
"Terima kasih ya!" kataku setelah mengambil tas berisi baju, yang sempat Yumna bawakan untukku.
"Iya sama-sama, kami pulang dulu ya. Hati-hati, banyak yang iseng disekitar sini!" kata Yumna sebelum pergi.
"Iya, aku sudah bertemu dengan salah satu grup mereka," jawabku mengingat kejadian semalam.
"Biasalah, mereka ajak kenalan. Apalagi mereka tahu kalau kamu bisa merasakan," jawab Yumna lagi.
"Kamu juga hati-hati. Baca doa sepanjang perjalanan nanti. Apalagi di belokan tempat kak Azzam kecelakaan, katanya banyak yang berseliweran. Jangan sampai bikin kaget aja," kataku mengingatkan.
"Insyaa Allah kami akan selalu waspada. Kami pulang ya, assalamu'alaikum," kata Yumna saat mobil mulai berjalan menjauh pergi.
"Wa'alaikumsalam."
Ku bawa tas berisi baju, kembali menuju ruangan kak Azzam yang berada ke arah depan, sedangkan aku sekarang tepat di daerah parkiran belakang. Akan ada banyak ruangan yang harus aku lewati, untuk sampai kembali ke kamar tujuanku lagi.
Sebenarnya ada jalan memutar melewati halaman luar, kalau tak ingin berjalan menyusuri setiap lorong bangsal di dalam rumah sakit yang sedikit sintrun dan remang. Tapi akan memakan waktu yang lebih lama, juga lebih banyak tenaga, karena semakin jauh jaraknya. Jadi ku putuskan untuk melalui jalan di dalam rumah sakit saja seperti tadi saat bersama Rey dan Yumna.
"Bismillah, semoga cuma makhluk-makhluk iseng saja. Bukan mereka yang punya masalah atau bahkan dendam yang membara. Agar tak mengganggu saat di sini masih ada bunda," gumamku mulai melangkah menyusuri setiap lorong, setelah melewati kamar mayat di sebelah kanan pintu belakang.
Masih berjalan dan menunduk sendiri, banyak suara tawa mengiringi. Tapi selama itu tak merisaukan atau menampakkan diri dengan fisik yang sengaja mencari perhatian, aku tak peduli karena sudah mulai terbiasa oleh keberadaan mereka di sini.
Sampai sebuah suara tangisan mulai terdengar lirih di sekitar sini. Sedangkan jalan yang ku lewati dengan semak pendek di kanan dan kiri, tak memberiku jalan, untuk memotong ke arah lain lagi.
'Hik.... Hik....'
Ku coba tak menghiraukannya, dan terus berjalan ke depan. Meski aku tahu kalau itu seperti suara makhluk yang ingin diketahui keberadaannya. Mungkin sebagai tanda permintaan tolong darinya. Seperti biasanya.
'Hik....hik....hik......'
Suara tangisan seorang wanita semakin jelas, sampai masuk ke gendang telinga. Dan mulai nampak sesosok bayangan menghadang langkahku di depan sana. Sosok dengan gaun putih menjuntai hingga ke tanah, dengan ceceran darah dari bagian perut sampai bawah. Sedangkan wajahnya sudah hancur menghitam tak beraturan.
__ADS_1
"Siapa kamu?" tanyaku spontan menghentikan langkah, saat ku lihat makhluk asing dalam suasana yang tak terlalu banyak cahaya sudah di depan mata.
Sosok itu hanya diam, sambil menunduk untuk melihat bayi berbalut kafan dalam gendongannya. Tanpa suara, dia terus mengamati hantu bungkus mini, yang masih berlilit ari-ari di dekapan tangan.
"Kamu siapa? Tolong minggir, saya mau lewat sebentar. Bolehkan?" tanyaku mengulang pelan.
Wanita itu hanya menggelengkan kepala, masih di tengah jalan, sambil menangis tak ada jawaban.
"Apa maumu?" tanyaku lagi.
Sosok itu menjadi menangis kencang, tanpa bisa berkata sedikitpun, malah justru mengganggu karena sampai memekakan telingaku.
"Oke, puaskan dulu tangismu. Tapi jangan lama-lama, karena di sini banyak nyamuk mulai berpesta. Kakiku sudah mulai gatal digigit oleh belalainya yang bisa menembus celana," kataku meringis agar dia ikut tertawa, meski itu mustahil rasanya.
Sekitar satu menit berlalu, lama-lama sosok itu mulai memudar dan menghilang dengan sendirinya. Membuatku semakin lega, karena aku tak perlu berurusan lebih jauh dengannya.
"Alhamdulillah, dia tak meminta diselesaikan masalahnya," kataku mulai terus melanjutkan berjalan menuju kamar perawatan kak Azzam.
"Akhirnya sampai sini. Tinggal beberapa langkah lagi," gumamku sendiri.
Baru mau berbelok ke arah jajaran kamar bertuliskan 'Jasmine', nampak dua orang suster tergopoh dari depan pintu masuk, masih diiringi sirine ambulan. Aku yang berdiri, masih terus terdiam mengamati.
"Astaghfirullah, ambulannya bawa apa lagi itu?" kataku sendiri, saat ku lihat darah yang menetes turun dari tempat tidur yang didorong kedua suster itu.
"Ada mayat bayi dan wanita muda yang baru ditemukan polisi. Sepertinya baru melahirkan, tak jauh dari kampus dekat sini. Sebaiknya kamu kembali ke ruanganmu saja," kata perawat lain baru saja tiba, sambil berlalu meninggalkanku untuk menyusul temannya.
"Kampus dekat sini? Apa itu berarti kampusku?" gumamku masih penasaran.
Rasa penasaran kembali mengalir dalam pikiran. Membuatku ingin menunggu mereka membawa jasad yang baru diturunkan dari ambulan, mendekat hendak menuju ke ruang autopsi mayat yang pasti nanti akan melewatiku nanti.
Sampai para suster sudah beberapa meter dari tempatku berdiri, mulai terlihat jasad yang dibawa mereka ini.
__ADS_1
"Astaghfirullah," kataku kaget setengah mati, membuat suster itu sejenak menghentikan langkah mereka di dekat tempatku berdiri.
"Kenapa, kamu kenal?" tanya salah satu suster itu.
"Eh, eng..enggak kok. Cuma kaget saja lihat kondisinya," kilahku agar tak banyak percakapan yang tak masuk akal kalau diceritakan dalam keadaan genting begini.
"Oh ya sudah. Kalau kamu mengenalnya, bicara saja pada polisi di depan. Mereka masih mencari kejelasan," jawab salah satu suster.
"Maksudnya?"
"Polisi baru menemukan mayat tanpa identitas ini," ucap suster kembali melanjutkan berjalan.
Jasad seorang wanita dengan luka bakar di wajahnya, dan darah berceceran kemana-mana, beserta mayat bayi di dekapannya yang dibungkus kain putih ala kadarnya. Mengingatkanku pada sosok yang tadi sempat menampakkan diri sebelumnya.
"Apa tadi benar wanita ini ya?" kataku masih berusaha mengingat jelas kesamaan mereka.
"Hei, kenapa?" tepukan pelan di pundak berhasil mengagetkan. Hampir saja aku melonjak saking terkejutnya.
"Bunda? Belum tidur?" tanyaku setelah berbalik arah menatap seseorang yang baru menyapaku.
"Kepikiran kamu. Kok ambil tasnya lama banget?" tanya bunda.
"Panjang ceritanya. Nanti akan aku ceritakan sesampainya di kamar," senyumku sambil merangkul bunda, menuju kamar untuk mengistirahatkan mata.
Sesampainya di kamar, ku bersihkan badan dan mengganti pakaian. Sedikit bercerita, lalu bersiap untuk tidur, karena mata sudah tak tertahan. Setelah doa ku ucapkan.
Sepertinya baru saja mata ini tertutup, suara tangisan tadi mulai terdengar lagi. Saat ku buka mata, aku seperti berada di ladang alang-alang yang cukup luas sekali. Dengan suasana senja menjelang petang hari.
"Siapa itu?" tanyaku melihat sekeliling.
Belum terlihat wujudnya, hanya tangisan semakin terdengar, lalu ku ikuti saja sumber arah suara. Pelan... Pelan..., sampai terlihat seorang wanita berjongkok membelakangi tubuhku berdiri. Di balik alang-alang yang cukup tinggi.
__ADS_1
"Kamu siapa?" tanyaku untuk ke sekian kali, tapi yang ini nampak lebih nyata daripada sebelumnya. Aku curiga, kalau dia membawaku ke alam yang menerangkan kasusnya.