Mata Kedua

Mata Kedua
Gosip Ncus


__ADS_3

"Astaghfirullahaladzim," jawab kami bersama semakin terkejut, mendengar kenyataan yang dijelaskan Martha.


"Memang orang tua angkatku lebih baik mendapatkan kecelakaan itu. Sebelum sempat mencicipi barang haram yang sangat menjijikkan," kata Martha lagi meluapkan kekesalan, saat menerawang ke langit-langit kamar.


"Istighfar, mohon ampun sama Allah. Memang ini sudah takdirnya. Dan kamu cukup mendoakan mereka agar diampuni dosa-dosanya" kataku mencoba kembali menenangkan Martha.


"Iya, kamu benar. Bagaimanapun, mereka sudah memenuhi kebutuhanku selama ini. Meskipun tak terlalu memberi kasih sayang padaku."


"Martha, kalau mereka tak sayang, kamu pasti sudah dikembalikan ke panti asuhan. Jadi bersyukurlah mereka sudah merawatmu selama ini," kata bu Nuri mendekat, dan mengelus kepala Martha yang mulai meneteskan air mata.


"Mereka hanya merawat secara materi saja. Pengasuhku lah yang benar-benar menyayangiku selama ini. Hanya dia yang peduli, hik...," tangis Martha.


"Setelah masalah ini selesai, akan ibu antar mencari pengasuhmu. Agar kalian bisa bertemu," janji bu Nuri.


"Terima kasih, Bu. Selain pengasuhku, ternyata ada orang baik di sekitarku. Yang peduli pada keberadaanku."


"Kalau kamu bisa bersikap baik, pasti orang di sekitarmu juga akan melakukan hal yang sama. Jadi mulailah dari diri sendiri dulu, sebelum meminta orang lain mengerti kamu," nasehat bu Nuri untuk kita semua.


"Tolong ajari untuk menjadi yang lebih baik lagi," ucap Martha membalas pelukan bu Nuri di depan kami.


"Insyaa Allah. Kuncinya cuma dari kemauanmu sendiri," sahut bu Nuri lagi.


Suasana di ruangan ini mulai sedih lagi. Tapi aku malah ingat, ada misteri di sekitar rumah pak Malik yang belum ku ketahui.


"Eh, trus gundukan di kebun belakang itu apa ya? Kenapa juga pas kita baru sampai di kampung ini, banyak sosok wanita tanpa ekspresi yang berjajar di jalan raya sebelum ke rumah bu Nuri? Sempet masuk mimpi pula," tanyaku dijawab gelengan kepala oleh semuanya.


"Yaelah....., kenapa nggak tanya aku sih?" kata Ncus baru muncul secara tiba-tiba, sambil memainkan kuku jari tangannya yang panjang, hitam dan kusam.


"Memang Ncus tahu?" tanyaku sedikit meledeknya, membuat bu Nuri dan Martha kebingungan karena tak dapat merasakan kehadiran Ncus di sekitar kita.


Tapi setelah dijelaskan oleh Yumna, akhirnya mereka paham bahwa ada sosok tak kasat mata.


"Ihhh....Ncus kan abis ngrumpi sama sosialita kampung ini. Jadi sedikit tahulah, apa yang lagi hits di sini."


"Ya ampun. Setan juga punya geng sosialita rupanya," sahut kak Azzam geleng-geleng kepala, sambil tersenyum geli membayangkan sendiri.


"Sudahlah, ayo ceritakan apa gosipnya," sahut Yumna ikut tak sabar.


"Jadi, gundukan tanah di kebun terbengkalai itu, adalah makam dari jasad para wanita yang menjadi tumbal mereka. Yang mati kedinginan dan kelaparan, karena dibiarkan tanpa busana dalam tempat pemujaan. Dengan alasan sebagai tumbal untuk pemuas jin peliharaan miliknya."

__ADS_1


"Dan sosok yang kamu lihat berjajar tanpa ekspresi, itu karena setengah jiwanya sudah dikurung dalam boneka. Supaya tak meneror warga termasuk mereka," sambungnya.


"Trus, keesokan harinya kok mulai tak terlihat lagi sosok wanita muda yang dijadikan tumbal pak Malik?" tanyaku mengingat kejadian sebelumnya.


"Itu karena jiwa mereka sudah sepenuhnya masuk dalam boneka. Jadi saat kamu mematahkan kepalanya, jiwanya bisa langsung keluar untuk menyerang bersama-sama."


"Ooohh...., jadi seperti itu."


"Sssttt..... Ada gosip seru lagi tentang mereka," kata Ncus sedikit berbisik.


"Kenapa berbisik sih?"


"Biar gak ganggu pasien lain yang sedang istirahat."


"Lah kan gak semua orang bisa dengar kamu ngomong?"


"Iya juga sih? Lupa kalau aku bukan manusia, he....," cengirnya membuatku geregetan saja.


"Apa gosip tambahannya?" tanya Yumna.


"Sebenarnya, Nabila itu bukan anak pak Malik. Melainkan anak salah satu penjaga mereka."


"Lha iya, soalnya pak Malik itu mandul. Gak bisa punya anak. Makanya bu Malik dibisikin saat tidur, sama jin sembahannya buat berhubungan dengan salah satu penjaganya. Tanpa sepengetahuan suaminya."


"Kenapa bu Malik mau ya?" tanya Yumna.


"Ya senanglah dia. Penjaganya lebih kekar juga. Lagipula jin itu bilang kalau itu salah satu syaratnya. Dan bu Malik tak perlu khawatir, karena anak yang dilahirkan nanti tetap menjadi anak dari suaminya," jelas Ncus lagi.


"Berarti, bu Malik ditipu juga sama jinnya?"


"Lha iya, kan memang itu kerjaan mereka. Jin itu bilang, kalau benih suaminya sudah dia titipkan lewat penjaganya. Tapi jangan sampai suaminya tahu itu semua, sebagai salah satu syarat ritual mereka."


"Gimana nasib mereka sekarang ya? Trus kalau pak Malik dan Nabila sampai tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya?" gumam Yumna sendiri.


"Ayo kita ke sana. Biar jelas melihat keadaan mereka," sahutku.


"Iya, ayo! Supaya tak keburu sore nanti," sahut kak Azzam.


"Kalian ke sana sendiri tak apa 'kan? Saya mau temani Martha di sini," jawab bu Nuri.

__ADS_1


"Iya, memang lebih baik kalau Martha ada yang jaga. Ya sudah, kami ke kantor polisi dulu saja," sahutku setuju.


Kami semua menaiki mobil Rey lagi. Menuju tempat yang kami rencanakan tadi. Setelah mampir sebentar ke sebuah restoran kecil, untuk mengisi perut dan menunaikan kewajiban kami. Bersujud kepada Illahi.


Waktu terus berlalu. Sampai akhirnya kita tiba untuk bertemu pak Malik dan semua yang terlibat dalam aksinya.


Tapi sampai di sana, bu Malik terus mercau tak karuan. Mengakui semua kesalahan, tapi dengan nada seperti orang tak waras saja.


Sedangkan pak Malik, hanya duduk di pojok ruangan. Diam tak bergerak selama beberapa detik, tapi kemudian berteriak ketakutan.


Melihat penampakan-penampakan gadis yang sempat dia jadikan tumbal. Terus saja meneror secara tak kasat mata. Sampai semua orang juga mengira kalau dia tak waras, seperti yang dialami istrinya.


Nabila, dia masih suka mengurung diri di kamar perawatan. Dengan pantauan seorang ahli kejiwaan, dia tetap mendapat penjagaan.


Beberapa hari kemudian, waktu kami di kampung ini hanya dihabiskan hanya untuk wara - wiri ke rumah sakit dan kantor polisi. Guna memberi keterangan yang sempat aku dan Yumna alami tempo hari.


Setelah hampir selesai semua proses penyelidikan, sepupu bu Nuri yang seorang polisi menepati janjinya. Memintaku untuk membakar bekas ritual pak Malik dan istrinya. Setelah beliau mengumpulkannya di kebun belakang bekas rumah Yumna. Setelah waktu isya' sudah kami lalui, dengan melaksanakan kewajiban seperti biasa.


"Terima kasih," suara bersahutan terdengar dari belakang kami.


Ternyata sudah bergerombol sosok-sosok gadis muda tersenyum ke arah kami. Melambaikan tangan, meski tak semua mengerti. Terutama para polisi yang masih menemani.


****


Pagi ini kami menjemput Martha, yang sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Dan sesuai kesepakatan awal, dia akan tinggal bersama bu Nuri.


Di hari ini juga, setelah mengantar Martha ke rumah bu Nuri, kami juga bersiap untuk kembali ke kota. Karena esok sudah harus melakukan kegiatan kampus seperti sebelumnya.


"Karena sudah lumayan siang, dan liburan kami sudah hampir usai, kami mohon pamit untuk kembali. Dan mohon maaf, karena banyak merepotkan bu Nuri," ucap Yumna mewakili, sebelum pulang ke kota lagi.


"Sama sekali tak merepotkan. Harusnya saya yang berterima kasih. Kalian sudah mengungkap kebenaran di kampung ini," jawab wanita ramah tersebut.


"Oh iya, tadi sepupu saya yang polisi bilang, kalau pak Malik dan istrinya sama-sama tak waras saat ini. Mereka diasingkan ke rumah sakit jiwa, yang terletak di sebuah pulau kecil bersama pasien tahanan lain yang membahayakan. Sepertinya, seumur hidup hukuman yang akan mereka terima nanti," sambungnya.


"Syukurlah, supaya tak ada lagi Anjani berikutnya. Terima kasih banyak atas semua bantuan kalian. Sampai hampir mengorbankan nyawa Aish dan Yumna juga," timpal Martha.


"Bagi kami, pengorbanan memang harus dilakukan demi persahabatan," sahutku memeluk Yumna dan Martha bersama.


"Ya sudah, ayo balik. Biar gak terlalu siang nanti," sahut kak Azzam, membuat kita segera bergegas menuju mobil yang diparkir bawah pohon mangga.

__ADS_1


__ADS_2