Mata Kedua

Mata Kedua
Menikahi Mayat


__ADS_3

"Maaf ya. Saya cuma bicara apa adanya kok. Kalian sekolah dimana?" tanya lelaki itu mencoba mengakrabkan diri.


"Di sekolah yang tak jauh dari tempat ini. Cari aja sendiri," sahut kak Azzam sedikit sewot mendahului jawabanku.


"Waduh, daerah sini banyak kampus dan sekolahan. Masa iya harus datangi masing-masing tempat itu kalau mau berteman sama kalian."


"Ini kartu namaku. Kalau ada yang perlu, kamu bisa hubungi di nomor itu," kata kak Azzam menyerahkan secarik kertas dari dalam dompetnya.


"Oh, oke. Kalau begitu, silahkan nikmati makanan kalian. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menjadi teman ngobrolku di sini," katanya membuka telapak tangan kanannya, sebagai tanda mempersilahkan pada makanan yang sudah kami pesan.


"Kakak bukan asli negara ini?" tanyaku masih belum puas mengorek informasi.


"Asli kok, kenapa?"


"Enggak apa-apa. Soalnya sedikit mirip sama warga negara dari negeri tirai bambu sana. Kulit putih, mata sipit, rambut hitam lurus," jelasku pada fisik lelaki yang memperkenalkan diri bernama Azril tadi.


"Iya, aku memang ada keturunan dari sana. Keturunan dari mamaku meski nenek moyangku sudah lama menetap di negara ini. Tapi kalau papa asli orang sini."


"Oh gitu," kataku bingung untuk memulai tanya tentang sosok wanita itu.


"Kenapa sih? Sepertinya masih ada sesuatu yang kamu pikirkan?" tanyanya menatapku heran.


"Apa kakak pernah merasa ada yang mengikuti? Atau ada yang mengganggu hidup kakak selama ini?" ucapku lirih, sambil melirik wanita di belakang Azril.


"Apa kamu bisa melihatnya?" tanya kak Azril.


"Kakak tahu kalau diikuti?"


"Iya, dia istriku. Lebih tepatnya, istri yang menikah denganku setelah menjadi mayat," jawabnya sambil berbisik agar tak ada yang mendengar selain kita.


"Maksudnya?" tanyaku saling menatap bingung bersama dengan kak Azzam.


Kak Azril menarik kursinya, untuk lebih mendekat pada meja kami. Bersama dengan itu, sosok di belakangnya ikut melayang mendekati.


"Kalian bisa melihat sosoknya?" tanyanya lagi.


"Dia terus ikuti kakak dari tadi. Memang kakak bisa lihat dia juga?" kataku masih melirik sosok itu.


"Aku tak dapat melihatnya. Tapi bisa merasakan kehadirannya. Selain itu juga, setiap bertemu dengan orang yang memiliki mata kedua, selalu bilang seperti itu."


"Bagaimana ceritanya, kakak bisa menikahinya? Kakak sudah kenal sebelumnya?"

__ADS_1


"Namanya Memey. Hehhh.... Saat masih hidup, dia adalah kekasihku. Kami sama-sama jatuh cinta, tapi tak direstui oleh orang tuanya," kata Azril muali cerita.


"Kenapa tak direstui?" tanyaku mulai ingin tahu.


"Karena aku berasal dari keluarga sederhana, dan sudah tak punya keluarga. Orang tuaku meninggal beberapa tahun yang lalu, karena kecelakaan bersama. Sedangkan dia terlahir dari keluarga kaya."


"Lalu?"


"Dia mengajakku kawin lari saja. Sama seperti yang pernah dilakukan oleh kedua orang tuaku dulu. Tapi aku tak mau ambil resikonya, karena aku sudah pernah merasakan cemoohan banyak orang akibat perilaku itu. Akhirnya ku putuskan hubungan kita saja, agar aku bisa lebih fokus untuk mencari kerja."


"Hehh.... Berat!" tanggapanku.


"Iya. Memang berat menjalani hidup seperti itu, karena aku sangat mencintai dia. Tapi aku tak ingin merusak hubungan keluarganya, sama seperti keluarga besar kedua orang tuaku, yang aku sendiri tak tahu keberadaannya."


Kak Azril kembali menghela nafas panjang lagi sambil menunduk memperhatikan meja kami.


"Aku pergi jauh merantau ke kota ini, berusaha melupakan impian untuk menikahi dia suatu saat nanti. Tapi....," jelasnya terpotong, sambil menghembuskan nafas keras sekali.


"Tapi apa?"


"Tapi beberapa bulan yang lalu, aku diminta datang ke rumahnya lagi. Padahal aku masih belum mendapat pekerjaan, ditambah kegiatan menulis novel juga belum ada yang menarik perhatian penerbit sama sekali."


"Iya, aku nekat saja. Aku sudah menyiapkan mentalku untuk dihina, seperti sebelumnya," ekspresi lelaki itu sedih sekali.


"Apa yang kakak lakukan sampai keluarganya bersikeras meminta kakak datang ke sana? Duh, ikut deg-degan jadinya," kataku sambil membayangkan kejadiannya ada di depan mata.


"Aku merasa tak pernah melakukan apapun pada Memey. Hanya mencintai dia setulus hati saja."


"Orang tua Memey rela membayari tiket perjalanannku juga. Sebenarnya ada rasa heran, makanya aku ikuti saja kemauan mereka," lanjutnya.


"Setelah sampai sana, bagaimana?" tanya kak Azzam mulai ikut penasaran.


"Aku sudah dihadapkan pada kenyataan, bahwa Memey sudah mengakhiri hidupnya sendiri dengan menggantung tali pada lehernya di kamar."


Kak Azril nampak melepaskan beban dengan terus menghela nafas panjang. Kemudian kembali melanjutkan ceritanya setelah terlihat sedikit tenang.


" Memey menulis surat perpisahan. Intinya, dia hanya ingin menikah denganku saja. Tak mau dijodohkan oleh orang tuanya."


"Lha trus, Memey sudah meninggal? Kok tetap dinikahkan? Kenapa kakak mau juga?" tanyaku lagi.


"Satu-satu kalau tanya itu. Dia jadi bingung kan!" celetuk kak Azzam.

__ADS_1


"Hahahaa.... Gak kok. Jadi orang tua Memey meminta aku tetap menikahi anaknya, supaya dia tenang dan tak lagi mengganggu keluarganya."


"Mereka diganggu?"


"Iya. Setelah kematiannya, dia terus saja meneror orang di sekitar tempat tinggalnya, termasuk kedua orang tuanya."


Saat kak Azril cerita seperti itu, langsung ku lihat wajah Memey yang mulai menyeringai. Nampak tak bersahabat, dan kejahilan yang terlihat.


" Kakak mau? "


" Mereka terus mendesakku. Dan meminta pertanggung jawabanku yang membuat anaknya nekat seperti itu. Mereka juga berjanji akan memberikan modal untukku, agar bisa membuka usaha baru."


"Lhah kok kakak masih cari kerja sekarang?"


"Yahh... Sampai sekarang belum ada kejelasan, sampai kapan modal itu diberikan. Meskipun aku terlanjur menyetujui untuk menikahi mayat anak mereka tempo hari."


"Kakak tidak menagihnya lagi?"


"Biarkan saja. Toh setelah aku menikah dengan mayat Memey, rasanya seperti ada ide-ide baru yang keluar di kepala. Novelku lumayan laris juga."


Saat percakapan itu, Memey menunjukkan rasa bangganya. Dan mengatakan sesuatu yang tak bisa kami cerna artinya.


" Dia juga harus membayarnya, " kata Memey dengan senyum tak sedap dipandang mata, saat ulat-ulat mirip belatung kecil mulai keluar dari kelopak matanya.


"Apa kakak merasa Memey yang membantu memberikan ide itu?" tanyaku selanjutnya.


"Mungkin juga. Solanya saat menulis, kadang aku seperti tak terlalu bisa mengendalikan diri. Rasanya seperti mimpi."


"Tapi setelah ku baca lagi, hasilnya bagus sekali. Memang Memey dulunya seorang penulis yang sudah punya nama. Lalu aku mulai tertarik kepenulisan, karena ajakannya juga," jelas kak Azril.


"Oh, oke. Lalu apa yang kakak rasakan setelah itu? Sepertinya kakak terlihat kurus sekali, apa karena keasikan menulis jadi lupa makan nasi?" godaku mencairkan suasana, sekaligus mencari informasi lainnya.


"Aku sendiri juga heran. Padahal sebulan yang lalu, aku masih terbilang cukup ideal. Makan juga tak pernah telat sama sekali."


"Oh ya?" heranku sambil memikirkan sesuatu.


"Malah bisa dibilang porsi makanku lebih banyak dari pada sebelumnya. Soalnya sebelumnya sering sengaja menahan lapar saat tak ada uang. Tapi gak tahu kenapa, kalau sekarang setiap hari berat badan rasanya turun lebih dari satu kilo ini," kata kak Azril menunjukkan lengannya yang menggelambir karena kehilangan beberapa berat lemak yang mengisi kulit itu.


" Berarti sekarang kakak sudah tak menahan lapar lagi ya, karena sudah cukup laris novelnya. "


" Ya disyukuri saja. Dalam sebulan setelah menikah, bahkan aku sudah punya rumah meski tak megah. Dapat menang dari setiap lomba menulis yang ku ikuti setiap ada event."

__ADS_1


__ADS_2