Mata Kedua

Mata Kedua
Cerita Riri


__ADS_3

"Riri.... RIRIIIIIII.......!" teriaknya mulai mengingat kejadian yang didengar sampai membuatnya pingsan tadi.


"Istighfar, Bu. Tenang dulu, biar kita bisa mengungkap kasusnya dan membuat Riri ikhlas melanjutkan ke dunianya," kataku mencoba menenangkan.


"Maksudnya?" tanya ibu Riri masih menangis sesenggukan.


"Maaf, sebentar. Biar polisi itu yang akan menanyai langsung tentang penjelasan dari korban," tunjukku pada Ronald yang sudah nampak lebih berani, saat berdiri dan membersihkan pakaiannya yang sempat kotor karena terjatuh tadi.


"Bagaimana? Bisa kita ungkap sekarang?" tanyaku pada Ronald.


"Aish... Di belakangmu. Dia menyentuh pundakmu!" kata Ronald nampak memberanikan diri, meski masih menunduk dan sesekali melirik ke arahku saat ini.


"Iya, aku tahu itu. Kamu sudah siap meminta keterangan darinya?" tanyaku lagi.


"Apa Riri ada di sini?" sahut ibu Riri nampak mengamati sekitar ruangan ini, tapi belum menemukan yang dia cari.


"Iya, Riri ada di belakang saya. Tapi maaf, saya belum bisa menunjukkan ke lebih dari satu orang. Ibu berdoa saja, agar Riri bisa tenang, dan pelakunya bisa mendapat hukuman yang setimpal," kataku mengelus punggung ibu Riri.


"Riri.... Ungkap semuanya, Nak!" kata ibu Riri masih celingukan di sekitar sini, sambil sesenggukan dalam tangisnya.


"Heiiii.... Cepat tanya apa maumu, karena kekuatanku sudah banyak terkuras. Sudah semakin lemas rasanya," tatapku pada Ronald lagi.


"Oh... Baiklah. Sekarang tolong ceritakan, apa yang sebenarnya terjadi padamu. Sampai wajah jasadmu menghitam seperti itu!" kata Ronald masih menunduk di depanku.


"Roy.... Dia sudah melecehkan saya berulang kali. Saat ibu diminta menjaga tokonya setiap hari. Sampai ibu melihatnya sendiri, setelah dua tahun dia melakukan itu pada saya, hik....," kata Riri mulai bercerita sambil menatap gendongannya dengan tangan kiri.


"Jadi ibu tahu?" tanya Roy menatap ibu Riri.


"Tahu apa?" tanyanya yang tak mendengar cerita anak semata wayangnya, yang sudah menjadi sosok tak kasat mata.


"Ibu tahu kalau Riri sudah dilecehkan Roy? Suami ibu?" tanya Ronald lebih jelas.


"Iya, makanya langsung saya minta cerai sama dia. Dan memutuskan untuk kembali ke rumah ini, meninggalkan harta yang dia berikan yang ternyata hanya dengan tujuan utama melecehkan putri saya. Hik.... Hik....," tangisnya mulai pecah lagi, tapi untungnya sudah mulai bisa mengendalikan diri tanpa pingsan seperti tadi.

__ADS_1


" Maksudnya, tujuan utama dia menikahi ibu hanya untuk mendekati Riri? " tanyaku memastikan.


" Iya, dan saya tahu setelah terjadi pertengkaran disaat saya memergoki dia melecehkan Riri. Dia yang mengaku sendiri."


"Hehhh.....lelaki tak tahu diri. Menikahi ibunya hanya karena ingin mendapatkan anak yang masih di bawah umur," geram Ronald.


"Bisa ibu membantu polisi mencari keberadaan Ronald saat ini?" tanyaku.


"Entahlah, karena dia sering ke luar kota untuk menyelesaikan bisnisnya. Tapi saya akan pastikan dia tak akan tenang hidup di dunia ini, karena telah melenyapkan nyawa anak semata wayang yang sudah selama ini saya jaga!" kata ibu Riri mulai mengepalkan kedua tangannya.


" Riri bisa tunjukkan kita tentang keberadaan Roy? " tanyaku.


" Dia menggelengkan kepala, " jawab Ronald menyampaikan apa yang sudah mulai berani dilihatnya di belakangku.


" Kenapa tak bisa? " tanyaku lagi.


" Lelaki itu dilindungi dukun sakti. Dia menutupi keberadaannya dari pandanganku," bisik Riri terdengar sedih sekali.


"Baiklah, kalau begitu ceritakan dulu kronologi kejadian semuanya. Kalau ada, tunjukkan juga buktinya agar polisi bisa memberatkan hukuman untuk Roy kalau ketemu nanti," kataku pada Riri.


"Kalau untuk urusan itu, serahkan padaku. Yang penting kami bisa menemukan keberadaannya, dan bukti yang memberatkan dia," janji Ronald meyakinkan.


"Pagi itu, saya disuruh ibu ke pasar untuk melengkapi stok bahan makanan di rumah majikannya. Karena ibu sedang merawat salah satu majikannya yang sedang sakit. Dan kejadian na'as terjadi saat di perjalanan," jelas Riri memulai.


"Maksudnya? Kamu bertemu Roy saat menuju ke pasar?" tanyaku memancing ceritanya.


"Iya, dan sepertinya dia sengaja selalu memata-matai pergerakan saya. Dia takut akan kehamilan saya."


"Kenapa dia sampai bisa tahu? Malah ibumu sendiri tak menyadari hal itu?" tanyaku lagi.


"Saya sudah menghubungi dia sebelumnya untuk meminta pertanggungjawaban atas kehamilan itu. Tapi tak ada tanggapan sedikitpun. Akhirnya saya mengancam akan mencemarkan nama baiknya, setelah kelahiran anak kami yang sudah bisa dites DNA kalau sudah lahir. Itu semua bisa beresiko merusak citranya sebagai pebisnis terhormat di kota."


"Kamu tak bilang pada ibumu dulu?" tanya Ronald menanggapi.

__ADS_1


"Saya tak tega. Pikiran ibu sudah terlalu kacau karena kehilangan kepercayaan kepada seorang laki-laki. Dan untungnya tak ada yang menyadari kehamilan saya karena baju yang selalu saya gunakan selalu kedodoran. Ditambah badan gemuk yang saya alami, bisa menyeimbangkan perut yang semakin membesar."


"Oke, lalu setelah bertemu dengan Roy?" tanyaku meminta kelanjutannya.


"Roy menyuruh anak buahnya, untuk memaksa saya yang sedang berjalan sendirian menuju ke pasar, masuk ke dalam mobil hitam yang mereka tumpangi."


"Bisa jelaskan ciri-ciri mobilnya, dan nomor kendaeaan kalau ada?" tanya Ronald mengeluarkan buku catatan kecil dari saku baju, dan mulai mencatatnya.


"Saya tak ingat nomornya. Tapi yang jelas, di dalam mobil itu pasti ada cipratan darah saya karena saya sempat melawannya yang sedang menodongkan senjata runcing di tangannya."


"Semoga saja dia belum mengganti atau mencucinya," kata Ronald masih kembali mencatat.


"Sepertinya dia tak tahu itu," jawab Riri sambil menjelaskan ciri-ciri mobil yang dipakai Roy saat itu.


"Ada lagi?" tanyaku.


"Setelah perdebatan panjang, Roy semakin marah. Dia mengajak saya ke pinggir jurang yang jarang dilewati orang. Lalu disitulah kami semakin berdebat, sampai akhirnya Roy mencekik dan membenturkan kepala saya."


"Lalu?"


"Karena mehanan cekikan itu, sampai lahirlah bayi dalam kandungan. Dan saya baru sadar, setelah bisa melihat jasad yang mirip dengan saya beserta bayi yang masih menyatu dengan ari-ari, tergolek lemas tak berdaya di rerumputan pinggir jurang."


"Bukannya waktu ditemukan, wajahmu menghitam seperti habis dibakar?" tanyaku.


"Iya. Roy ingin menghilangkan identitas saya. Awalnya mereka hendak mendorong tubuh saya ke jurang, tapi mereka takut karena di bawah jurang itu terdapat rumah penduduk. Akhirnya mereka membakar wajah saya di situ, dan membawanya ke hamparan alang-alang."


"Oke, besok kita langsung ke TKP untuk mencari buktinya. Apa ada lagi lainnya? Nanti kami akan langsung ke rumah Roy untuk mencari keberadannya," sahut Ronald.


"Roy tak ada di rumahnya. Dia bersembunyi di bawah ketiak dukun sakti. Makanya saya tak dapat menemukannya lagi," kata Riri mulai terlihat emosi.


"Ibu dan Riri mohon sabar ya. Ikhlaskan semuanya, dan kami akan berusaha membantu sebaik yang kami bisa. Bukan begitu, Pak Polisi?" tanyaku pada Ronald.


"Iya, kalian tak perlu membuang tenaga dengan emosi yang sia-sia. Gunakan tenaga itu untuk membantu kami menemukan pelakunya," kata Ronald menimpali.

__ADS_1


"Masalahnya sekarang tenagaku yang mulai kehabisan. Boleh kita akhiri dulu percakapannya?" tanyaku sudah tak tahan lagi.


"Lepaskan saja, sudah cukup informasinya untuk sementara!" kata Ronald pada Riri untuk melepaskan tangannya dari pundakku.


__ADS_2