Mata Kedua

Mata Kedua
Cerita Sebenarnya


__ADS_3

"Pelan-pelan ngomongnya. Maksudnya ibu yang melahirkan Bian? Dimana dia?" tanyaku memegang pundak Rima.


"Iii... Iiya...., dia datang lagi!"


"Bukannya kata kamu, dia sudah tenang menuju alam selanjutnya. Kenapa sekarang mengganggu ke sini lagi?" tanyaku meminta kejelasan yang sebenarnya.


"Entahlah, mungkin dia mencari anaknya," jawab Rima seperti sedang menyembunyikan sebuah fakta.


"Sebaiknya kamu minum dulu, lalu ceritakan yang sebenarnya padaku!" pintaku merangkul pundaknya, kemudian berjalan bersama masuk ke dalam rumah ini lewat pintu belakang.


Sesampainya di dapur, Rima langsung menyalakan lampu di ruangan ini. Tapi ternyata tak bisa nyala sama sekali. Meskipun sudah dia coba berulang kali.


" Bismillahirrohmanirrohim.....," kataku ikut membantu menyalakannya.


Lampu menyala terang. Tak ada kesulitan sama sekali, saat aku menekan saklar lampunya. Aku rasa ini memang ada kerjaan dari jin iseng, yang mengganggu Rima sedari tadi.


"Alhamdulillah, nyala!" syukurku menatap wajah Rima dalam ruangan yang mulai terang.


Wajah kusut, serta kantung matanya terlihat lebih hitam dari saat kita ketemu seminggu yang lalu. Sepertinya dia mengalami kesulitan tidur karena memikirkan atau diganggu sesuatu.


"Sebentar, saya minum dulu ya. Haus banget setelah lari-larian tadi," katanya sambil menuangkan air dari dispenser ke dalam gelas kaca.


Sekali tegukan, air satu gelas penuh langsung dihabiskan.


"Kamu kenapa?" tanyaku lagi.


"Kita duduk dulu di sini. Sambil menunggu terang nanti, buat lanjut cari Bian keluar rumah ini," sahutnya tanpa menjawab pertanyaanku.


"Rima, kalau kamu percaya aku bisa membantu, ceritakan semua kejadian yang menimpa keluarga ini, termasuk tentang kamu. Tanpa ada yang ditutupi," kataku mencoba mengorek informasi.


"Hik....maaf... Maafkan saya.... Saya yang salah!" tangisnya mulai mengalir.


"Kenapa malah menangis? Berarti kamu memang salah!" tuduhku.


"Dia sengaja melakukannya!"


Sebuah suara terdengar di sekitar kita. Suara seorang wanita, tanpa menunjukkan wujudnya. Membuat Rima tak sengaja langsung melempar gelas kaca yang dipegangnya.


"Astaghfirullah, kamu kenapa?" tanyaku pada Rima yang langsung menempel bergelayutan di lengan kananku.


"Maaf! Maafkan saya!" sesal Rima menutup mukanya.


"Sini, sebaiknya kamu duduk. Ceritakan semuanya, sebelum kita mencari Bian nanti. Kamu sayang sama Bian kan?" tanyaku berusaha membujuknya lagi.


"Iya, saya sangat menyayangi Bian. Saya sudah anggap dia seperti anak kandung saya sendiri. Tapi....," jawabnya terpotong.


"Tapi?"


"Tapi ayahnya terlalu jahat, tak pernah menganggap saya ada!" katanya mulai emosi.


"Maksudnya apa?"

__ADS_1


"Ayah Bian, tak pernah tertarik pada saya. Padahal saya selalu ada untuk keluarganya dari dia masih muda."


"Sebentar. Maksud kamu?"


"Saya suka sama ayah Bian sejak lama!"


"Ehmm..... Apa kamu sengaja membuat ibu Bian celaka? Demi mendapatkan hati ayah Bian? Tolong katakan kalau tebakanku ini tak benar!" kataku sedikit memundurkan badan, sedikit tak percaya pada tebakanku barusan.


"Iya, kamu benar!"


"Hahhh......? Kenapa?" tanyaku lagi sambil menutup mulut, merasa ini sangat tak masuk akal olehku.


"Memang saya yang sengaja memanggil dukun beranak itu. Padahal ibu Bian sudah meminta pada saya untuk dibawa ke rumah sakit saja," ceritanya sambil meneteskan air mata tak jelas, antara sedih bercampur kecewa.


"Apa kamu juga sebenarnya sudah tahu, kalau dukun itu sebelumnya memang sering mengambil bayi tak berdosa? Untuk dijadikan tumbal olehnya?"


"Iya, saya tahu!"


"Kenapa kau lakukan semua itu? Tega sekali kamu!"


"Salah sendiri ayah Bian tak pernah melirik pada saya. Saya sudah mengabdi ke keluarganya saat masih remaja. Saat dia belum mengenal Della, ibunya Bian dan Dian."


"Oke, terus?" tanyaku memancingnya lagi.


"Saya sudah berusaha menarik perhatiannya. Tapi ternyata dia cuma memganggap saya sebagai pembantu saja. Tak lebih dari itu. Malah akhirnya menikah dengan Della, dan menjadikan saya pembantu di rumah mereka."


"Lalu apa saja yang kau lakukan pada Della? Ku rasa, sebelum melahirkan pasti ada lagi yang kau lakukan untuk mencelakainya!"


"Bagaimana caramu mencegah kehamilan Della?"


"Saya ke dukun sakti. Tapi ternyata saya sendiri yang rugi."


"Rugi kenapa?"


"Dukun itu meminta syarat, yang tak sanggup saya berikan lagi padanya."


"Apa itu?"


"Salah satunya saya harus mau tidur dengannya sewaktu-waktu dia menginginkannya."


"Kamu mau?"


"Jelas! Demi mendapatkan ayah Bian, saya rela melepaskan mahkota yang sudah saya jaga sebelumnya. Tapi lama-lama, dukun tua itu terus saja memintanya pada saya, tanpa mengenal waktu. Membuat saya sering berbohong untuk menyelinap keluar rumah untuk melayaninya."


"Kenapa terus meminta? Dan apa yang terjadi kalau kamu menolaknya?"


"Setelah dua tahun saya menjalani itu, saya merasa dimanfaatkan olehnya. Saya memutuskan untuk mengakhiri perjanjiannya saja."


"Bagus, terus?" kataku menganggukkan kepala.


"Tapi setelah itu, Della langsung hamil kembar. Membuat keluarga besar ayah Bian senang. Dan tak lagi meminta mereka berpisah karena kabar kehamilan Della."

__ADS_1


"Saya sudah coba berulang kali untuk membuatnya keguguran. Tapi janin itu terlalu kuat di rahimnya meski Della sempat terpeleset beberapa kali," lanjutnya.


"Hehhhh...... Yang kamu lakukan itu jahat! Kamu sadar tidak?"


"Iya, aku tahu. Tapi itu semua demi mendapatkan ayahnya Bian. Meski ternyata cintaku tak terbalaskan olehnya," sesal Rima.


"Tapi cinta tak bisa dipaksakan. Ayahnya Bian terlalu cinta sama Della. Harusnya kamu bisa melepasnya, dan membiarkan mereka bahagia," kataku menepuk pundaknya.


"Sayangnya itu semua sudah sangat terlambat. Karena nyawa Della dan anak gadisnya telah menjadi korbannya," lanjutku.


"Hik..... Kamu memang jahat sekali!" suara lirih sosok yang berjongkok, menangis di kegelapan pojok ruangan ini.


"Kamu Della?" tanya Rima mencermati sosok yang bisa kita lihat bersama.


Sosok itu hanya mengangguk, tanpa terlihat jelas wajahnya karena tertutup oleh rambut panjang yang menjuntai di depan muka.


"PERGI! KEMBALI KE ALAMMU!" teriak Rima mulai tak jelas tingkahnya.


Rima berlari menuju kamar yang letaknya tak jauh dari ruangan dapur ini. Kemudian keluar lagi sambil menunjukkan sebuah kalung berliontin sepasang merpati.


"Kembalikan kalung itu! Kembalikan pada suamiku, supaya dia tetap mengingatku!" kata Della yang semula hendak menyerangnya, mundur seketika.


"Kalau kau berani mengejarku lagi, akan aku hancurkan kalung ini!" ancam Rima.


"Kamu kenapa tega berbuat seperti itu?" tamtaku pada Rima.


"Karena kamu tak tahu rasanya mencintai tanoa dicintai, makanya kamu tak mengerti apa yang aku rasa selama ini!"


Rima menarik tanganku, membawaku untuk kembali duduk di sebuah kursi kayu.


"Diam di sini, karena aku tak segan akan melenyapkan nyawamu juga," ancam Rima langsung menyahut sebilah pisau, yang dia ambil dari atas tempat buah yang tersaji di meja.


"Maksudnya apa ini?" tanyaku berusaha melunakkan Rima yang masih mengacungkan pisau itu di dekat pipiku.


"Diam saja!" sahutnya tak banyak bicara, hanya sibuk, mencari sesuatu di laci-laci nakas sebelah tempat dudukku dengan tangan kirinya yang memegang kalung Della.


"Ini dia!" katanya mengacungkan kunci sebuah kendaraan.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan sekarang?"


Tanpa banyak basa basi lagi, Rima menuntunku berjalan, masih dengan pisau di tangan. Menuju ke garasi rumah ini, hendak mengambil kendaraan yang terparkir rapi.


"Mau kemana? Cari Bian?" tanyaku.


"Tak usah banyak tanya lagi. Saya sudah cukup muak dengan semua ini. Saya sudah tak peduli dengan cinta ayah Bian lagi. Saya hanya ingin mencari Bian, dan membawanya pergi dari semua ini."


"Mau cari kemana?" tanyaku membuat dia mulai menghentikan langkahnya.


"HEIII.... DELLA! DIMANA KAU SEMBUNYIKAN BIAN? AKU SUDAH MENGURUNGMU DI RUMAH LAMA, KENAPA KAU BISA KABUR SAMPAI KE SINI JUGA?" teriak Rima menggelegar di udara.


"Bian ada di tempat yang benar. Jangan lagi kau ganggu dia. Pergilah jauh dari tempat suamiku juga," kata Della.

__ADS_1


"Kau sembunyikan dimana anak itu?" tanyanya lagi, saat belum terdengar jawaban yang pasti.


__ADS_2