
Gadis itu langsung mendorongku dengan kencang. Sampai aku terjatuh ke belakang.
"Aaauuww..... Sakiiit!" kataku lemah.
Dengan tenaga yang tersisa, aku mencoba menyentuh bagian yang paling ku rasakan sakitnya. Kepala belakangku sepertinya mulai basah, berdarah. Menghantam batu yang terselip diantara akar pohon yang kekar.
Semakin lama, pandanganku mulai kabur melihat semuanya. Bibir juga ikut kelu untuk bicara. Lemas sekali rasanya, untuk kembali menghadapi mereka.
Ditambah mataku perlahan mulai terpejam dan tak bisa melihat apa-apa. Meskipun aku masih sadar, dan bisa mendengar semuanya.
"Angela, gimana ini?" tanya seorang gadis yang aku sendiri tak tahu keberadaannya, karena mata sudah tertutup dan tak bisa dibuka.
"Dia pingsan atau masih hidup ya? Angela, gimana?" tanya suara lainnya.
Hening, beberapa saat tak ada suara. Sampai mulai terdengar lagi rencana jahatnya.
"Ehmmm...., aku tahu!" sepertinya itu suara Angela, yang mungkin menjadi pemimpin dari mereka.
Suara langkah kaki beberapa orang terdengar menjauh dariku. Rasanya ingin sekali berlari di kesempatan ini. Tapi apa daya, tubuhku masih lemas, tak bisa beranjak pergi.
Tak lama, suara langkah kaki mulai terdengar lagi mendekati. Kemudian terasa ada seseorang mengangkat sedikit kepalaku, dan mengaitkan benda yang mungkin seperti tali. Tepat di leherku yang diikat kencang sekali.
"Angela, apa yang kau lakukan?" tanya salah satu gadis yang mungkin dari tadi sudah ada di sini.
"Angela, kita bisa dapat masalah kalau begini! Itu tali siapa?" sahut yang lainnya.
"Sssttt..... Jangan keras-keras! Mumpung taman lagi sepi. Tadi aku ingat, kalau ada tali besar di belakang kamar mandi. Mungkin milik petugas taman ini."
Sepertinya suara gadis-gadis yang lain mulai terdengar ketakutan, dan hanya berani bicara lirih untuk menutupi kejahatan. Sedangkan seorang gadis yang mungkin bernama Angela, masih berusaha menganiaya.
" Errrghh......, " suara yang bisa ku keluarkan saat ini, saat leherku semakin sakit sekali.
Semakin lama, tali itu semakin erat mencekikku. Beberapa gadis nampak bergumam ngeri melihat sesuatu. Tapi sepertinya Angela tak mau melepaskan niatnya padaku.
"Angela, kalau dia....," ucap seorang gadis terhenti.
"Kalau dia hidup, kita yang akan celaka. Biarlah aku yang membereskan semuanya!" suara gadis yang masih mengikat kencang talinya, terdengar yakin saat melakukannya.
Jalan nafasku rasanya sudah sangat sesak. Tubuhku juga mulai terangkat, sampai kaki tak lagi menginjak tanah. Tapi gadis ini tak puas melihatku yang hanya bisa meronta tanpa suara. Sampai akhirnya...
__ADS_1
" EEERGGHHHH.....AAGHH... UHUKK..., " teriakku sekuat tenaga, sampai terbatuk dibuatnya.
Aku kembali bisa bernafas lega. Dengan diriku yang ternyata masih di rumah sakit, bersama banyak orang yang ku kenal juga. Terduduk di ranjangku seperti biasa.
"Tadi mimpi ya? Rasanya nyata sekali?" kataku menepuk pipi, menyadarkan kalau ini sudah kembali masuk ke duniaku lagi.
"Kamu kenapa?" suara dari ranjang sebelah terdengar di telinga.
"Eh, kamu bangun karena teriakanku ya? Maaf!" ucapku pada Ronald.
"Aku sudah bangun sebelum kamu membuka mata. Tapi tumben, Azzam tak ikut bangun juga? Padahal tingkahmu sampai membuat ranjang itu bergetar hebat. Ku panggil dari tadi juga kamu tak menjawab."
"Masa sih? Loh, bunda sama umi kemana?" tanyaku menunjuk tempat tidur yang biasa mereka gunakan.
"Katanya mau ke mushola. Sholat malam untuk memohon disembuhkan semuanya."
"Sekarang jam berapa?" tanyaku.
"Jam setengah tiga pagi. Kenapa?"
"Kalau begitu, aku juga mau sholat malam dulu."
"Iya, ini namanya sholat sunnah. Artinya, kalau tidak dikerjakan tak apa, tapi kalau dikerjakan mendapat pahala. Jadi lebih baik dikerjakan, meskipun sebenarnya kalau tak dilakukan tak mendapat dosa juga."
"Oh, menarik. Jujur, aku sebenarnya ingin sekali mempelajari apa yang kamu anut saat ini. Tapi aku belum menemukan orang yang tepat, untuk menjelaskan pertanyaanku lebih dalam."
"Tanya saja sama kak Azzam, biar tak menimbulkan fitnah kalau aku yang menjelaskan. Aku juga masih harus banyak belajar," kataku.
"Azzam? Haduhh.... Bukannya dijawab, yang ada malah diajak gulat."
"Insyaa Allah kalau tanyanya baik, akan baik juga jawabannya. Yang penting kamu benar-benar niat melakukannya, bukan hanya di mulut saja."
"Menarik.... Sungguh menarik....!"
"Apanya?" tanyaku.
"Kamu.... Eh, maksudnya penjelasanmu."
"Ya sudah, besok akan aku minta Yumna buat mencarikan buku-buku yang bisa kau baca untuk memperdalam keyakinanmu. Kalau ada yang mengganjal, boleh kau tanyakan pada kami, tapi lebih baiknya kepada sesama lelaki."
__ADS_1
"Astaghfirullah.....," ucap kak Azzam tiba-tiba terbangun dari mimpi.
"Kenapa, Kak?" tanyaku sempat kaget dan hampir jatuh dari ranjang ini.
"Eh.... Aku masih di sini?" ucapnya menengok kanan dan kiri.
"Kakak mimpi apa? Petunjuk dari Lita? Nih, kakak minum dulu" tanyaku sembari menyerahkan botol air mineral untuknya.
Kak Azzam mengambil minum dari tanganku. Menengguk isinya langsung hampir setengahnya. Dia nampak lega setelah mulai sadar ini sudah di dunia kita.
"Aku mimpi, tentang sebuah danau dengan air yang berwarna biru. Tak seperti warna biru pada air biasanya, tapi sungguh indah pemandangannya. Di sana, aku melihat seorang perempuan sedang duduk sendiri di atas batuan kapur yang mengelilingi danau tersebut."
"Lalu? Apa yang kakak lakukan di sana?" tanyaku mulai serius.
"Ehemm.... Jangan-jangan, ada perempuan lain di pikiran Azzam. Yang membuatnya sampai memimpikannya," sahut Ronald sempat membuat kak Azzam hampir kesal, tapi segera ku tepuk pundaknya untuk lebih membuat tenang.
"Astaghfirullah..... Orang ini lama-lama ngeselin juga ya. Boleh minta pisah kamar aja nggak sih?"
"Boleh, kalau kamu mau ke kamar lain gak apa-apa. Yang penting Aish tetap di kamar ini bersama bundanya dan saya," katanya mengejek.
"Kak, lanjutkan saja! Hei, Ronald.....tolong mulutnya dijaga dulu bisa nggak? Aku sudah cukup sabar dengan sikapmu yang cerewet seperti bebek. Lama-lama ku panggil Ronald bebek kamu ya," ancamku ikut kesal dibuatnya.
"Istighfar, Aish," kata kak Azzam balik mengingatkan.
"Astaghfirullah. Sampai terbawa emosi aku denger dia."
"Ku lanjutkan lagi saja ceritanya. Sepertinya ini ada hubungannya sama tempat tinggal Lita," kata kak Azzam membuatku mulai bersemangat lagi.
"Oke... Maaf. Silahkan dilanjutkan!" ucap Ronald menengadahkan tangan kanan, sebagai kode mempersilahkan.
"Jadi perempuan itu duduk sambil memandangi danau, dan terlihat sedih sekali. Meskipun aku hanya nampak dari belakang."
"Terus? Kakak deketin dia?" tanyaku.
"Aku hanya diam di tempat saja. Masih mencerna kejadian yang mirip seperti nyata. Karena belum pernah juga menemui gadis itu, bahkan tak tahu letak danaunya dimana?"
"Lalu, darimana kakak tahu kalau itu ada hubungannya dengan rumah Lita?"
"Nah, saat aku masih bingung, gadis itu menoleh padaku. Dia tersenyum, dan bilang kalau itu danau tempat kesukaannya kalau lagi gelisah. Cuma aku tak tahu dia siapa? Dan kenapa mengajakku bicara? Sampai gadis itu mengaku, kalau dia bernama Lita. Hampir tak ku kenali dia, karena wajahnya tidak pucat dan membiru seperti jenazah di kamar mayat. "
__ADS_1