
****
Karena ada satu pemenang giveaway yang belum menghubungi sampai seminggu, jadi mohon maaf hadiahnya dialihkan ke komentar lainnya. Mohon maaf banget ya, karena author juga gak enak sama yang jual pulsa. 🙏🙏🙏🙏
Pemenang penggantinya adalaaaah.....
(Jeng... Jeng... Jeng....)
Untuk pemilik akun di atas, mohon segera hubungi ke Ig: Makmak871
Terima kasih banyak untuk pengertiannya, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya. 🙏🙏🙏
****
"Kalau untuk penyebab kematiannya, dia belum menunjukkan apa-apa. Cuma berbisik ingin pulang saja," jelasku pada pak Adam yang serius mendengarkan.
"Memang bapak didatangi dalam mimpi juga?" tanya Ronald memastikan.
"Iya. Semalam saya terus gelisah saja. Lebih dari tengah malam baru saja bisa memejamkan mata. Tapi saya malah mimpi tentang sekolahan yang saya belum pernah datangi sebelumnya. Eh, tiba-tiba telepon berbunyi membuat saya terbangun dari mimpi. Meminta saya datang ke rumah sakit ini, pukul tiga tadi pagi."
"Kalau di mimpi bapak, apa yang terlihat sedang terjadi?" tanyaku.
"Saya lihat, ada satu anak perempuan, yang didatangi empat temannya. Perempuan semua. Tapi saya tak melihat wajah anak perempuan yang sedang dikerumuni temannya itu, karena posisi saya ada di belakangnya."
"Bapak yakin, kalau itu petunjuk dari jenazah tanpa identitas itu?" tanya Ronald lagi.
"Saya yakin. Karena rambut lurus, hitam, dan panjang yang dimiliki oleh perempuan dalam mimpi, maupun jenazah yang sekarang ada di kamar mayat, sama persis."
"Rambut. Apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu? Kenapa dia tak muncul lagi, supaya kita bisa menanyainya saat ini," gumamku.
"Jangan aneh-aneh deh. Kalau mau dia muncul, sebaiknya jangan di depanku juga. Ya sudah, kalian lanjut ngobrol berdua. Aku mau minum obat terus lanjut tidur saja," kata Ronald langsung mengambil obatnya, kemudian merebahkan posisinya yang membelakangiku dan pak Adam.
"Yah, dia lanjut molor lagi!" seruku manatap Ronald yang ku tahu masih mendengarkan obrolan kami.
"Lanjutkan, Pak. Apa yang terjadi dalam mimpi bapak?" lanjutku.
"Saya melihat, ke empat gadis yang mengerubungi ada yang mengancam akan menggunting rambutnya, kalau dia masih terus berusaha."
"Berusaha apa?"
"Entahlah, karena dering ponsel sudah membangunkan saya untuk pergi mengurusi jenazahnya."
"Memang bapak sering, dapat petunjuk atau gangguan dari jenazah yang sedang bapak tangani?" tanyaku hanya ingin tahu.
"Kalau dibilang sering, nggak juga. Mungkin cuma beberapa yang kurang tenang meninggalkan dunia. Ada suatu hal yang belum dia selesaikan, sebelum melanjutkan ke alamnya."
__ADS_1
"Oh, berarti bapak sudah biasa ya menangani kasus seperti ini?" tanyaku lagi.
"Tidak. Karena kasus ini sangat berbeda. Selain tanpa identitas, sosoknya tak berani memberi petunjuk dengan jelas. Mungkin dia telah memilihmu untuk membantunya," ucap pak Adam sambil tersenyum menguatkan.
Ku ceritakan kembali kisahku tadi malam padanya. Termasuk nama 'Lita' yang sempat dia berikan. Bunda dan umi yang melihat, tak komentar apa-apa. Sampai kak Azzam mulai membuka pintunya.
" Assalamu'alaikum, " katanya baru masuk ruangan ini.
" Wa'alaikumsalam," jawab kami semua.
"Dari mana saja, Azzam?" tanya umi.
"Cuma beli minum sama camilan. Pasti tadi umi sama bunda cuma beli buat sarapan 'kan?" tebaknya.
"Iya, kita kira sarapan saja sudah cukup mengenyangkan. Ya' kan, Key!" kata umi meminta persetujuan bunda.
"Iya. Eh, pak Adam sudah sarapan? Saking seriusnya cerita sampai lupa tawarin makan," kata bunda mulai bersuara.
"Terima kasih, tapi saya baru saja makan sebelum berangkat ke sini."
"Kalau gitu makan camilan saja, sambil lanjut ceritanya," tawar kak Azzam sambil membongkar plastik belajaannya.
"Terima kasih banyak. Saya rasa, saya harus kembali bekerja. Kalau ada informasi lagi, katakan saja pada saya. Kasihan, mayat itu seperti sedang menanggung derita," ucapnya beranjak berdiri.
"Aish yang seharusnya minta maaf. Karena bapak jadi membuang waktu ke sini saat jam kerja. Padahal Aish lebih muda," ucapku sungkan.
"Assalamu'alaikum," ucapnya memberi salam sebelum menghilang tertutup tembok ruangan.
"Wa'alaikumsalam."
****
Senja sudah berganti malam. Sudah tak ada lagi percakapan. Sedangkan aku sendiri masih terbangun saat jam hampir tengah malam.
Ada pikiran ingin membantu Lita, tapi aku tak bisa kemana-mana. Karena masih disuruh istirahat juga.
Ku paksakan memejamkan mata. Setelah sebelumnya berdoa, aku berharap tak kaku seperti sebelumnya.
Baru saja mata ini terpejam, aku seperti dalam kegelapan malam. Di tengah taman kota yang mungkin menjadi tempat pembunuhan.
"Kenapa aku di sini?" gumamku sendiri, masih bingung antara nyata atau memang benar ini hanya mimpi saja.
"Toloong!" suara parau seorang wanita terdengar jelas sekali.
Samar-samar, dari beberapa langkahku ke depan ada seorang gadis yang berdiri membelakangi. Gadis dengan rambut sama persis, seperti ciri-ciri yang diceritakan pak Adam tadi.
"Lita.... Kamu Lita?" tanyaku memastikan, karena keadaan remang, hanya disinari cahaya bulan.
__ADS_1
Gadis itu hanya terlihat mengangguk saja. Dan berbalik arah menatapku.
Dalam diamnya, dia menunjuk sebuah pohon di samping kiriku. Secara perlahan, dia juga mengarahkan tangannya pada tali melingkar, yang masih menggantung pada sebuah batang yang besar. Kemudian lanjut ke bagian akar.
"Apa maksudnya?" tanyaku.
Belum sempat dia menjawab, Ronald berteriak membangunkan seisi ruangan.
"AAAAAARGHHHH......!"
Kak Azzam langsung terburu-buru menyalakan lampu ruangan. Kemudian menatap Ronald dengan heran.
"Kamu ngapain teriak begitu? Sudah malam gak tahu?" tanya kak Azzam terlihat kesal.
"Aku.... Aku mimpi. Ada gadis berambut panjang sekali. Sampai rambutnya bisa buat lompat tali, kalau dia mau sih!" cengirnya semakin membuat kesal.
"Apaan maksudnya? Sudah teriak, malah gak jelas ceritanya," gerutu kak Azzam.
"Maaf bercanda, hee.... Biar gak spaneng saja. Cuma kalau mimpi ketemu gadis berambut panjang, memang benar adanya," jelasnya mulai terlihat serius.
"Apa yang ada dalam mimpimu?" tanyaku, karena aku juga baru saja memimpikannya.
"Aku mimpi, dia berdiri di depan kamar mayat rumah sakit ini. Terus minta pulang karena kasihan sama ayahnya yang tinggal seorang diri," jelasnya.
"Berani banget kamu tanyai dia?" gurauku meledeknya.
"Aku sama sekali tak bertanya. Tapi karena tubuhku mematung tak bisa digerakkan, jadi terpaksa mendengar curhatannya."
"Dia cerita apa?" tanyaku.
"Dia bilang, dia salah karena terlahir dengan rambut yang indah. Sampai banyak teman perempuan yang tak suka melihatnya, saat beberapa lelaki terpesona olehnya."
"Lalu, apa lagi katanya?" tanyaku lagi.
"Dia ingin kita mengungkap kasusnya. Dia minta tolong, jenazahnya dibawa ke rumahnya."
"Dia bilang tidak, rumahnya dimana?" tanyaku serius kali ini.
"Tidak!" jawab Ronald singkat, tapi langsung menbuat kami yang mendengar kecewa.
"Hadehhh..... Kenapa tak kau tanya dia?" sahut kak Azzam kembali duduk di antara ranjang kami berdua.
"Memang aku berani?" katanya dengan nada bicara seperti sedang bertanya.
"Lhah kenapa tak berani?"
"Masih trauma sama hal yang seperti itu. Ehmm.... Lisaa.... Eh siapa tadi namanya, kalau kamu di sekitar sini, tolong masuk ke mimpinya Azzam saja, jangan ke saya. Pliiss!" kata Ronald melihat sekeliling ruangan, sambil menunjuk kak Azzam.
__ADS_1
"Namanya Lita, Ronald!" ucapku dan kak Azzam bebarengan, sambil menahan beban geregetan saat melihat tingkah Ronald.