
"Dah, mandi dulu sana! Kita harus cepat ke kampus 'kan!" kata kak Azzam mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Iya, Aish. Gak usah kau dengarkan perdebatan mereka berdua, kayak gak pernah tahu aja."
"Eh, bener juga. Mereka memang gak pernah akur. Tapi kenapa namaku ikut disebut sih, bikin kesel aja," kataku sewot.
Mata ngantuk, ditambah badan yang lelah, membuat emosiku semakin gundah. Rasanya ingin sekali meluapkannya, apalagi seruan kak Azzam membuatku semakin gerah dan ingin marah.
"Lihat tuh jam, aku ada kelas juga pagi ini. Kita berangkat duluan gak apa kan?" kata Yumna menunjuk ke arahnya sendiri bergantian mengarah kepada Rey yang sedang bersandar santai di dinding seperti biasa.
" Ya sudah, kalian berangkat dulu saja. Nanti aku bisa naik ojek juga 'kan! "
" Lhah, ini gunanya Azzam buat apa? " tunjuk Yumna pada lelaki yang membuatku geram pagi ini.
"Buat nakut-nakutin tikus di rumah ini!" sahutku balas meledeknya, kemudian langsung berlari masuk ke kamar untuk menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa ke kampus nanti.
Ku selesaikan semua kegiatan sebelum ke kampus seperti biasa. Sampai aku ke depan lagi, ternyata kak Azzam masih berdiri di sana.
Aku yang jengkel mendengar gurauannya tadi, langsung mengunci pintu dan pergi melangkah meninggalkannya.
"Heii.... Masih marah?" tanya kak Azzam terdengar mengikutiku dari belakang.
Tak ku sahuti pertanyaan itu. Masih berjalan ke depan, ku ambil ponsel untuk memesan ojek ke depan gang.
"Aish,.... Maaf ya. Tadi cuma bercanda!"
Masih saja ku langkahkan kaki. Rasanya masih malas untuk berdebat pagi ini.
"Aish....," tarikan tangan kak Azzam membuatku berputar badan.
Sempat kaget karena dia langsung menarikku ke dalam pelukannya.
Aku bingung, diam, dengan penuh rasa deg-degan. Rasa desir di hati menggetarkan seluruh nadi. Sampai beberapa detik kemudian, aku mulai bisa mengontrol emosi.
"Hehh.... Tolong lepaskan!" kataku mencoba menjauh.
Sudah berusaha ku dorong tubuh di depanku, tapi semakin kencang dia mendekap erat tubuhku. Tanpa ada jawaban dan ucapan sedikitpun dari mulutnya itu.
"Kak....!" panggilku pelan, supaya dia tahu kalau aku sudah lebih mudah mengontrol emosiku.
"Aish.... Maafkan aku! Aku tak sanggup kalau tak mendengar suaramu. Lebih baik omelanmu daripada harus melihat kemarahanmu yang hanya diam tanpa jawaban," katanya mulai melonggarkan pelukan.
Kak Azzam memegang pundakku. Menatap erat ke bola mataku. Seperti sedang menelisik kekujuran emosiku yang memang sudah tak jengkel padanya lagi.
" Aish juga minta maaf. Aish lagi capek hari ini, jadi bikin gampang emosi," sahutku menanggapi.
__ADS_1
Kak Azzam kembali menarik tubuhku, untuk memelukku. Membisikkan sebuah kalimat, yang membuat luluh hatiku.
"Aku sayang kamu, tolong jangan diamkan aku!"
Tak dapat ku jawab ucapan kak Azzam, hanya anggukan kepala yang bisa ku lakukan. Kemudian kami saling merenggangkan pelukan, menuju sepeda motor kak Azzam.
Masih dengan rasa malu, kami berdua melanjutkan perjalanan ke kampus.
Sesampainya di kampus, kak Azzam menurunkanku di tamannya, untuk membaca buku sembari menunggu waktu. Sedangkan dia lanjut menuju ke apartemennya yang tak jauh dari sini, untuk mengambil peralatan yang dibutuhkan nanti.
"Aku ke apartemen sebentar!" kata kak Azzam pamit.
"Iya, hati-hati."
"Assalamu'alaikum, Sayang."
"Wa'alaikumsalam," jawabku sedikit tersenyum sambil menggelengkan kepala karena malu.
Ku cari posisi yang nyaman di tempat ini. Sambil mengeluarkan buku yang biasa ku baca saat tak ada kegiatan yang berarti. Baru saja ku buka lembaran pertama, seorang mahasiswi datang mendekati.
"Aish....," panggilnya sambil duduk di sebelahku.
"Iya, kenapa Liza?" tanyaku menatap ke dalam matanya.
Terlihat kesedihan, bercampur ketakutan di dalamnya. Tapi ku coba bertanya dulu tentang masalah yang dia pikirkan.
"Kenapa?" tanyaku segera mengeluarkan tisu dari tas slempangku.
"Aku... Aku takut!"
"Takut kenapa?"
"Dia... Dia..., aku bingung!"
"Cerita saja, supaya pikiranmu lebih lega. Kalau aku bisa menolong, insyaa Allah akan aku usahakan," kataku mengelus pundak kanannya, untuk memberinya kekuatan supaya lebih mudah mengeluarkan isi hatinya.
"Heeehhhh...... Dia terus menghantuiku," jawabnya sambil menundukkan kepala.
"Dia siapa?"
"Gadis itu,.... Dia selalu masuk dalam mimpi, dan terus saja mengganggu."
Ku lihat di sekeliling tempat ini. Dari jauh, terlihat seorang gadis seumuran kami, sedang mengamati. Dia hanya terlihat separo di balik pohon tinggi.
"Oh... Oke, apa yang bisa ku lakukan?" tanyaku menatap kembali pada gadis cantik dengan penampilan stylish ini.
__ADS_1
"Dia ingin, aku mengakui ke kantor polisi."
"Kantor polisi? Apa yang terjadi?" tanyaku mengernyitkan dahi.
"Aku tak ikut dalam pembunuhan itu, aku hanya ikut menyiksanya bersama kekasihku dan teman-temannya," jawabnya semakin menunduk malu.
"Hahh? Maksudnya menyiksa bagaimana?"
"Kekasihku, dia bersama kawan-kawannya telah menyiksa gadis itu sebelumnya."
Liza mulai menangis kencang. Mengingat kesalahan yang pernah dia lakukan. Ku berikan waktu sebentar, sebelum dia melanjutkan.
"Gadis itu bernama Zya. Dia gadis panggilan yang suka di booking orang. Nah, salah satu teman kekasihku itu yang sering memakai jasanya."
"Astaghfirullah.....," ucapku beristighfar, semoga dijauhkan dari hal seperti itu.
"Lalu apa yang dia lakukan? Dan kenapa sampai menyiksanya?" tanyaku lagi.
"Saat teman kekasihku memakai jasanya, dia mencuri uangnya."
"Lalu?"
"Nah, saat ketahuan habislah dia. Dia dibawa ke apartemennya. Disiksa setiap hari. Mulai dari disulut puntung rokok, dijambak, ditetesi plastik yang baru dibakar, dan lebih parahnya lagi, kami meneteskan air jeruk dan bubuk cabai pada luka dia yang baru menganga," sesal Liza.
" Kamu ikut menyiksa? Kenapa? "
" Aku hanya ikut-ikutan saja, tanpa alasan. Padahal sebenarnya dia sudah mengembalikan uangnya, tapi teman kekasihku masih merasa kurang. Jadi untuk memberi pelajaran, kita siksa bersama sampai kurang lebih semingguan."
"Seminggu?" tanyaku tak percaya.
"Iya, dan mungkin kalau dia belum terbunuh, penyiksaan itu masih berlanjut sampai sekarang."
"Lalu.... Setelah dia terbunuh, apa yang kalian lakukan?" tanyaku lagi.
"Aku tak ikut menyiksa sampai menghilangkan nyawa. Aku cuma menyiksa dihari pertama saja. Aku tak tahu apa-apa, huwaa.....," tangisnya menutup telinga, sambil geleng-geleng kepala.
"Istighfar, Liza. Ayo....astaghfirullah.....," tuntunku pada gadis itu.
Liza masih sesenggukan di sampingku. Ku berikan beberapa waktu, sebelum kelas dimulai beberapa menit lagi.
"Oke, kalau kamu masih belum siap, kamu bisa lanjutkan ceritanya besok. Tapi kalau siap, silahkan dilanjutkan supaya cepat kelar."
"Diaa.... Gadis itu dikubur dibelakang rumahku. Karena cuma aku yang tinggal sendiri dan memiliki halaman yang bisa digunakan untuk mengubur jasadnya di halaman rumah. Aku menyesal... Huhuhuuu.....," tangisnya pecah.
"Sudah... Sudah...., kelas sebentar lagi mulai. Hapus air matamu, kita bicarakan ini nanti. Sekarang konsentrasi seperti biasa," kataku mencoba menenangkan.
__ADS_1
"Tapi... Kalau dia mengganggu lagi, mana bisa aku konsentrasi."
"Dia hanya berdiri jauh dari kita. Dan tak melakukan apa-apa, selain meminta tolong untuk diungkap kasusnya. Kalau kamu merasa dia terus menghantui, mungkin itu hanya pikiranmu saja. Karena ketakutanmu atas rasa bersalah yang mengontrol pikiranmu saat ini."