Mata Kedua

Mata Kedua
Gangguan di Jalan


__ADS_3

Di dalam mobil Ronald yang sudah mulai dijalankan, dia nampak serius sekali. Sudah tak ada lagi candaan, bahkan godaan yang membuatku risih. Sepertinya dia benar-benar fokus saat ini.


"Apa kamu tahu sesuatu tentang kalung itu?" tanyaku membuka pembicaraan.


"Ya, aku sepertinya melihat kalung yang sama di spion depan mobil Roy tadi. Tapi tak kami sadari hal itu, karena hanya seperti hiasan mobil saja. Kami hanya fokus mencari bercak-bercak darah yang mungkin tertinggal."


"Tak ada bercak apapun di mobilnya?" tanyaku.


"Tak ada. Meski kami sudah menyemprotnya dengan cairan khusus, tetap tak kami temui bekas darah apapun. Ku kira dia telah mengganti bagian mobil yang sempat terciprat darah itu," kata Roy.


"Kenapa malah kalungnya dibiarkan sebagai hiasan kalau dia seteliti itu ya?" tanyaku.


"Mungkin dia memang teliti, tapi setiap kejahatan pasti akan terbongkar juga. Tinggal tunggu waktunya. Semoga dia masih di villanya," kata Ronald.


"Kita kembali ke villa?"


"Ya, karena di sanalah tempat tinggalnya saat ini, selama penyelidikan masih berlangsung hingga selesai nanti."


Ku hembuskan nafas kasar. Memikirkan perjalanan yang ku lalui hanya mondar mandir sekitar villa dan rumah sakit saja. Sampai sekelebat bayangan merah nampak mengikuti di sebelah kiri.


" Siapa itu ya? "gumamku.


" Kenapa? "


" Tak apa. Fokus saja menyetir jalanannya, " ucapku tak ingin mengganggu konsentrasinya.


Mobil masih terus melewati jalanan dengan pepohonan di kanan dan kiri. Sampai mulai terlihat lagi bayangan merah tadi, semakin jelas di kaca sebelah kiri.


" Astaghfirullah!! " ucapku sempat kaget dibuatnya.


Wanita dengan muka hancur, diam saja melihatku, sedang mengikuti mobil yang melaju ini.


"JANGAN IKUT CAMPUR!!"


Ucapan wanita itu seperti menggema di telinga, kemudian wujudnya hilang begitu saja.


"Aish.... Aish.... Hei, kamu tak apa?" tanya Ronald menggoyangkan lenganku entah sejak kapan.


"Eh.... Ii... Iiyaa!" jawabku masih mencari keberadaan sosok itu lagi.


"Kamu cari apa? Kamu kenapa?"

__ADS_1


Ronald masih bingung atas sikapku barusan. Menurutnya, aku hanya bengong saja sampai terdengar beristighfar sendiri. Berkali-kali Ronald memanggilku juga tak ada sahutan sama sekali. Sampai sempat membuatnya mengira, kalau aku tak sadarkan diri.


" Tidak apa-apa. Hati-hati saja, fokus ke jalanannya," kataku menunjuk ke depan.


Semakin malam, haw dingin semakin tak enak ku rasakan. Sampai tak terasa, jalan raya yang dari tadi ramai terasa sangat sepi sekali. Bahkan tak terlihat satupun kendaraan di sini.


" Aneh...., " kata Ronald mulai menyadari keganjilan di sekitar sini.


"Kenapa?"


"Kenapa jalannya dari tadi muter di sekitar sini saja ya? Sepertinya kita tak mencapai deretan villa setelah berkendara lumayan jauh," sahut Ronald.


Aku yang baru menyadari hal itu mulai celingukan juga. Memang sepanjang jalan yang kita lalui tiba-tiba hanya terdiri dari jalan lurus, dengan pepohonan di kanan dan kiri. Padahal seharusnya kita sudah melewati daerah sini dari tadi.


" Ada yang tak beres!" kataku sendiri.


"Apa maksudnya?"


"Berdoa saja, supaya kita bisa kembali ke jalan yang seharusnya!"


"Kok aneh ya? Kayaknya kita lagi kesasar. Kenapa peta GPS juga lagi muter gak ada sinyal dari tadi ya?" gumam Ronald sendiri, sambil memukul-mukul ponselnya sendiri, masih sambil menyetir di jalan tak berujung ini.


Aku mulai menejamkan mata. Membaca doa-doa yang ku bisa. Terus fokus memohon perlindungan pada Sang Pencipta.


Aku masih terus fokus membaca surat-surat dalam kitab suciku.


"Aish..... Kamu pingsan?" tanya Ronald lagi, tapi kali ini dia tak berani menggoyangkan lenganku.


Masih saja terus ku pejamkan mata, sambil berdoa. Sampai tiba-tiba ku dengar suara nenek tua, yang tak asing bagiku.


"Nduk..... Sebentar lagi kalian akan bertemu dengan warung. Berhentilah sejenak, tapi jangan pernah memakan apapun. Sapalah dengan ramah saja agar dia menunjukkan jalanmu," kata suara nenek itu.


Mulai ku buka mata, tapi keadaan masih nampak gelap gulita. Dan benar saja, tak jauh dari tempat kami melaju pelan, mulai terlihat satu titik penerangan di ujung jalan sana.


" Kita berhenti sebentar di warung itu. Tapi ingat, jangan pernah memakan apapun di sana!" peringatku.


"Kenapa?" tanya Ronald.


"Tak usah banyak bertanya, kita hanya numpang lewat buat menemukan jalan pulang saja."


"Oke!" katanya masih melajukan pelan mobil ini.

__ADS_1


Perlahan tapi penuh keyakinan, Ronald mulai menghentikan mobil tepat di depan sebuah warung remang. Satu-satunya bangunan yang terlihat di sepanjang mobil ini berjalan di antara pepohonan.


"Kita turun kan?" kata Ronald nampak yakin mendahului membuka pintu mobil.


Sebuah warung berdinding anyaman bambu, dengan penerangan dari lampu petromak menghiasi sekitarnya. Sekitar tiga orang pengunjung juga sedang menikmati makanannya, tanpa ada yang bicara.


Aku yang baru turun dari mobil, masih pelan mendekati warung tersebut. Untuk menanyakan arah kami agar bisa melanjutkan perjalanan yang seharusnya.


Baru saja mendekati warung itu, hawa tak enak sudah membuat bulu kuduk berdiri. Sekilas sempat ku lirik ketiga pengunjung, yang duduk saling terpisah di meja yang sedikit berjauhan.


Wajah mereka nampak sama. Dengan topi dan pakaian hitam, serta tongkat di sebelah kirinya. Membuatku curiga, kalau mereka memang bukan manusia.


"Cari apa, Dek?" tanya seorang wanita dengan pakaian putih seperti jaman dulu kala.


"Maaf, Kak. Saya cuma mau tanya jalan pulang," kataku belum sempat melanjutkan.


"Lurus saja, sampai nanti ketemu gapura pembatas desa. Jangan pernah berhenti sebelum menemukannya," katanya tersenyum ramah.


"Terima kasih, Kak. Kalau begitu saya permisi dulu," ucapku ikut tersenyum sambil melangkah hendak kembali ke mobil.


Tapi ku lihat, Ronald sempat mendekat dan memberikan sesuatu kepada gadis penjual tersebut. Kemudian berlari menyusulku.


Sambil melangkah pergi, sekilas masih ku amati ketiga pengunjung itu. Kali ini aku benar-benar yakin, kalau penampilan mereka persis sama tanpa ada bedanya sama sekali. Masih juga terlihat fokus pada sesuatu yang di santapnya malam ini. Tapi tak ku hiraukan saja, agar tak menimbulkan masalah si tempat ini.


"Apa yang kau berikan padanya?" tanyaku setelah kami sudah berada dalam mobil lagi.


"Bukan apa-apa. Kita tinggal mengikuti jalan ini, sampai menemukan gapura 'kan?" ulang Ronald menirukan petunjuk wanita tadi.


"Jangan macam-macan di sini, kalau tak ingin kesasar lebih jauh lagi," ancamku.


"Iya... Iya.... Kan tadi sudah dikasih tahu juga sama gadis pemilik warung. Lagian juga, berani benar dia buka warung di tengah jalan yang jauh dari rumah warga ya," oceh Ronal sambil mulai menjalankan mobilnya.


Tak ku tanggapi ucapannya. Agar dia bisa konsentrasi keluar dari alam yang bukan wilayah manusia. Tanpa ku beritahu padanya, supaya dia juga tak takut menghadapinya.


Jalan masih terlihat lurus saja, belum teelihat gapura meski rasanya sudah setengah jam berlalu menyusurinya.


"Mana gapuranya ya?" tanya Ronald.


"Sudah, ikuti saja jalannya. Tak usah banyak bertanya!"


Pepohonan yang rindang di kegelapan malam seperti menari terkena angin yang bertiup tak terlalu kencang. Menambah rasa yang seperti sedang diawasi di sekitar tempat kami melajukan kendaraan.

__ADS_1


"Hei, ku tanya lagi. Apa yang kau berikan pada gadis penjual tadi?" tanyaku mulai curiga, kalau perjalanan kita sedang tidak baik-baik saja.


"Oh, hanya sedikit uang. Untuk membayar roti yang ku bawa pulang!" katanya mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam sakunya.


__ADS_2