
"Bagaimana tawaran saya? Mau naik?" tanya pak Rendi kembali mempersilahkan, dengan tangannya yang langsung membukakan pintu tengah mobilnya.
"Memang kita ditakdirkan buat bareng pak Rendi kayaknya," ucapku sedikit bergurau.
"Oke, kita memang tak punya pilihan lain," sahut kak Azzam juga setuju.
"Silahkan masuk!"
Tanpa pikir panjang, aku dan kak Azzam langsung masuk ke dalam. Mengatur duduk senyaman mungkin, agar bisa lebih santai. Setelah keributan yang sempat terjadi diantara kami barusan.
" Mau langsung pulang? " tanya pak Rendi.
"Boleh kita mampir masjid sebentar? Sudah adzan," jawab kak Azzam.
"Oh, baiklah. Akan saya carikan masjid terdekat dari sini."
Mobil mulai melaju pelan. Sembari pak Rendi menengok ke kanan dan kiri. Sampai beberapa meter dilalui, mulai terlihat mushola kecil di sebelah pemukiman warga.
"Itu ada mushola, Pak!" seruku menunjuk ke arah samping kiri tapi pak Rendi terus menjalankan mobil ini.
"Kita langsung ke masjid besar depan sana saja. Biar longgar," jawabnya.
Aku dan kak Azzam saling berpandangan, setelah itu memgangkat bahu masing-masing.
"Saya akan menghentikan kalian di sana," tunjuk pak Rendi pada bangunan dengan kubah tinggi, sampai terlihat dari arah kami meski jaraknya belum teelalu dekat.
"Pak Rendi ikut masuk juga 'kan?" tanyaku.
"Gampanglah kalau saya. Sudah gedhe juga, jadi gak usah khawatirkan saya," ucapnya sambil cengengesan.
Tak ku pedulikan apa yang mau dilakukannya nanti. Yang penting bagiku, saat ini harus segera menyelesaikan ibadah petang kami. Sebelum waktunya terlewati.
"Nah, sampai juga. Nanti kita ketemu lagi di mobil ini ya. Ingat-ingat, tempat parkirnya di sini," sahut pak Rendi, setelah mobil berhenti di lapangan kosong sebelah masjid.
"Kenapa gak parkir di depan masjid, Pak?" tanyaku.
"Biar mudah keluarnya. Nanti kalau pas masjidnya rame, susah keluar malah. Gak apa-apa 'kan, berhenti di sini?" senyum ramah ditebarkan seperti biasa.
__ADS_1
"Tak masalah. Terima kasih, Pak. Saya masuk ke dalam dulu," pamitku turun duluan, kemudian diikuti kak Azzam.
Kami berpencar setelah tiba di depan masjid, karena ada pembatas wilayah laki-laki dan perempuan seperti yang seharusnya. Jadi tak ku hiraukan juga kemana kak Azzam akan bersujud nanti, karena saking besarnya masjid ini.
Ku panjatkan doa memohon perlindungan dari Allah SWT. Setelah kewajiban ibadah tiga raka'at, ku lakukan di tempat ini.
Tak lupa ku minta pengampunan dosa orang tua, yang selalu menyayangiku dari sebelum ditiupkannya ruh ku ke dalam rahim bunda dulu.
Ku tengadahkan tangan juga, untuk hubungan persahabatan kami yang mulai retak hari ini. Agar bisa kembali solid seperti kata kak Raisha tempo hari.
"Alhamdulillah," syukurku mengakhiri doa petang ini, sambil melipat mukena, dan mengembalikan ke tempat semula.
Sambil berjalan menuju mobil pak Rendi, sesekali aku celingukan mencari keberadaan kak Azzam. Sampai ku lihat sosok mirip Tissa sedang berdiri di bawah pohon besar.
"Tissa? Apa yang.....," belum jadi ku selesaikan panggilanku, sosok Tissa sudah mundur dan tak terlihat lagi.
Karena penasaran, ku dekati tempatnya berdiri tadi. Mencoba mengintip di balik pohon besar ini. Tapi aku malah melihat sesuatu yang mengejutkan. Dua lelaki berotot kekar, mengatakan kalau tugasnya sudah beres semua pada pak Rendi.
"Laki-laki dan perempuan dalam pujasera sudah diamankan polisi. Bersama mayat wanita yang kita habisi tempo hari. Dalam tas ransel yang sudah kami letakkan dalam kantor, sesuai rencana tadi," lapor salah satunya.
"Bagus, tinggal eksekusi sisanya. Sebentar lagi mereka akan masuk mobil, jadi siap-siap saja kita tunggu ledakannya lima belas menit lagi ," kata pak Rendi tersenyum puas.
Lelaki itu menjawab singkat, lalu pergi meninggalkan tempat ini. Sementara pak Rendi hendak mengamati, dari balik pohon ini. Membuatku berlari menjauh, agar tak terlihat dia yang semakin mendekati pohon.
"Lima belas menit? Ledakan?" gumamku melihat mobil yang sedang terparkir di lapangan sebelah masjid.
Sepertinya pak Rendi sengaja meletakkan di sana, agar jauh dari keramaian orang di masjid. Dan ini pasti sudah dia rencanakan juga sebelumnya, termasuk menjebak Rey dan Yumna yang masih di pujasera.
"Aku harus cepat cari kak Azzam!" gumamku, mempercepat langkah ini.
"KAAAAAKKKKK.....," panggilku ketika ujung mata menangkap keberadaan kak Azzam yang berjalan menuju mobil.
Aku semakin mengencangkan langkah. Dan aku juga tahu kalau pak Rendi pasti sedang memperhatikan semua gelagat kami dari jauh.
"Pak Rendi mana?" tanya kak Azzam sebelum masuk dalam mobil.
"Jangan masuk, kita tunggu di luar sambil panggil namanya. Ada bahan peledak di dalamnya," bisikku sambil menarik tangannya.
__ADS_1
"Oh, oke."
Tanpa banyak bertanya, aku dan kak Azzam hanya mondar-mandir di lapangan. Menjaga mobil, agar tetap aman.
"Lima menit kita coba cari pak Rendi. Kakak ke arah sana, aku yang akan menemukan dia. Aku tahu tempatnya bersembunyi," bisikku masih sambil pura-pura mencari ke sekitar lapangan bersama kak Azzam, sambil mencocokkan jam dari gawai kami.
"Oke, hati-hati. Aku akan mengalihkan pandangan dia saat ini."
Aku berjalan memutar, menelisik keberadaan pak Rendi dari belakangnya. Supaya bisa menangkap basah sebelum dia bersembunyi menjauh lagi.
"Pak, kenapa di situ?" tanyaku dari arah belakangnya yang sempat membuatnya kaget, saat konsentrasi mengamati langkah kak Azzam dari kejauhan.
"Oh, tak apa. Ini cuma lagi nyari sinyal hape saja. Kamu kenapa di sini?" tanyanya balik, sambil mengangkat hapenya tinggi-tinggi dan sedikit menggoyang-goyangkan.
"Cari bapak dari tadi. Kan kita sudah selesai. Yuk pulang," sahutku masih pura-pura tidak tahu.
"Eh... Ehmmmm.... Iii... Iya," katanya berjalan mendahului.
Sebelum sampai di dekat tempat parkir, pak Rendi menghampiri sebuah mobil yang juga terparkir di jalan raya. Sepertinya itu mobil dua pria tadi.
Aku yang diminta menunggu sedikit jauh, mencoba mengerti apa rencana cadangannya nanti. Tapi sayang sekali, tak terdengar sedikitpun ke telingaku di sini.
"Aish, Azzam bisa kemudikan mobil 'kan?" tamya pak Rendi.
"Iya, bisa. Kenapa?"
"Nah, itu Azzam sudah jalan ke sini," tunjuknya pada lelaki yang hendak dia lenyapkan bersamaku malam ini.
"Bapak dari mana? Aku sudah mencari tapi tak ketemu juga. Teenyata sudah di sini?" kata kak Azzam semakin dekat.
"Tadi mau kencing sebentar. Oh iya, ini bawa pulang mobilku aja ya. Saya masih ada perlu sebentar. Ini mereka juga sudah jemput ke sini nyari saya dari tadi katanya," jawabnya beralasan.
"Gak apa-apa kita bawa mobilnya?" tanya kak Azzam memastikan.
"Gak apa. Santai aja kalau sama saya," jawabnya tersenyum puas, membuatku mulai muak melihat sandiwaranya selama ini.
"Oh, kalau gitu kami pinjam dulu. Besok akan kami kembalikan ke pujasera, gimana? Soalnya kami tak tahu rumah pak Rendi," sahut kak Azzam.
__ADS_1
"Boleh. Ya sudah, saya berangkat duluan ya. Masih ada yang harus saya selesaikan segera," jawabnya pamit memasuki mobil temannya.