Mata Kedua

Mata Kedua
Misteri Suara Tangisan


__ADS_3

Selesai sarapan, kak Azzam membawaku ke salon kecantikan. Katanya aku harus melakukan perawatan, agar masih terlihat segar kalau ayah dan bunda datang menjengukku.


Supaya tak malu, kalau dianggap tak bisa menjaga dan merawatku di sini. Saat aku berada di tempat yang jauh dari keluarga kami.


"Kakak tahu aja, kalau aku butuh segarkan pikiran. Lumayan enak nih pijatannya," sahutku saat perawatan dimulai dari creambath dahulu.


"Ya tahulah, katanya sehati. Pasti apa yang kamu rasakan, bisa nyambung langsung ke pikiran," tunjuk kak Azzam di kepalanya, sambil duduk diam dan bersandar untuk melihatku direlaksasi sebentar.


"Bisa aja jawabnya," kata kakak yang memijitku ikut tertawa.


Ku nikmati pijatan ini, sampai tiba-tiba suara tangisan terdengar lirih dari arah pojok kanan. Dan baru saja mau ku tanyakan sama kak Azzam, ternyata dia sudah tertidur di sofa tunggu salon yang sudah disediakan.


" Mbak, denger ada orang nangis tidak?" tanyaku pada kakak yang memijit kepalaku.


"Enggak," ucapnya mulai gelisah.


"Kakak kenapa?"


"Eh, enggak apa-apa."


Aku merasa, seperti ada yang ditutupi oleh wanita ini.


"Hik... Hikk... Hiiiikk....."


Mulai terdengar lagi semakin kencang. Seperti dekat sekali dengan telingaku barusan.


"Eh, kenapa geleng, Dek? Maaf, jadi kena pipi ini krim rambutnya."


"Kakak yakin, tak mendengar suara tangisan? Suaranya menyayat hati sekali, seperti sedang dalam kesulitan," ucapku masih mencari sumbernya, tanpa memperdulikan kakak salon membersihkan krim dari mukaku.


"Apa adik tak takut kalau dengar yang begituan? Lagian ini juga masih siang, masak udah muncul lagi suaranya?" tanyanya balik.


"Insyaa Allah sudah biasa. Tapi kayaknya kasihan sekali, dimana dia kira-kira ya?"


"Eh, malah dicari. Kita aja kalau pas lagi dengar, rasanya pengen lari," jawabnya sambil bergidik ngeri.


"Berarti, kakak pernah dengar juga?"


"Sssttt.... Jangan keras-keras. Nanti yang punya salon bisa marah, kalau kami ada yang menceritakan itu pada pelanggan," katanya takut sambil celingukan mencari keberadaan bosnya.


"Oke, kita bisik-bisik saja. Apa kakak juga pernah mendengarnya?"


"Iya, dan arah suaranya dari tumpukan barang yang baru datang dua hari lalu," tunjuknya pada beberapa kotak yang tertata di sebelah kanan, pojok ruangan.


Suara itu masih terdengar jelas sekali. Memang kalau didengarkan lebih jelas, seperti berasal dari salah satu kotak yang tertata rapi di sana.


" Memang apa isinya? "


" Kalau kata teman saya yang order, itu cuma rambut wig saja. Tapi kok bisa gitu ya, padahal selama ini tak pernah ada kejadian aneh lo di sini."

__ADS_1


"Sudah pernah dicek isinya?" tanyaku lagi, sambil menikmati pijatan yang ada di kepala.


"Sudah, kemarin baru di buka. Setelah malam sebelumnya banyak dari kami yang mengeluhkan tangisan dari dalam kotak itu. Tapi isinya memang benar, sesuai pesanan," jawabnya sambil menunjuk hanya dengan dagu saja.


"Hai, Aish. Enak banget kayaknya dipijitin gitu!" suara seseorang yang datang dari belakang kami, membuyarkan obrolan tentang keanehan di salon ini.


"Eh, Nasha. Sama siapa?" tanyaku, saat melihat yang memanggil tadi adalah salah satu teman sekelasku di kampus.


"Sama calon suami. Tuh!" tunjuknya pada seorang laki-laki yang duduk di sebelah kak Azzam, sambil membaca koran.


"Oh, itu calon suami kamu? Kapan nikah?"


"Ini baru mau dilamar dulu. Rencananya besok sore acaranya. Kebetulan kita ketemu di sini, jadi sekalian aku ajak kamu juga ke rumahku besok sore. Bisa kan?"


"Kalau gak ketemu di sini, gak diundang dong?" gurauku.


"Sebenarnya acaranya hanya keluarga besar saja. Karena masih lamaran, belum pernikahan."


"Ya masak aku datang di acara keluarga kalian? Gak enak lah!"


"Nggak apa-apa. Ajak Yumna juga gak apa-apa. Biar kita lebih deket saja," ucap Nasha berharal aku mengiyakan ajakannya.


"Okelah, insyaa Allah. Akan aku usahakan. Kirim alamatmu ya nanti."


"Oke, beres! Oh iya, aku mau ketemu sama pemilik salonnya dulu. Mau ngobrol soal rias buat acara besok," katanya pamit menjauh dariku.


"Wah, jadi pengen ikut nyoba dipijit. Lain kali ya, Kak. Aish, have fun juga ya!" katanya sebelum pergi ke ruangan pemilik salon ini, dengan sedikit terburu-buru.


"Kak, bisa lanjutin cerita yang tadi?"


"Lain kali aja, Dek. Ngeri kalau diceritain, soalnya baru semalam ganti saya yang dikerjain."


"Dikerjain sama siapa?"


"Sama yang nangis itu."


"Oh ya? Gimana ceritanya?" tanyaku semakin penasaran saja.


"Haduh, dibilangi lain kali saja. Masih kebayang soalnya mukanya," kata kakak salon semakin bergidik ngerti.


"Pliisss.... Ceritakan ya. Biar gak penasaran sampai pulang. Ayo, Kak!" kataku setengah memaksa.


"Semalam, saya dengar suara tangisan. Setelah sebelumnya, hanya teman-temanku saja yang mendengarnya, tapi aku tak ikut dengar. Nah, karena sepertinya cuma aku sendiri yang tak percaya, makanya malah dikasih lihat wujudnya juga. Ihhh.... Ngeri."


"Seperti apa?"


"Wanita muda, ya mungkin masih seumuran kamu. Dia lagi di depan salon, pas aku mau menutupnya. Kirain cuma orang numpang berteduh saja, karena kebetulan memang lagi deres hujan semalam."


"Trus?"

__ADS_1


"Rambutnya panjang hitam, sampai nutupun mukanya dari arah samping. Eh, pas ku tanya, dia nengok, dan kelihatan lehernya yang teriris sampai berdarah-darah. Ihh...., " ceritanya sambil takut sendiri.


" Istighfar, Kak. Terus setelah kakak lihat, baru percaya? "


" Bukan lagi percaya, tapi gak mau ngomongin lagi soal dia sebenarnya. Karena masih ada trauma. "


" Semoga bisa segera terungkap, apa maksud dia mengganggu salon ini."


"Aamiin. Dah selesai, Dek. Kramas yuk!" ajaknya ke tempat cuci rambut, yang memutuskan cerita kami sementara ini. Tapi aku berjanji, akan ke sini lagi lain kali.


****


"Eh, Yumna!" teriakku saat baru sampai di parkiran rumah sakit, masih bersama kak Azzam yang bingung mencari tempat untuk memarkir kendaraan.


"Ya, kamu dah sampai?" tanyanya baru turun dari mobil, sedangkan Rey masih nampak sibuk menelepon seseorang sambil membukakan pintu untuk kekasihnya.


"Maaf, Kak. Aku samperin Yumna dulu ya. Kakak masih lama nggak cari tempat parkirnya?" tanyaku.


"Oh, iya. Sebaiknya memang kamu turun dan menghampiri dia. Ajak ngobrol Yumna, sepertinya dia lagi gundah gulana," sahut kak Azzam persis seperti yang aku pikirkan.


"Oke!" jawabku singkat.


Ku tinggalkan kak Azzam, untuk menghampiri Yumna yang nampak sedih sekali.


"Kamu tadi diajak kemana?" tanyaku merangkulnya, mencoba memberi kekuatan padanya.


Rasanya ingin sekali ku ceritakan lebih jauh tentang pengalamanku hari ini. Tapi, sepertinya wajah Yumna sedang tak senang saat ini. Jadi ku urungkan niat itu sementara waktu.


" Aku jalan-jalan," jawabnya singkat, masih dengan raut muramnya, sambil terus berjalan.


"Yumna, kamu kenapa? Apa ada yang kamu pikirkan?" tanyaku menghentikan langkah kami, menatap ke arah matanya lekat.


"Tempo hari, aku sudah merencanakan pulang kampung minggu depan. Ternyata, Rey malah baru buka pujasera. Aku tak tega kalau mengatakannya, untuk meminta cutiku saat kak Raisha masih trauma."


"Oh iya, maaf aku juga baru ingat. Nanti akan aku tanyakan sama Rey."


"Jangan. Biarlah, kalau memang aku masih diperlukan bekerja saat liburan tiba. Demi keselamatan orang lain juga, sebelum terlambat lagi."


"Oh. Baiklah kalau begitu. Kita cari cara lain saja, barangkali ada solusi dari kedua masalah yang sedang kamu hadapi."


Kami kembali melangkah menuju kamar kak Raisha. Sedangkan Rey dan kak Azzam, masih belum terlihat keluar dari parkiran.


"Assalamu'alaikum," kataku menyapa semuanya, setelah membuka ruang perawatan kak Raisha.


"Wa'alaikumsalam. Eh, ada kabar bagus nih. Saya sebentar lagi sudah boleh pulang. Jadi kita bisa kerja lagi minggu depan," sahut kak Raisha saat menyambut kedatangan kami.


"Alhamdulillah. Tapi apa kak Raisha yakin, kalau sudah baik-baik saja untuk kembali bekerja?"


"Yakin, sekarang saja sudah sehat. Lagi pula, saya juga ingin ikut mengawasi Tissa. Apa benar dia ada hubungannya dengan kejadian aneh di pujasera. Dan kalau memang dia orangnya, apa dia kenal juga dengan suami saya?"

__ADS_1


__ADS_2