Mata Kedua

Mata Kedua
Kesuksesan Pembawa Penyakit


__ADS_3

"Ehmm.... Kalau aku boleh tanya, kira-kira mau tidak, kakak membatalkan pernikahan itu?" tanyaku mencoba membujuk kak Azril.


"Hahaaa..... Pernikahan apa? Itu cuma menikah pura-pura saja. Cuma sekedar formalitas, karena kami tak pernah melakukan hubungan apapun setelahnya."


"Tapi kan sosok itu masih nampak mengikuti? Kakak tahu itu 'kan?" kataku lagi untuk meyakinkannya.


"Meski banyak orang yang bilang kalau dia selalu mengikutiku, tapi aku tak peduli selama dia tak mengganggu ."


"Terus kalau kesuksesan datang setelah dilakukan pernikahan, kakak gak curiga kalau itu gangguan?"


"Gangguan darimana?"


"Kakak juga merasa 'kan, kalau sering tak sadar dalam menulis novel yang membuat juara di setiap lombanya! Apa itu bukan salah satu perbuatannya?" kataku lagi untuk mengingatkan kak Azril.


" Itu bukan gangguan, tapi keberuntungan! " cengir kak Azril masih belum menyadari kesalahannya selama ini.


" Bukan keberuntungan namanya, kalau harus ada imbalan nyawa yang mungkin bisa dipertaruhkan suatu saat nanti!" sahutku mempertegas lagi.


Memey yang mendengar, langsung menatap tajam ke arahku dari belakang tubuh kak Azril yang duduk di sebelah kami. Dan berteriak hingga memekakkan telinga, sambil mendekatkan wajah mengerikan tepat di depan mukaku.


" JANGAN IKUT CAMPUUUR! DIA MILIKKU! "


Aku yang merasa hembusan nafas busuk itu, hanya diam dan menutup mataku. Meski angin ikut menerpa kencang muka sampai rambutku.


"Istighfar, Aish!" suara kak Azzam terdengar mengingatkanku.


"Astaghfirullahal'adzim.....!"


Terus menerus ku ucapkan istighfar untuk memohon ampun kepada Allah. Sebagai introspeksi diri, mungkin saja ada kesalahanku saat berusaha membebaskan manusia dari perjanjian para iblis yang menggoda.

__ADS_1


Kemudian ku lanjutkan bacaan ayat kursi untuk mengagungkan kekuasaan Allah Sang Penguasa Alam Semesta. Mengingatkan kepada para makhluk lainnya, supaya tak terus saja menghasut manusia.


Sosok Memey terdengar sangat murka. Teriakannya menggelegar ke gendang telinga. Sampai suara kak Azril yang kemudian terdengar menggantikan teriakannya. Tapi tetap ku coba fokus untuk menghentikan perilaku merugikan oleh makhluk tak kasat mata.


Terus saja ku panjatkan doa-doa, tanpa memperdulikan suara kak Azril yang mulai berubah seperti meraung kesakitan. Sayup-sayup juga terdengar suara kak Azzam yang ikut membantuku mengucapkan doa pengusiran sosok tak kasat mata. Tapi tak ku lihat semua kejadian itu, karena mataku masih menutup untuk konsentrasi dengan sengaja.


'Wuusshhh......'


Hawa dingin mulai menerpa kembali. Membentuk partikel suasana menjadi normal seperti sebelumnya, seperti tak pernah terjadi apa-apa. Tanpa bau busuk yang menusuk selama Memey murka. Ku buka mata ini, untuk memastikan kejadian selanjutnya.


"Kak Azril.....," kataku melihatnya yang sudah jatuh pingsan di sebelah kami, dan dikerumuni orang-orang.


"Temannya jatuh kok malah pada diam sambil komat kamit berdoa, kenapa gak ditolongin dulu?" celetuk salah satu pengunjung wanita paruh baya, yang menepuk-nepuk pelan pipi kak Azril.


Ku lihat sekeliling kami, sudah tak nampak sosok wanita pengganggu tadi. Mungkin pergi bersama hembusan angin yang menerpa wajahku terakhir kali.


" Heh, kok malah cuma tolah toleh bengong saja? Ini bantu temennya!" kata pengunjung yang lainnya masih berusaha membangunkan kak Azril.


Kami menjelaskan kepada para pengunjung lainnya, kalau sebenarnya kami juga baru mengenalnya. Kami juga mengatakan, kalau tadi dia sempat kesurupan.


Makanya kita terus membaca doa, berusaha menyadarkannya. Tanpa tahu kalau kak Azril sudah terkapar di sana, karena kami memejamkan mata.


Untungnya banyak yang percaya. Karena sebelum kak Azril jatuh, sempat tercium bau bunga melati yang bergantian dengan anyir darah semerbak di sekitar kami.


"Itu ambulannya sudah datang, sebaiknya kalian yang antar dia ke rumah sakit. Karena kalian yang tahu masalahnya dia," saran seorang lelaki yang ikut mendengar pengakuan kami, meski tak kami ceritakan kalau melihat Memey yang sebelumnya menampakkan diri di belakang kak Azril dari tadi.


" Baiklah, kita antar ke rumah sakitnya. Kami ikuti dari belakang dengan sepeda motor saja," jawab kak Azzam setuju.


Kak Azril mulai dimasukkan dalam mobil itu. Ditemani seorang karyaean laki-laki, untuk menjaganya selama diperjalanan nanti. Untuk menunjukkan rasa tanggung jawab dari restoran yang kami datangi.

__ADS_1


Perjalanan tak membutuhkan waktu yang lama. Tak sampai sepuluh menit menit, kami sudah berada di depan rumah sakitnya.


Mulai nampak berseliweran makhluk-makhluk seperti biasa. Tapi kami tak menanggapi, karena itu sudah menjadi hal biasa di setiap rumah sakit dimanapun berada.


Setelah dokter memeriksa kak Azril, dokter menyarankan perawatan intensif di rumah sakit ini. Karena dari pernyataannya, dokter memvonis kalau maag akut tengah diderita kak Azril yang bisa membahayakan nyawanya.


"Ya sudah, kalau begitu kami pamit pulang dulu. Sebentar lagi ada jam kuliah juga," kata kak Azzam pada lelaki yang ikut dalam mobil ambulan tadi.


"Oh iya, ini kartu nama saya. Sebenarnya tadi sudah ku berikan pada lelaki yang terbaring di sana, tapi dia meninggalkannya di meja," kata kak Azzam, menyerahkan lagi kartu namanya.


"Oh, baiklah. Saya akan menimpan ini. Akan saya kabari kalau ada perkembangan dari orang ini," katanya sambil membaca kartu yang dipegangnya.


"Kalau begitu kami pulang dulu. Terima kasih sudah bersedia bertanggung jawab pada nasibnya, karena katanya dia sebatang kara. Tak lagi punya keluarga," lanjutku ikut berpamitan.


"Terima kasih semua informasinya. Semoga dia baik-baik saja, agar tak mencemarkan nama restoran kami juga," sahut lelaki itu.


"Aamiin," jawabku dan kak Azzam bersama, kemudian mengajak bersalaman sebelum meninggalkan tempat ini agar tak kesiangan nanti.


Sepanjang perjalanan pulang, kami masih heran memikirkan perginya sosok Memey yang tak terlihat sama sekali. Tapi kami yakin kalau dia tak akan semudah itu untuk berhenti mengikuti.


Sampai tak terasa, halaman rumah Yumna sudah terlihat di depan mata, dengan mobil Rey yang terparkir di sana. Kamipun langsung bergegas menghampiri mereka, yang asik berdua di teras depan rumah bersama Ncus yang ikut asik mendengarkan gurauannya.


"Woey, dari mana sih? Pagi-pagi dah kencan berdua!" seru Rey saat kami baru melangkah mendekati mereka yang sedang sarapan pagi dengan roti.


"Kalian sendiri juga kencan berdua pagi-pagi gini!" sahutku ikut menggoda mereka.


"Kami kencannya cuma makan aja. Lha kalian, dari mana hayo. Kata Yumna, Aish sudah pergi dari sebelum subuh tadi?" sahut Rey lagi.


"Panjang ceritanya, sebentar lagi jam kuliah tiba. Aku mandi dulu karena banyak sekali yang kami lalui hari ini," kataku melangkah masuk ke dalam rumah ini.

__ADS_1


"Kalian melalui apa hari ini? Hayoo....ingat kuliah woey," seru Rey lagi.


"Rey kayaknya sudah ketularan Aish ini, mulai kepo sama urusan orang!" jawab kak Azzam langsung membuatku berbalik arah menatap matanya tajam, dengan cengirnya tanpa dosa yang membuatku geram.


__ADS_2