
"RONALD!!! Kenapa kau bawa makanan dari tempat itu?" tanyaku sedikit membentak, saking terkejutnya.
"Memang kenapa? Aku lapar! Seharian ini terlalu sibuk mencari bukti kejahatan Roy. Sampai belum sempat makan," kata Ronald masih melajukan kendaraan, sambil hendak membuka pembungkus roti yang dibawanya.
"Hentikan! Bukannya tadi sudah ku bilang jangan makan apapun di warung yang kita datangi tadi!" kataku geram, merampas roti dari tangannya.
"Tadi kamu bilang tak boleh memakannya. Makanya ku beli buat dibawa pulang saja. Memang salah juga ya?" tanyanya polos, membuatku semakin geregetan.
"Astaghfirullah..... Ini bukan makanan manusia! Kita sedang terjebak di alam makhluk lain, ngerti nggak sih?!" kataku memperjelas yang dari tadi sempat ku tahan, agar dia tak ketakutan.
"Maksudnya?"
"Oke. Akan ku katakan saja, supaya kau paham maksudnya. Kita sedang tersesat di alam para makhluk tak kasat mata. Tapi tetaplah fokus menyetir saja, dan jangan pernah menghentikan mobilnya!"
"Kenapa kamu tak bilang dari tadi?" tanyanya malah berbalik menyalahkan.
"Aku hanya tak ingin membuatmu takut, dan semakin memperkeruh keadaan di sekitar tempat ini. Karena aku tak bisa menjalankan mobil ini. Paham!" bentakku sambil mengacungkan roti yang sempat dibayar olehnya.
"La... Laluu... Kita apakan roti itu?" tanyanya sedikit kelabakan juga setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya.
"Entahlah. Yang jelas jangan pernah kau makan!" kataku mulai pasrah.
"Kalau begitu, buang saja supaya tak terjadi bencana!"
Ronald merebut roti itu dari tanganku, kemudian dengan cepat membuangnya dari jendela mobil samping kanannya.
"Kok dibuang?" tanyaku masih melongo melihat keputusannya yang mendadak barusan.
"Trus buat apa? Kalaupun harus celaka, biarlah aku sendiri yang menerimanya. Semoga dengan begini, paling tidak kamu bisa kembali dengan selamat ke orang tuamu!" kata Ronald membuatku semakin terharu.
"Tapi....., kita harus keluar bersama dari tempat ini. Kita berdoa bersama, agar bisa kembali pulang tanpa celaka."
"Semoga saja. Tapi kalaupun ada yang harus tinggal, biar aku saja. Karena tak ada yang merindukan keberadaanku di dunia manusia."
"Plis, jangan bicara sembarangan. Ayo kita berdoa saja!" kataku memintanya agar tetap yakin akan keselamatan bersama.
Masih dalam berdebat tak jelas, tiba-tiba ada cahaya menyilaukan di depan mata. Cahaya terang yang menutupi perjalanan kami berdua.
"Astaghfirullah!" teriakku memejamkan mata, kemudian gelap seketika.
__ADS_1
****
"Aish.... Nak! Pulanglah!" suara nenek tua mulai terdengar di telinga, meski masih belum bisa ku buka mata.
"Aish, Sayang! Bunda di sini!"
Sayup-sayup mulai terdengar suara bunda. Belaian lembut dari tangan halusnya terasa mengelus di dahiku dengan tetesan air mata.
"Bunda.....," ucapku mulai bisa melihat sekeliling ruangan, meski masih dengan remang-remang.
"Alhamdulillah. Kamu sudah sadar. Azzam, cepat panggil dokternya!" seru bunda menyuruh orang di sebelahnya.
Mulai ku edarkan pandangan ke sekitar tempatku terbaring lemah. Ruangan dengan tembok bercat putih, membuatku sadar akan keberadaanku sekarang. Rumah sakit, ya... Mungkin aku sedang berada di rumah sakit sekarang.
"Bunda.... Aish haus," kataku merasakan tenggorokan yang terasa kering sekali.
"Sebentar. Ini minumlah dulu!" kata bunda berusaha sedikit menegakkan tubuhku, agar aku bisa menenggak air dari gelas yang disodorkannya pelan ke mulutku.
"Kenapa Aish di sini?" tanyaku masih bingung, hanya rasa sakit di kepala yang membuatku masih belum bisa mencerna semuanya.
"Apa kamu tidak ingat, kejadian yang menimpa kalian berdua?" tanya bunda.
"Auwww....... Aish pusing!"
"Ya sudah, tak usah diingat-ingat dulu. Itu dokternya sudah datang. Silahkan dokter," kata bunda berdiri, memberi tempat untuk dokter memeriksa keadaanku di sini.
"Permisi, Ibu!"
Seorang dokter wanita yang mungkin seumuran dengan bunda, mulai memeriksa keadaanku. Mulai dari detak jantung yang didengar dari stetoskop yang sudah menyambung ke telinganya. Kemudian dilanjutkan dengan membelalakkan sebelah mataku secara bergantian, dengan mengarahkan cahaya senter kecilnya.
"Bagus, sudah mulai merespon dengan baik. Tapi tolong biarkan dia istirahat dulu, sambil kita terus pantau perkembangan selanjutnya," kata dokter tersenyum ramah, sambil memegang pundakku sebagai penyemangat untukku.
"Terima kasih, Dokter!" kata bunda mengantar kepergian dokter itu, keluar ruangan.
"Kamu baik-baik saja 'kan? Kamu ingat aku' kan?" tanya kak Azzam mulai duduk di sebelah kiri ranjangku.
Aku hanya tersenyum, memandang ke arahnya. Ku sentuh dahiku yang terasa seperti ada perban putih yang melingkarinya. Aku masih bingung, dengan yang menimpaku sebelumnya.
" Tak usah diingat-ingat dulu kejadiannya. Yang penting kamu masih mengingatku, sudah cukup membuatku bahagia," kata kak Azzam menurunkan tanganku yang sedang memegang perban di kepala.
__ADS_1
"Iya, aku tidak amnesia. Masih ingat jelas hubungan kita," kataku tersenyum ke arahnya.
"Tapi.... Aku masih bingung kenapa aku bisa sampai seperti ini?" lanjutku.
"Pelan-pelan, yang penting sekarang istirahatlah sampai benar-benar pulih dengan sendirinya. Tak perlu dipaksa untuk mengingat semuanya, karena kamu sudah pingsan selama seminggu lamanya," jelas kak Azzam membuatku sedikit tercengang.
"Seminggu? Tapi....," kataku belum selesai melanjutkan, tapi kak Azzam sudah menghentikan dengan memberi telunjuknya di depan mulutku yang hendak bicara.
"Kakak sudah sehat?" tanyaku baru ingat, kalau sebelumnya justru kak Azzam yang terbaring di rumah sakit ini.
"Iya, dan kita akan kembali ke kampus bersama lagi. Aku kangen....," kata kak Azzam terpotong karena deheman suara umi yang mengagetkan.
"Umi? Masih di sini juga?" tanyaku meminta pelukannya, dengan memberi tanda rentangan tangan padanya.
"Iya, masa umi tinggalin kamu seperti ini. Malah kepikiran nanti sampai negara kita," kata umi memelukku dengan kasih sayang tulusnya.
"Umi dari mana?"
"Tadi baru beli makan siang. Ini kesukaannya Azzam. Padahal dia juga baru pemulihan, tapi sulit banget disuruh makan. Katanya gak enak makan kalau belum lihat kamu siuman," jelas umi membuatku malu sendiri.
"Sekarang aku sudah bangun. Kakak makan yang banyak ya!" kataku tersenyum menatap kak Azzam.
"Siap, Cantik. Kamu juga cepat sembuh ya, biar kita bisa makan bersama lagi," katanya menerima bungkusan nasi pemberian umi.
Selagi menunggu kak Azzam makan, umi menemaniku berbincang. Mengobrol tentang masa kecilku, sambil tertawa bersama. Sampai bunda kembali masuk ke ruangan, dan ikut bersenda gurau tentang kisah kehidupan di sekitar rumah kami di masa lalu.
"Assalamu'alaikum," suara dari depan pintu membuyarkan obrolan kita.
"Wa'alaikumsalam. Yumna... Rey.....kalian ke sini juga?" kataku menyambut kedatangannya.
"Iyalah, aku khawatir dari kemarin tak melihatmu membuka mata. Kamu baik-baik saja 'kan?" kata Yumna mendekat ke arahku.
Saat melihat Yumna, aku jadi teringat tentang kepergianku mencari bukti kejahatan Roy. Meski belum semua kejadian bisa ku ingat semuanya.
" Roy sudah ditangkap? " tanyaku menatap Yumna.
" Sudah. Bukti kalung itu membuatnya akhirnya mengaku juga. Kamu sendiri kenapa? Kok bisa sampai nyasar ke jalur yang jauh dari arah villa? Memangnya kamu sama Ronald mau kemana?" tanya Yumna.
"Villa? Ronald?"
__ADS_1
Aku baru mengingat sedikit demi sedikit kejadiannya. Aku memang bertujuan ke villa bersama Ronald, meski akhirnya tersesat ke jalur yang tak biasa. Oh iya, bagaimana keadaan Ronald?