
"Tapi dia benar-benar nyata, selalu membisikkan ke telinga. Dia selalu bilang tak akan melepaskanku, sebelum aku mengungkapkan kejadian yang sebenarnya. Aku takut, aku dilema," tangis Liza semakin menjadi.
"Oke, sekarang kita masuk kelas dulu. Nanti sepulang sekolah, aku antar kamu ke kantor polisi. Kita selesaikan bersama nanti."
"Tapi... Aku tak mau dipenjara. Aku takut kalau kekasihku dan teman-temannya dihukum juga. Mereka akan menyiksaku seperti yang dilakukannya pada Zya."
"Semua kesalahan pasti ada hukumannya. Kalaupun tak dihukum di dunia, pasti akhirat juga telah menyiapkannya. Jadi semoga dengan hukuman dunia ini, kekasihmu dan teman-temannya masih mempunyai waktu bertaubat sebelum masuk ke hukuman akhirat. Nanti polisi juga pasti akan melindungi keselamatanmu, sebelum mereka ditangkap."
"Baiklah, akan aku usahakan jujur ke kantor polisi. Tapi apa makhluk itu bisa pergi dan tak menggangguku lagi setelah ini terungkap?" tanya Liza sedikit terdengar lebih ikhlas melakukannya.
"Nanti akan aku bantu untuk berkomunikasi dengan Zya. Dia juga ingin tenang, tanpa meninggalkan masalah di dunia," jawabku tersenyum, untuk menenangkan hati Liza yang kacau.
"Terima kasih."
"Ayo ke kelas!"
Baru beberapa langkah menuju kelas, panggilan kak Azzam terdengar dari arah belakang.
"Sudah mau masuk? Tumben akrab sama Liza?" tanyanya dengan raut heran.
Memang aku dan Liza sangat jarang berbicara, karena dia selalu datang dan pergi dengan gerombolan lelaki yang menjemputnya seusai kelas setiap harinya. Jadi tak ada kesempatan dia untuk dekat dengan mahasiswa lainnya.
"Ada hal yang harus kami selesaikan nanti. Jadi kakak tak perlu mengantarku untuk pulang hari ini, soalnya aku mau pergi sebentar bersama Liza."
"Ada masalah?"
"Biasa, soal yang begituan."
"Ya sudah, hati-hati!" kata kak Azzam sudah paham tanpa harus ku jelaskan.
"Oh iya, nanti aku mau ajak anak-anak main game bareng aja di apartemen. Boleh kan? Mumpung besok lagi libur," tanya kak Azzam sambil nyengir, untuk meminta ijinku.
"Boleh aja, asal tahu waktu makan dan istirahat juga!"
"Iya, terima kasih ya!"
__ADS_1
"Untuk?"
"Untuk kepedulianmu sama aku," cengir kak Azzam lagi sambil menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal.
****
Pulang dari kampus, aku langsung menemani Liza. Ke kantor polisi untuk menceritakan kejadian yang dia alami.
Awalnya para polisi hanya menganggap kalau pernyataan Liza hanyalah gurauan saja. Atau cuma sekedar halusinasi oleh tekanan yang sedang dia hadapi. Jadi tak terlalu menanggapi.
"Pak, apa tidak sebaiknya dicek dulu ke belakang rumahnya? Memang benar-benar ada mayatnya atau tidak?" usulku membantu meyakinkan polisi, yang sudah beberapa kali berurusan denganku sebagai saksi di sini.
"Baiklah kalau begitu. Kita ke sana sekarang. Kita buktikan laporanmu, dan semoga itu memang benar agar tak membuang waktu kerja kami."
Akhirnya polisi itu setuju. Aku dan Liza ikut masuk ke dalam mobil dinas, dengan ditemani dua orang polisi yang duduk di depan kami.
Mobil mulai melaju , dengan sirine mobil yang menyala. Membuat para pengendara lainnya langsung menepi seketika saat kami melewati mereka.
Kurang lebih lima menit kemudian, kami tiba di depan sebuah berpagar hitam. Rumah yang sepi, hanya ada seorang asisten rumah tangga yang membukakan pintunya. Karena memang orang tua Liza sering keluar kota yang berbeda, demi pekerjaan mereka.
Liza langsung mengantar kedua polisi tersebut ke arah belakang. Sedangkan asisten rumah tangga tadi langsung masuk ke dalam, untuk menyiapkan jamuan.
"Memang ada jasad seorang wanita, tapi sepertinya sudah tak berbentuk wujudnya. Terlalu hancur wajahnya. Hanya pakaiannya yang menerangkan kalau dia perempuan," kata seorang polisi pada rekannya.
"Astaghfitullah," ucapku, saat bau anyir mulai menyeruak ke sekitar tempat kami.
Salah satu polisi yang menunggu temannya menggali, segera menghubungi rekan lainnya. Agar membantu menyelidiki tentang kasus yang sedang terjadi di depan mata.
Tak menunggu lama, banyak mobil polisi datang ke sini. Melakukan pemeriksaan lengkap di tempat ini.
"Sebaiknya kedua gadis ini langsung dimintai keterangan ke kantor polisi saja. Lalu jangan lupa memberi garis kuning, agar tak seorangpun mengganggu penyelidikan ini," perintah seorang polisi yang memimpin di sini.
"Siap, Pak!" jawab anggota polisi lainnya sambil meletakkan tangan kananmya di dahi sebagai tanda penghormatan.
"Laksanakan!"
__ADS_1
Seperti biasa, setiap ada kasus membuatku harus wara wiri untuk menjadi saksi. Tapi selama itu demi menegakkan keadilan, aku tak keberatan sama sekali.
Hari sudah menjelang petang. Aku diperbolehkan pulang, sedangkan Liza masih dimintai keterangan. Dia sama sekali tak keberatan kalau harus menginap di tempat ini, untuk melindungi dari para pelaku yang belum tertangkap hari ini.
"Yakin mau di sini? Apa mau nginap di rumah Yumna aja?" tawarku pada Liza.
"Yakin. Menurutku di sini lebih aman, soalnya aku tahu kalau kekasihku dan teman-temannya itu orang yang nekat. Aku tak ingin kalian ikut terlibat sebelum mereka ditangkap."
"Ya sudah, kalau gitu aku pamit pulang dulu. Semoga segera selesai masalahnya."
"Zya gimana?" tanya Liza mengingatkanku.
"Kalau soal dia, itu urusanku. Kamu tenang saja di sini, fokus memberi saksi. Sudah tak terdengar bisikannya lagi 'kan?" tanyaku menatao sosok Zya dari balik jendela ruangan ini, dengan wajah rusaknya yang mulai bisa menunjukkan senyuman ramahnya.
Ku balas senyuman itu, dan melangkahkan kaki keluar kantor ini. Ku tunggu ojek pesananku, agar menjemput di depan sini. Sambil berharap pelakunya bisa segera ditangkap hari ini.
****
"Alhamdulillah, sampai rumah juga. Tumben sudah malam tapi Yumna belum sampai rumah?" gumamku sambil membuka kunci pintu yang masih tertutup rapat.
Ku coba menghubungi Yumna, tapi belum ada jawaban juga.
"Mandi dulu sajalah, lengket banget rasanya! Asem lagi....," kataku mencium sendiri aroma tubuhku yang tak sedap.
Ku bersihkan badan ini. Mulai dari ujung rambut sampai kaki. Kemudian bergegas sholat Isya' saat adzan berkumandang tak jauh dari tempat ini.
Selesai ku panjatkan doa, ku lipat mukena dan mengembalikan ke tempatnya. Tapi hawa dingin mulai meremang di sekitar sini.
"Makan mie kuah kayaknya enak nih, mumpung hawanya lagi dingin sekali," gumamku langsung beranjak ke dapur, sambil menunggu Yumna menghubungiku nanti.
Aku merasa seperti ada yang sedang mengawasi setiap gerak gerikku sendiri. Tapi tak ku lihat sosoknya di sekitar sini.
"Ncuuuss......," panggilku saat kaki sudah menginjak dapur rumah ini.
Sepi, tak ada sahutan sama sekali. Ditambah hawa dingin dan aroma anyir di sekitar sini.
__ADS_1
"Zyaaa......," panggilku lagi.
Masih tak ada jawaban dan penampakan sosoknya. Tapi aku yakin sekali kalau ada aura negatif yang sedang mengitari tempat ini. Membuatku semakin waspada karena dia pasti bukan manusia, maupun sosok yang bersahabat juga.