Mata Kedua

Mata Kedua
Ke Rumah Melati


__ADS_3

"Ini rumah Melati? Kok sepi?" ucap Yumna ketika mobil sudah sampai di halaman.


"Mungkin tadi sudah dimakamkan. Kita masuk saja yuk!" ajakku melangkah mendahului semuanya.


Hanya ada beberapa mahasiswa, yang datang dan pergi silih berganti. Para tetangga juga tak ada lagi yang membantu di sini.


"Assalamu'alaikum," salamku sesampainya di teras rumah yang masih beralaskan tanah.


"Wa'alaikumsalam," jawab orang yang tak terlalu banyak duduk di kursi rumah ini.


"Melati.... Sabar ya!" ucap Yumna mewakili kami, setelah kami duduk di dekatnya.


Melati hanya diam di pojok ruangan. Mata sembab, diiringi tetesan air mata, tapi dengan pandangan kosong, meskipun kita sudah ada di sekitarnya.


"Melati.... Ikhlaskan ibumu! Semua sudah takdir," kata seorang wanita tua, satu-satunya yang tak ku kenal di sini.


"Nek.... Apa itu berarti ibu yang melakukan pencurian? Lalu dimana perhiasannya disimpan? Tunggakan biaya kuliah Melati juga masih belum dibayar. Berarti ibu bukan pelakunya. Kenapa ibu menerima akibatnya?" celoteh Melati mulai bisa menangis lagi.


"Biarkan dia menangis dulu. Yang penting tidak bengong seperti tadi," ucap wanita di sebelah Melati.


"Oh iya, saya tetangga dekat Melati. Rumah saya di sebelah sini. Tapi saya sudah menganggapnya seperti cucu sendiri. Dari dulu saya dan suami tak mendapatkan keturunan, sampai suami saya berpulang," jelas nenek itu seperti menjawab pertanyaanku.


"Saya Aish, teman kampus Melati. Dan ini Yumna, Rey, dan kak Azzam," tunjukku memperkenalkan diri.


"Maaf, Nek. Apa jenazahnya sudah dimakamkan?" tanya kak Azzam celingukan.


"Sudah tadi. Setelah itu para tetangga langsung pulang, dan tak ada lagi yang membantu di sini. Cuma teman kampus Melati yang datang sebentar, lalu pulang lagi setelah tahu Melati tak bisa diajak komunikasi."


"Melati, aku tahu kalau ini berat untukmu. Aku juga pernah merasakan ketika ditinggalkan oleh satu-satunya orang yang aku sayang. Tapi kamu masih lebih beruntung, karena ada nenek yang menyayangimu," kata Yumna memeluk Melati sambil meneteskan air mata.

__ADS_1


Aku yang melihat keduanya saling menguatkan, ikut menangis juga. Sampai Melati mulai bisa diajak bercerita.


" Tadi malam, ibu sempat tak pulang seperti biasanya. Setelah ku tunggu lama di depan teras, belum juga nampak sosoknya. Tapi saat hendak aku mencarinya ke luar, ku ambil kunci dulu di kamar. Ternyata ibu sudah tertidur lelap di atas ranjang."


"Kamu tak melihat ibumu pulang?" tanya Yumna.


"Itu dia yang membuatku heran. Aku sudah di depan pintu terus, kenapa tak tahu kalau ibu sudah datang? Ku pikir mungkin lewat jalan belakang, meski sebenarnya tak pernah dilakukan karena tak ada lampu sebagai penerangan."


"Selain itu, posisi tidur ibu di tengah kasur kami. Jadi aku terpaksa tidur di kursi ruangan ini, agar tak menggangu ibu yang sepertinya lelah sekali," lanjutnya bercerita masih terus meneteskan air mata.


"Jadi kamu tak tahu, ibumu meninggal jam berapa?" tanya nenek yang baru bisa mengajaknya berkomunikasi.


"Sekitar jam dua pagi, aku sempat terbangun karena kehausan. Saat lewat kamar, sempat terlihat ibu memakai mukena atau kain yang berwarna putih sedang berdiri diam. Ku kira ibu sedang sholat. Tapi saat jam lima aku hendak membangunkannya, posisi tidurnya masih sama seperti sebelumnya. Tangan di depan dada, dengan kaki menutup rapat."


" Lalu ibumu masih bisa bangun saat itu? " tanya nenek lagi.


" Oh, jadi pak Rozak yang memberitahu kalau ibumu sudah tiada?" tanya nenek.


"Iya. Yang beliau lihat, ibu sudah seperti dengan hantu bungkus. Padahal aku cuma melihatnya masih seperti ibu yang terbaring tanpa bernafas. Karena memang belum dikafani."


"Sabar ya, Melati. Doakan ibumu tenang di sisi-Nya," kataku mengelus pundaknya.


"Apa nanti akan diadakan doa bersama?" tanya kak Azzam mulai mengeluarkan suara.


"Tadi bu Jamal bilang kalau akan diadakan di rumahnya saja. Tapi saya tidak tahu, apakah warga mau mengikutinya. Karena mereka tadi langsung bersikap tak suka kepada Melati dan juga ibunya," jelas nenek menatap kasihan pada nasib Melati.


"Melati...... Kamu yang kuat ya, Nak!" ucap seorang wanita paruh baya baru saja masuk ke ruangan ini.


"Bu Jamal, maafkan ibu kalau memang ada kesalahan darinya. Saya benar-benar tak tahu apa-apa, huhuhuuu.....," tangis Melati mendekat dan hendak bersujud pada wanita yang baru saja tiba.

__ADS_1


Untungnya sudah tak ada mahasiswa di sini selain kami. Hanya tinggal ada bu Jamal, nenek, Melati, dan kami berempat yang duduk di ruangan ini.


" Melati, maafkan ibu juga kalau warga jadi bersikap seperti tadi. Ibu sebenarnya juga tak ingin semua ini terjadi. Tapi ibu bisa apa? Kalau pak Jamal sudah punya keinginan, ibu tak berani mencegahnya. Kamu tahu sendiri kan sifatnya?" ucap bu Jamal langsung mengangkat tubuh Melati untuk dipeluknya, ikut menangis juga.


Tangis sedih bercampur haru menyelimuti ruangan ini. Tapi kami sedikit lega, karena bu Jamal siap membuat acara untuk mendoakan ibu Melati. Dan berusaha menghimbau warga, agar mau mendoakan dan memaafkan, apabila ada kesalahan yang pernah beliau lakukan. Karena bu Jamal dan keluarga, sudah menerima dan mengikhlaskan hilangnya perhiasan warisan keluarga.


" Maaf Aish, Yumna, dan semuanya. Kalian jadi ikut repot dalam masalah kami," ucap Melati.


"Tidak apa-apa. Kita turut berduka cita atas semua yang menimpamu dan keluarga," jawabku mewakili.


"Melati, lalu setelah ini apa rencanamu? Apa kamu masih akan melanjutkan kuliah? Atau bagaimana?" tanya bu Jamal.


"Ehmm.... Saya sendiri juga belum tahu, Bu. Yumna, apa penawaranmu kemarin masih berlaku?" tanya Melati menatap Yumna.


"Iya, kami masih membutuhkan karyawan part time kalau kamu mau," sahut Rey tanpa ditanya.


"Huhuhuuu..... Ternyata masih ada orang-orang baik di sekitarku."


"Kalau kamu mau pindah ke tempat yang lebih dekat dengan kampus maupun kafe, aku siap mencarikannya untukmu," kata Yumna mengusulkan.


"Sepertinya aku memang harus pindah dari sini. Meskipun sudah dihimbau untuk ridak membenci keluarga kami, tapi aku tak bisa menjamin tatapan tetangga akan kembali baik seperti dulu," ucap Melati menunduk sedih.


"Ya sudah, nanti biar kami yang mencarikan!" janji Yumna.


"Nenek sudah tak punya siapa-siapa. Sekarang kamu malah pergi meninggalkan desa. Tolong pikirkan baik-baik keputusanmu itu, Melati!" kata nenek ikut meneteskan air mata.


"Bagaimana kalau nenek ikut Melati pindah saja. Kita akan tinggal bersama, supaya melati juga masih merasa ada nenek yang masih menyayangi Melati," ajak Melati membuat mereka berdua saling berpelukan dalam haru dan duka.


"Ya sudah kalau begitu, kami pamit dulu. Sudah mau sore, Rey mau mengecek renovasi kafe," kata Yumna memulai pamit pada semuanya.

__ADS_1


__ADS_2