tak mau kalian cari korban lagi," ucap Anjani mulai menangis histeris.
"Aku masih butuh gadis muda, sebagai pemuas tuanku agar aku bisa lebih kaya. Hahahaaaa......," tawanya terdengar menjijikkan sekali, sambil diikuti tawa anak buahnya yang terlihat kekar, berdiri di sebelahnya.
"Kalian berdua, kenapa masih di sini? Cari gadis muda yang sempat melarikan diri, agar tak menimbulkan keresahan warga sekitar sini," ucap pak Malik baru mengingat calon tumbalnya, langsung menyuruh anak buahnya pergi.
"Baik, Bos! Ayo," kata mereka sebelum pergi meninggalkan ruangan ini.
Aku yang sudah terikat kuat, dengan lakban di mulut, disandingkan dengan Yumna dan Martha yang bernasib sama. Anjani yang mulai lemas karena perutnya yang ternyata sudah siap melahirkan, juga tak bisa berbuat banyak.
__ADS_1
" Kamu sudah jadi beban hidup kami, jangan banyak mengeluh kalau kami minta kamu melahirkan hari ini. Saya sudah merebus air juga, untuk memasak sup dari janin dalam perutmu nanti," kata bu Malik membuatku ngeri meski hanya mendengarnya saja.
"Kamu juga! Sudah kami siapkan dua gadis muda, malah dilepasin. Bikin susah aja bisanya. Kalau tak ketemu sampai jam dua belas malam, kamu yang harus menggantikan jadi tumbal hari ini. Ada tiga gadis, yang pasti membuat tuan merasa gembira sekali. Dan membagikan banyak kekayaan untuk kami, hahahaaaa......, " lanjut bu Malik sambil menoyor kepalaku yang tak bisa berteriak lagi.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lebih lima puluh menit malam. Sebentar lagi acara pemujaan akan segera dilakukan. Aku memandang Yumna, dan mencoba berbicara lewat kata hati. Yang aku sendiri tak yakin, apa dia bisa mendengarnya saat ini.
" Berdoa, minta tolong pada Allah saja!"
Terus ku usahakan memberinya semangat, yang sepertinya sudah mulai pudar dari sorot matanya. Mata yang terus meneteskan airnya, melihat Anjani yang mulai tak sadarkan diri. Saat bu Malik mengasah pisau yang hendak menyayat perutnya nanti.
Aku ingat masih menyimpan satu boneka di saku celana, yang ku sembunyikan saat hendak mencari tahu tadi.
Dengan tangan yang masih terikat di belakang, susah payah ku ambil lagi boneka itu. Memejamkan mata, untuk mendengar suara yang sempat membuat penasaran telingaku.
"Patahkan leher boneka ini, bebaskan kami!"
Suara itu terngiang di telinga. Seperti suara seorang wanita, yang tak nampak wujudnya.
"Pak, saya siapkan sesajen lainnya dulu ya di kamar. Sepuluh menit lagi dimulai ritualnya," kata bu Malik pemit meninggalkan ruangan ini.
"Iya, cepatlah. Sambil menunggu dua gadis tadi kembali," jawab pak Malik masih berharap calon tumbalnya datang lagi.
Tinggalah kami di sini, dengan ditawan oleh Adik Anjani, dan pak Malik yang mengelus kepala binatang itu terus menerus. Sambil sesekali menuangkan minyak aneh dari botol yang dari tadi berada di sampingnya.
'ceklek'
Ku patahkan paksa boneka di tanganku sambil meraba. Dan keluarlah sosok yang tak kasat mata. Bertepatan dengan masuknya dua penjaga yang ternyata berhasil membawa dua gadis muda tadi.
"Maaf, Kak. Tak ada yang percaya dengan kami," ucap salah satu gadis memberi penjelasan padaku.
__ADS_1
"Oke, kalian berdoalah. Hanya Allah penyelamat kita semua," yakinku pada mereka yang mulai putus asa, dan membuatku sadar kalau lakban di mulut sudah terbuka dengan sendirinya.