Mata Kedua

Mata Kedua
Sifaf Posesif Alif


__ADS_3

Kami berempat menuju kafe, setelah menurunkan barang-barang Melati dan nenek. Meski Melati memaksa untuk membantu kita menyelesaikan masalah guna-guna, kami tak pernah menyetujuinya. Karena Rey lebih membutuhkan dia untuk mengawasi di kafenya.


"Sekarang apa rencana kita?" tanya kak Azzam saat kami sudah ada di dalam kafe Rey, dan memilih tempat duduk di pojokan.


"Kita datangi Dini, dan langsung tanyakan saja apa yang terjadi. Gimana?" usul Yumna.


"Apa iya, dia mau mengakui perbuatannya? Aku rasa tak akan ada pengakuan, kalau belum ada korban," sahutku.


"Kamu benar. Apa kita tanya Alif dulu? Apa yang dia rasakan? Sambil kita selidiki lebih jauh lagi," usul kak Azzam.


"Sepertinya itu lebih baik. Besok akan ku bawa Alif menemui kita di taman," janji Yumna.


****


Dua hari kemudian, kami baru bisa memanggil Alif setelah dia sempat tidak masuk kampus sama sekali. Hal yang sama juga dilakukan oleh Dini.


"Nih anaknya," kata Yumna membawa Alif, yang sedikit emosi.


"Apaan sih! Apa mau kalian? Apa yang perlu ku dengar tentang Dini?" tanya Alif menunjuk kami satu per satu.


Di atas kepalanya masih terlihat kepala ular besar yang sedang melingkar.


"Alif, tolong tenang dulu. Kami hanya ingin membantumu!" kata kak Azzam pelan.


"Membantu apa? Aku baik-baik saja! Dan tak usah kau campuri urusan kami. Cukup sekali ini ku peringatkan pada kalian ya!!" kata Alif beranjak meninggalkan kami sebelum kami menjelaskan apa-apa.


"Oh iya, ku tegaskan lagi! Kalau aku benar-benar mencintai Dini seutuhnya, jadi jangan sampai ada yang berani merebutnya dari ku, titik!" lanjutnya sambil menengok sebentar, dan kembali melanjutkan pergi.


"Kenapa sih dia? Apa karena pengaruh ular di kepalanya?" tanya Yumna.


"Pasti. Kita tak punya banyak waktu sepertinya. Karena sekarang malah aku lebih mengkhawatirkan keselamatan Dini juga," kata kak Azzam.


"Kok bisa?" tanyaku dan Yumna bersama.


"Kalian dengar kata-katanya sebelum pergi? Dia terlihat berbeda dari sifat sebelumnya. Aku takut dia nekat mencelakai Dini atau orang-orang terdekatnya, karena rasa cinta sampai menghilangkan akal sehatnya."


"Kakak benar. Trus, dimana Dini sekarang?" tanyaku menatap Yumna.


"Dini tidak masuk lagi hari ini. Tapi aku tadi sempat mendapat kabar, kalau Dini menginap di rumah Megan, sahabatnya," bisik Yumna.

__ADS_1


"Megan dimana?"


"Tadi sih ada, cuma dia langsung pergi setelah berkata seperti itu tanpa menjelaskan apa-apa. Dia ingin kita menemuinya di alamat yang sudah dia catat sebelumnya," kata Yumna menyerahkan secarik kertas pada Rey sebagai supir seperti biasa.


"Kita langsung ke sana saja!"


Rey langsung mendahului kami menuju ke tempat parkir mobilnya. Aku merasa ada yang mengikuti, meskipun dari tadi ku tengok tak ada siapa-siapa di belakang. Sampai kita di tempat parkir, aku masih merasa ada yang mengganjal di hati.


"Kenapa sih, Aish?" tanya Yumna membukakan pintu mobil untukku.


"Enggak apa-apa. Paling cuma perasaanku saja."


"Kamu merasa ada yang mengikuti kita?"


"Iya. Kamu juga merasa?" tanyaku dijawab anggukan Yumna.


"Apa Alif masih ada di sekitar sini?" tanyaku kembali celingukan meskipun sudah masuk di dalam.


"Cari siapa?" tanya kak Azzam yang kali ini duduk di sebelah Rey.


"Kayak ada yang ikutin kita rasanya," jawabku.


"Siapa? Alif? Tuh anaknya lagi terburu-buru ambil sepeda motornya," tunjuk kak Azzam ke arah depan.


"Sebaiknya kita ikuti sulu dia!" usul Yumna.


Kami semua setuju, untuk mendatangi rumah Megan setelah mencari tahu apa yang akan dilakukan Alif dengan terburu-buru. Mobil mulai berjalan mengikuti kecepatan yang tak biasa. Tapi dari arahnya, kami merasa ini seperti jalan yang sesuai dengan alamat yang diberi Megan sebelumnya.


"Apa Alif tadi dengar kita ya? Kok kayaknya dia mengarah ke rumah Megan?" ucapku tegang, merasakan Rey yang mengebut kencang.


"Mungkin dia sudah membuntuti kita, setelah pura-pura pergi tadi," jawab Yumna.


Beberapa menit berlalu, dengan kecepatan yang tak menentu. Sampai tibalah sepeda motor yang kami buntuti berhenti di depan halaman rumah, persis beralamat sesuai tulisan di kertas yang dipegang Yumna.


"Eh, itu dia berhenti. Tepat di depan rumah Megan sesuai alamat ini," ucap Yumna menunjuk tulisan di kertas, mencocokkan keberadaan kita.


"Apa itu berarti dia mendengarkan pembicaraan kita?" tebakku.


"Kayaknya tadi dia yang mengikuti kita," lanjut Yumna.

__ADS_1


Baru saja kami saling memberi tebakan, suara teriakan terdengar dari dalam. Rey segera memajukan kendaraan, agar bisa lebih dekat dengan halaman Megan.


"Kita tu....," belum selesai kak Azzam bicara, terlihat Dini berlari keluar dari dalam.


Rey langsung sigap melajukan kembali kendaraan, dan menyuruh Yumna membuka pintu tengah.


"Dini, masuk!" seru Yumna segera menarik Dini yang ketakutan, dengan dibuntuti Alif dari belakang sambil membawa sebilah pedang.


Setelah Dini berada di dalam mobil Rey, dia baru bisa menangis mencurahkan isi hatinya. Dia juga menceritakan, kalau dua hari ini dia disekap Alif di apartemennya.


"Minun dulu!" kataku menyodorkan botol air mineral yang selalu ada di mobil ini.


"Rey, hati-hati!" teriak Yumna karena Rey terpaksa mempercepat laju mobilnya.


Dari belakang mobil ini, terlihat sepeda motor milik Alif mengejar kita. Sambil terus menenteng pedangnya. Jalanan yang lumayan lenggang, membuat Rey bisa melaju dengan kencang. Sampai setibanya di jalan yang mulai ramai, Alif sedikit dapat mendekat dengan mobil ini.


"REYYY, MOTORNYA DIBELAKANG KITA!" teriak Dini panik, saat terasa sabetan pedang mengenai mobil belakang.


Tapi Rey tak menyerah begitu saja, langsung mengecoh dengan membelokkan cepat ke arah kanan. Ketika ada cabang jalan di depan.


'BRRAAAAAAKKKKK.....'


Suara hantaman keras terdengar di belakang. Tak terlihat lagi kendaraan yang dari tadi mengikuti. Tapi Rey tetap meneruskan perjalanan, karena tak mau mengambil resiko kalau ternyata tiba-tiba Alif muncul lagi.


Semakin jauh, tak lagi nampak sepeda motor Alif tadi. Kami mengira-ngira, kalau suara dentuman tadi dihasilkan oleh Alif yang mengalami kecelakaan.


"Apa kita perlu balik ke belakang?" tanya kak Azzam menatap Dini.


"Tak usah. Aku takut kalau misalkan Alif masih mengejar kita. Aku takut... Huhuhuuu.....," tangis Dini.


"Sudah, sebaiknya tenangkan pikiranmu dulu. Kita ke kafe aja gimana, Rey? Tapi lewat jalur lain ya," pinta Yumna.


"Iya," jawab Rey singkat.


Mobil berputar kembali ke kafe, tapi tak melalui jalan yang sudah kami lewati sebelumnya. Meski lebih jauh, tapi kami tak mau mengambil resiko demi keselamatan bersama.


Sesampainya di kafe, Dini meminta maaf kepada kami semua. Masih dengan menangis sesenggukkan, membuat kami hanya menunggu dia bisa menenangkan dirinya.


"Sebaiknya makan dan minum dulu ya. Biar kamu tenang!" kata Yumna memanggil pelayan kafe, milik kekasihnya.

__ADS_1


"Terima kasih banyak. Aku bingung harus cerita dari mana? Yang jelas, ini semua salahku. Huhuhuuu....," tangisnya kembali membuat kita kembali menunggunya.


"Megan, gimana keadaan Megan dan keluarganya?" tanyaku baru mengingat kalau Alif membawa senjata tajam dari sana.


__ADS_2