Mata Kedua

Mata Kedua
Terungkap Kebenaran part 1


__ADS_3

"Aneh, kok bisa polisi melarang untuk pemeriksaan lebih lengkap ya?" gumam kak Azzam.


"Sudah ku bilang 'kan? Ini ada permainan orang dalam. Yahhh... Anak kecil dijelasin pasti gak akan ngertilah," ledek Ronald sambil sekilas melirik kak Azzam.


"Ngomong apa kamu?" tanya kak Azzam hendak menantang berkelahi.


"Hehh.... Bocah ingusan, mau melawan? Sudahlah, lanjutkan saja apa yang dikatakan Aish tadi. Cari buktinya sebanyak mungkin, biar aku yang urus semuanya nanti!" perintah Ronald semakin membuat marah kak Azzam.


"Kamu....!" tunjuk kak Azzam.


Kak Azzam hendak berdiri dan sudah membuat ancang-ancang untuk pukulannya pada Ronald. Tapi secepat kilat, aku menarik bajunya agar dia tak jadi melayangkannya.


"Kak.... Sudahlah, tak usah ditanggapi. Dari pada bikin emosi. Kok bunda lama sekali ya?" tanyaku.


"Coba kalau tak ada Aish, sudah habis kamu!" tunjuk kak Azzam menggertak Ronald yang hanya tersenyum sambil tangannya bersedekap di depan dada.


"Kak....!" kataku lagi.


"Oke, ku anggap dia tak ada di sini. Tapi itu hanya demi menghargai permintaanmu saja."


"Ya sudah, tak usah diperpanjang masalah kalian," kata pak Adam ikut menenangkan.


"Selamat pagi, sudah datang sarapan hari ini," ucap seorang suster yang baru masuk ke ruangan ini.


"Pagi, Suster!"


"Lhoh, pak Adam jugs di sini? Masih belum jelas identitasnya?" tanya suster yang mungkin sudah tahu permasalahan kami, sambil meletakkan nampan di atas nakas kamar ini.


"Iya, ini lagi mencocokkan informasi yang mungkin baru kita dapatkan. Karena sudah saya sampaikan, kalau begitu saya pamit kerja kembali."


"Terima kasih, Pak. Nanti saya menyusul bapak ke kamar mayat, untuk mengambil foto lukanya," kata kak Azzam sudah mulai tenang.


Pak Adam mengangguk, kemudian mengucap salam. Keluar ruangan, menuju tempat yang biasa dia kerjakan.


"Eh, kemarin siang kayaknya Yumna bawa kue enak kan? Kalau kakak lapar, makan itu dulu saja," kataku menujuk tas kertas di atas nakas, untuk mengalihkan kemarahan kak Azzam kepada Ronald.

__ADS_1


"Iya, aku makan kue itu dulu saja. Ini bunda sama umi pasti mampir belanja kebutuhan kita. Biasa, wanita selalu lupa waktu kalau sudah masuk ke toserba," kata kak Azzam sambil membuka yang ku tunjuk sebelumnya.


Ku ambil juga mangkok bubur yang berisi bola daging berkuah, yang menjadi menu seperti pagi sebelumnya. Dan hampir membuatku bosan dibuatnya. Meskipun rasa kuah yang berbeda, tapi sebenarnya bahan utamanya sama saja.


****


Malam ini rasanya cepat sekali. Bulan purnama juga sudah datang lagi. Belum ada petunjuk tambahan yang berarti sebagai bukti, selain foto yang ditunjukkan kak Azzam tadi. Dan belum sempat ku cermati.


Hampir seharian, mataku selalu mengajak ke alam mimpi. Tapi tak ku ingat apa yang ku lalui. Mungkin terlalu lelah hari ini. Sampai tak tahu kalau Yumna dan Rey datang lagi sore tadi, membawakan buah untuk kami.


"Semua sudah tidur ya? Baru juga jam sebelas malam!" kataku mengambil ponsel kak Azzam, saat mata mulai sulit terpejam.


"Oh ini lukanya? Tadi sepertinya aku sempat dengar ucapan Ronald, kemungkinan ini akibat benda tumpul dari seseorang di belakang Lita," kataku sendiri, sambil ku amati foto dari ponsel kak Azzam, kemudian ku geser ke foto lainnya yang menunjukkan pohon tempat kejadian perkara.


"Lalu, apa maksud gadis itu menunjuk pohon ini ya?" gumamku sendiri, mulai memperbesar layar agar lebih jelas lagi.


Ku buka dan ku cermati lebih detail lagi setiap foto yang berhubungan dengan kasus Lita di galeri. Karena tadi siang aku hanya sekilas melihatnya, saat mata kemudian mengajak untuk ke pulau mimpi.


"Eh.....," ucapku lebih mencermati sebuah batu yang sedikit terlihat ada bercak merah.


"Huaaahhmmm......!"


Semakin lama ku lihat foto dan video yang diambil kak Azzam pagi tadi, semakin lelah mata ini. Tepat juga saat malam semakin larut sekali. Dan kembali ku pejamkan mata yang berat ini.


Baru saja ku tutup mata, aku seperti sedang berada dalam kelas yang belum pernah ku kunjungi sebelumnya. Aku duduk di salah satu bangkunya, dan memakai seragam yang sama dengan anak-anak lainnya.


"Apa ini?" tanyaku sambil melihat sekeliling, juga diriku.


Masih dalam kebingungan, tiba-tiba ada empat gadis muda mendekatiku. Mereka berkerumun, berdiri mengitari tempatku.


"Hei....cewek centil, tak usah kau dekati lagi Ryo!" tunjuk salah satu gadis di depanku.


"Kalau kau masih terus berusaha, akan ku gunting rambutmu yang katanya membuat para lelaki terpesona. Awas saja!" kata seorang gadis lainnya.


Rasanya aku ingin bertanya, apa maksudnya. Dan siapa dia? Tapi belum sempat bicara, suasana seperti langsung berpindah di sebuah kamar yang tak terlalu megah, tapi tetap rapi.

__ADS_1


Aku sedang duduk di atas ranjang, dan masih kebingungan. Tapi tiba-tiba sebuah ponsel di atas meja belajar berdering kencang.


"Apa lagi ini? Apa aku harus mengangkatnya?"


Ku ambil ponsel itu, dan menekan tombol hijau untuk mendengar sambungan seseorang yang aku sendiri mungkin tak kenal.


"Halooo.....," tanyaku.


"Lita, nanti tolong datang ke taman kota ya. Aku ada janji dengan seseorang. Tolong temani aku ya, aku takut. Tapi kita berangkat sendiri-sendiri saja dari rumah ke sananya," suara perempuan terdengar seperti sedih dan tertekan.


"Tapi......., apa yang terjadi?" tanyaku.


'Tu.. Tut.. Tut..'


Belum sempat ku tanyakan, sambungan sudah terputus begitu saja. Dan tiba-tiba, aku sudah berada di taman kota. Duduk terdiam di sebuah bangku taman.


Emosi sedih langsung datang, memikirkan apa yang dimaksud gadis yang memanggilku Lita di ponsel barusan.


"Lita? Eh, aku bawa ponsel tadi ya?" gumamku.


Ku buka kamera, dan mulai berkaca dari sana.


"Astaghfirullah.... Apa ini? Kenapa wajahku berubah jadi gadis tanpa identitas itu?"


Sejenak aku mulai khawatir, tapi terus menciba menenangkan diri. Rasanya seperti nyata sekali.


Tak sadar aku mulai termenung, bersamaan dengan datangnya murid yang sempat mengancamku tadi.


Mereka memojokkanku dengan berbagai tuduhan. Mulai dari menuduhku sebagai wanita penggoda, sampai akhirnya menyebut ayahlu sebagai orang yang durhaka. Tak tahu terima kasih karena keluarga salah satu gadis itu sudah memberikan pekerjaan padanya.


Emosiku naik saat ayahku sudah mulai di sebut oleh mereka. Disangkut pautkan dengan masalah yang tak pernah ku tahu sebelumnya. Sampai geregetan, ku dorong salah satu wanita yang sepertinya sebagai pelopornya.


"Dasar pembantu durhaka. Berani kamu melawanku ya?" kata gadis yang masih terduduk, mulai berdiri menghampiriku yang masih seorang diri.


Gadis itu manarikku di balik pohon besar, yang terletak tepat di sebelah bangku taman yang ku duduki tadi.

__ADS_1


"JANGAN PERNAH BERANI MENANTANGKU!"


__ADS_2