
'Tok... Tok... Tok....'
Suara ketukan pintu lirih sekali. Perlahan ku buka karena mungkin saja ada yang mau memakai kamar mandinya.
"Siapa?" tanyaku melongokkan kepala.
"Pagi Aish, ada apa?" tanya Ronald yang masih terbaring di atas ranjangnya.
"Lah sepi sekali? Bunda sama umi kemana?" tanyaku masih dengan kepala saja yang terlihat olehnya.
"Mereka keluar cari sarapan katanya. Karena aku sudah bangun, jadi kamu kalau ada apa-apa bilang saja."
"Memang kamu bisa tolong aku apa? Berdiri sendiri saja gak bisa!"
"Kan ada bocah yang lagi mimpi itu," tunjuknya pada kak Azzam yang terlihat lelap sekali.
"Hah, nyuruh aja bisanya!" sahutku hendak kembali memasukkan kepala ke dalam ruangan kamar mandi.
"Lhah kamu sendiri lama amat di kamar mandi ngapain? Gak dengar tadi bunda sudah pamit kamu sebelum pergi?"
"Apa bunda yang barusan ketuk pintu ini?"
"Tidak ada yang mengetuk pintu kamar mandi. Lagian juga bunda sudah pergi pas pertama kamu masuk tadi. Trus kami jawab 'iya', tapi suaranya parau sekali. Tenggorokanmu gak kenapa-kenapa 'kan?" tanya Ronald membuatku bingung sendiri.
"Aku gak jawab apa-apa. Lagian tadi aku gak dengar pas bunda pamit keluar. Oh iya, sekarang jam berapa?" tanyaku semakin yakin, kalau ada yang sedang mencari perhatian.
"Jam lima lebih lima menit. Kenapa?"
"Astaghfirullah, sudah sepuluh menit aku di kamar mandi ternyata?" ucapku kaget, karena ternyata aku lama juga mencari hantu rambut yang semalam sempat menerorku di tempat ini.
Segera ku tutup lagi pintu kamar mandi. Untuk mensucikan diri, kemudian segera melaksanakan kewajiban di atas sajadahku yang belum ku lipat tadi.
****
"Pagi, Aish.... Bagaimana istirahatnya semalam? Nyenyak?" tanya seorang suster yang baru datang memeriksa keadaanku, setelah selesai ku tunaikan ibadah fajar ini.
"Alhamdulillah, sudah enakan suster," jawabku sambil melipat mukena, dan mulai beranjak berdiri.
"Masih pusing tidak?" tanyanya sambil membantu kembali ke ranjangku.
__ADS_1
"Sedikit sih. Tapi kalau berdirinya pelan-pelan, gak terlalu terasa pusingnya."
"Syukurlah. Kita cek dulu ya," kata suster membetulkan selang infus yang masih terpasang. Kemudian lanjut memeriksa tekanan darahku untuk dilaporkan pada dokter, saat sudah datang nanti.
"Semuanya nampak normal. Yang penting jangan terlalu banyak gerak dulu. Kalau begitu, saya mau periksa teman kamu ya."
"Terima kasih, Sus. Oh iya, kemarin atau beberapa hari ini, ada tidak mayat yang baru datang tanpa identitas diri?" tanyaku mencoba mencari informasi.
"Ehmm..... Semalam sih ada. Memang kenapa?" tanya suster menghentikan sejenak kegiatannya untuk memeriksa Ronald.
"Perempuan bukan?"
"Iya, perempuan. Kenapa?" tanyanya semakin heran saja.
"Apa ada bekas jeratan tali di lehernya?" tanyaku mengingat keadaan sosok yang sempat menampakkan diri, meski cuma sebentar. Dan kebetulan juga aku sempat melihat bekas itu di lehernya, saat ku tarik rambutnya semalam.
"Kok kamu tahu? Kamu kenal?" tanya suster, sambil kembali melanjutkan pekerjaan.
"Enggak sih. Memang perempuan itu kenapa? Ditemukan dimana?"
"Kamu tahu dari mana?" tanya suster balik, tanpa menjawabnya.
"Diantar pulang? Pulang kemana? Identitasnya saja tak ada," ucap suster sembari memompa alat untuk cek tekanan darah Ronald.
"Entahlah. Dia cuma bilang begitu saja. Memang dia ditemukan dimana, kapan, dan kenapa?"
"Mulai menarik ini pertanyaannya. Andaikan aku sehat, pasti akan ku tangani kasusnya," timpal Ronald mulai ikut penasaran.
"Ehmmm......setahu saya, perempuan itu ditemukan tergantung di pohon taman kota. Di atas jam sepuluh malam, memang sudah tak ada orang di sekitar sana. Pintu taman otomatis tertutup, setelah speaker peringatan di nyalakan setengah jam sebelumnya. Jadi belum tahu pasti, dia meninggal di tempat itu sekitar jam berapa?"
"Ohh.... Trus yang menemukan siapa?"
"Kebetulan sekitar jam tiga pagi, ada seseorang pengendara motor, yang baru pulang dari rumah temannya, lewat taman kota. Iseng juga menoleh ke arah taman yang sepi. Eh, malah lihat perempuan menggantung di pohon yang menghadap ke jalan."
"Terus, anak itu gak takut atau lari?" sahut Ronald.
"Itu kalau kamu. Pasti dikira hantu, padahal memang benar ada mayat di situ!" gurauku meledeknya.
"Hehh.... Dulu sih aku gak terlalu percaya sama yang begitu. Semenjak kenal kamu, jadi pikirannya serba hantu. Apalagi sempat disesatkan juga sampai masuk rumah sakit ini. Kalau tidak, sudah ku tangani kasus perempuan tanpa identitas yang sudah masuk ke mimpimu," kata Ronald menggebu.
__ADS_1
" Aku aja belum pernah masuk mimpimu," lanjutnya lirih, tapi masih terdengar olehku dan suster yang sepertinya sudah selesai memeriksa kami.
" Apaan, gak lucu! " jawabku mulai kesal menanggapi.
" Kalian ini lucu ya. Awas kalau bertengkar terus, nanti lama-lama jatuh cinta lo," ledek suster.
"Aamiin," jawab Ronald penuh percaya diri.
"Astaghfirullah, ampuni hambamu ya Allah," kataku agar itu tak terjadi.
"Kalau mau lebih jelas tentang mayat itu, tanya saja ke pak Adam. Beliau yang bertugas di kamar mayat, dan mengurus jenasahnya saat ini," kata suster sebelum pergi.
"Waduh, saya tak tahu orangnya dan belum tahu bagaimana cara menghubunginya. Kan saya belum berani kemana-mana, Sus," cengirku.
"Di setiap ruangan pasti ada teleponnya. Nah, cari saja kode ruangan kamar mayat, di kode yang tertera pada kertas yang tertempel di dinding. Tepat di atas teleponnya," tunjuk suster sepertinya tak mau ikut campur masalah ini.
"Suster tak penasaran seperti saya?" pancingku.
"Hehh.... Sebenarnya kalau bisa, aku tak ingin ikut campur juga. Aku capek, semalam sudah diperlihatkan sosok berambut panjang yang juga minta diantar pulang," jujurnya sambil menghela nafas panjang.
"Jadi suster juga diteror dia?" tanyaku.
"Iya, tepat saat baru saja mayatnya dibawa kemari. Dan ngerinya, cuma saya saja yang diperlihatkan sosoknya di dekat kamar mandi. Hiii.... Kalau ingat itu, rasanya pengen cepet pulang pagi ini."
"Mungkin suster juga dipilihnya agar bisa menolong dia," kataku meyakinkan suster, yang sudah bergidik ngeri di depan pintu kamar ini.
"Jangan sampai saya ikut menyelesaikan masalah dia. Tak sanggup rasanya. Nanti akan saya lempar ke pak Adam saja, karena beliau yang lebih berpengalaman juga."
"Apa pak Adam sudah datang sekarang?"
" Mungkin nanti datangnya agak siang. Karena semalam beliau ke sini, untuk meletakkan jenasahnya ke pendingin di kamar mayat," jawab suster sedikit mempercepat langkahnya pergi.
"Yahh..... Malah kabur susternya," sesalku tak mendapat petunjuk apa-apa.
"Akan aku hubungi temanku agar menyelidiki kasus ini. Menurutmu, apa dia memang benar-benar mengakhiri hidupnya sendiri? Kira-kira apa motifnya ya?" tanya Ronald yang baru ikut bersuara lagi, setelah suster sudah pergi.
"Aku belum bisa memastikan, apa yang sebenarnya terjadi. Kita lihat saja nanti, sampai menemukan petunjuk lagi," ucapku terbaring di ranjangku sendiri.
"Hoaaaahhmmm.... Kalian lagi ngobrol apa? Awas, jaga jarak biar tak bikin emosi!" sahut kak Azzam, yang baru saja terbangun dari mimpi.
__ADS_1